detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 18:21 WIB

Perang Tak Halangi Pemuda Suriah Wujudkan Mimpi Jadi Pemain Biola Sukses

ABC Australia - detikNews
Perang Tak Halangi Pemuda Suriah Wujudkan Mimpi Jadi Pemain Biola Sukses
Canberra -

Aboud Kaplo punya ikatan yang unik dengan biolanya. Setelah meninggalkan kampung halamannya di Suriah yang porak-poranda karena perang ke Australia, pemuda 16 tahun ini bermimpi jadi violin terkenal.

KeluargaAboudKaplo meninggalkan kota Aleppo, Suriah karena konflik yang memanas.

Ia belajar sendiri bermain biola dengan menonton video Youtube.

Setelah mendapat visa Australia tahun lalu, Aboud diterima di dua orkestra pemuda.

Setelah melarikan diri dari Suriah yang dilanda perang dengan keluarganya untuk mendapat kehidupan yang lebih aman dan lebih makmur di Australia, pemuda 16 tahun itu bermimpi suatu hari menjadi pemain biola terkenal.

"Saya ingin pergi sejauh yang saya bisa," kata Aboud.

"Impian saya adalah menjadi solois terkenal atau pemimpin konser terkenal, tetapi kita lihat saja seperti apa masa depan nanti."

"Biola adalah hidup saya. Ketika kami meninggalkan Suriah, satu-satunya hal yang saya khawatirkan adalah biola saya."

Setelah permohonan pengungsi mereka ditolak pada tahun 2017, keluarga Kaplo akhirnya mendapat visa ke Australia pada bulan April tahun lalu.

Mereka tiba di Australia hanya 15 hari setelah visa itu keluar.

Tempat yang lebih aman

Aboud dan keluarganya melarikan diri dari Aleppo ke utara Suriah ketika perang pertama kali pecah, sebelum bergerak ke Lebanon setelah mereka menghadapi pemboman bunuh diri.

Ia mengaku lega ketika aplikasi visa Australia keluarga-nya disetujui.

Ibu Aboud, Hanan, khawatir akan keluarga dan teman-temannya yang masih berada di Suriah.
Ibu Aboud, Hanan, khawatir akan keluarga dan teman-temannya yang masih berada di Suriah. (ABC News: Jerry Rickard)

"Itu adalah perasaan yang luar biasa, fantastis, saya tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Saya merasa seperti semua stres telah hilang, itu melegakan," katanya.

"Itu (Australia) tempat yang lebih aman untuk hidup, di mana saya tak perlu khawatir tentang bom dan perang dan semua hal semacam itu."

Bagi ibu Aboud, Hanan, kehidupan di Australia berarti tak perlu khawatir tentang masa depan keluarganya.

"Sekarang kami merasakan kedamaian pikiran bahwa Anda aman, anak-anak Anda aman. Kehidupan kami (telah) sepenuhnya berubah," katanya.

Bakat langka

Ketika Aboud berbicara kepada ABC di Lebanon dua tahun lalu, ia belajar biola sendiri dengan menonton video YouTube.

Ia rajin berlatih biola selama dua jam setiap hari di rumahnya di Sydney.

Konduktor Orkestra Pemuda Sydney Barat, James Pensini, takjub akan betapa cepatnya Aboud belajar.
Konduktor Orkestra Pemuda Sydney Barat, James Pensini, takjub akan betapa cepatnya Aboud belajar. (ABC News: Jerry Rickard)

Dan kini, ia tampil dengan Orkestra Pemuda Sydney dan Orkestra Pemuda Sydney Barat setelah audisi dan menerima beasiswa.

"Ini pengalaman yang sangat berbeda dengan bermain di kamar saya," katanya.

"Luar biasa, saya tak bisa menjelaskannya."

Meskipun tak bisa membaca musik ketika ia pertama kali belajar sendiri memainkan biola, tekad Aboud telah membuat banyak orang mengenali bakatnya yang langka.

Konduktor Orkestra Pemuda Sydney Barat, James Pensini, yakin Aboud memiliki kedekatan alami dengan biola.

"Saya kagum dengan telinganya, seberapa cepat ia mempelajari sesuatu," katanya.

"Ini tentang mencari siswa yang menunjukkan rasa haus belajar itu, kemauan untuk menjadi lebih baik."

"Dengan atribut-atribut yang ia miliki, secara harfiah segala sesuatunya mungkin terjadi."

Aboud Kaplo berlatih dengan Orkestra Pemuda Sydney Barat.
Aboud Kaplo berlatih dengan Orkestra Pemuda Sydney Barat. (ABC News: Jerry Rickard)

Bakat ini membuat Aboud diundang untuk tampil di acara penggalangan dana UNICEF yang bernama Cook For Syria, yang mengumpulkan dana $ 56.000 (atau setara Rp 560 juta) untuk lebih dari 8 juta anak-anak yang terkena dampak konflik.

Dalam pidatonya di acara penggalangan dana itu, Aboud mengatakan bahwa ia ingin perjalanannya memberikan harapan kepada orang lain yang hidup dalam kondisi mengancam.

"Setelah satu setengah tahun kami mendapatkan visa kami ke Australia, saya tak bisa menjelaskan bagaimana perasaan saya," katanya kepada orang banyak.

"Saya merasa luar biasa, sangat melegakan setelah semua hal buruk yang saya alami."

Keluarga yang tertinggal

Terlepas dari kegembiraan baru hidup di Australia, keluarga Kaplo sering khawatir akan keluarga besar mereka dan teman-teman yang masih dalam bahaya perang saudara Suriah.

Ibunya merasa sulit menyesuaikan diri berada jauh dari orang-orang yang biasa dilihatnya setiap hari, dan takut akan kehidupan mereka.

UNICEF memperkirakan lebih dari 8 juta anak terdampak dari konflik di Suriah.
UNICEF memperkirakan lebih dari 8 juta anak terdampak dari konflik di Suriah. (Reuters: Saad AboBrahim)

"Kami banyak memikirkan mereka, kami merindukan mereka," kata ibu Aboud.

"Sangat sulit untuk hidup tanpa keluarga Anda, tanpa teman yang anda kenal sepanjang hidup."

"Kami berdoa agar mereka selamat."

Simak informasi studi, bekerja, dan tinggal di Australia hanya diABC Indonesiadan bergabunglah dengankomunitas kami di Facebook.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com