DetikNews
Kamis 06 Desember 2018, 14:50 WIB

Bisakah Penyuka Sesama Ubah Keadaannya Lewat Ruqyah?

ABC Australia - detikNews
Bisakah Penyuka Sesama Ubah Keadaannya Lewat Ruqyah?
Jakarta -

Pertengahan bulan November lalu ribuan orang di kota Padang, Sumatera Barat dilaporkan menghadiri Deklarasi "Padang Anti Maksiat" dengan tujuan untuk memberantas perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), yang dianggap banyak orang sebagai perilaku menyimpang.

Aksi turun ke jalan yang digelar di GOR H Agus Salim yang digelar hari Minggu (18/11) juga dihadiri oleh Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah yang meminta "para pelaku masiat dan pembeking untuk bertobat".

Sementara itu, sejumlah media melaporkan kepolisian di kota Padang telah menangkap 19 pasangan yang dianggap perlu mendapat dukungan psikologis dan rehabilitasi. 10 diantaranya adalah perempuan yang diidentifikasi sebagai lesbian dan delapan orang transgender.

Ada keyakinan bahwa penyuka sesama dan transgender disebabkan oleh gangguan kesehatan mental, yang dipicu oleh pengaruh jin.

Karenanya sejumlah pihak juga percaya keadaan LGBT bisa diubah melalui ruqyah, karena praktik ruqyah sendiri menggunakan praktik sesuai ajaran Islam.

Bahkan ada pula stasiun televisi di Indonesia yang memiliki acara khusus yang menunjukkan proses ruqyah untuk menyembuhkan penyakit fisik dan mental.

ABC menemukan satu episode di acara tersebut yang menampilkan seorang pria gay yang diduga mendapat pengaruh jin. Dalam tayangan tersebut pria tersebut beberapa kali terlihat menangis, menjerit, gemetaran, saat seorang ustaz membacakan ayat-ayat Al Quran.

Ustadz Aris Fathoni dari Asosiasi Ruqyah Syar'iyyah Indonesia mengatakan kepada ABC bahwa dalam ruqyah untuk "menyembuhkan" LGBT adalah dengan membaca ayat-ayat Quran sambil juga memukul sapu lidi ke punggung pasiennya.

Tapi ia menegaskan jika pukulannya tidaklah berlebihan dan "masih bisa terukur". Metode ini ia akui sebagai upaya untuk membuat jera kepada pasiennya.

Ustadz Aris mengklaim jika ruqyah bisa mengatasi semua penyakit "medis dan non-medis", termasuk LGBT yang dianggapnya sebagai penyakit mental dan gangguan jin.

"Ada sejumlah kasus yang bereaksi, artinya mereka tidaklah dan ada gangguan jin dalam tubuh mereka, sehingga mendorong mereka melakukannya [homoseksual]," katanya.

Kepada ABC News, Ustadz Aris juga mengaku pernah "menyembuhkan" pria gay di awal tahun 2000-an, yang menurutnya sekarang sudah menikah dan memiliki anak.

Dampak terapi mengubahkondisiLGBT

Di Australia, sebuah penelitian yang diterbitkan La Trobe University tahun ini menemukan terapi untuk mengubah kondisi LGBT telah menyebabkan komunitas LGBT di seluruh dunia berada dalam "tekanan psikologis ekstrem".

Tim Jones, sejarawan budaya di La Trobe University, mengatakan semua peserta dalam penelitian yang pernah menjalani beberapa bentuk terapi mengubah kondisi LGBT setidaknya pernah juga ingin melakukan bunuh diri.

"Semua orang yang kami wawancarai pernah berpikir untuk bunuh diri dan banyak dari mereka yang juga mengenal orang-orang yang bunuh diri," katanya.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan 15 peserta harus menjalani konsultasi psikologis dalam menanggapi praktik terapi konversi.

Mereka juga kemudian alami kesulitan seksual dan menjalin hubungan.

Orang-orang memegang spanduk dan kertas Sejumlah orang memegang spanduk meneriakkan pernyataan anti-LGBT.

Reuters: Antara Foto

Sepertiga dari peserta telah didorong untuk menikah untuk tak lagi menyukai sesama jenis kelamin, yang mengarah pada rasa bersalah yang besar.

Sepertiga lainnya dipaksa melakukan terapi konversi saat mereka masih di bawah umur.

"Orang LGBT diberitahu bahwa mereka tidak normal ... dan tidak bisa menjadi bagian penuh dari komunitas sampai mereka menjadi 'straight'," kata Dr Jones kepada ABC.

Tak hanya di Islam, terapi yang dilakukan di berbagai agama juga memiliki kemiripan: semuanya berdasarkan pada ajaran agama dengan doa dan pembacaan ayat-ayat sebagai bagian dari proses "penyembuhan".

Mereka juga melakukan psikoanalisis berdasarkan pada asumsi bahwa mereka yang LGBT telah melalui sejumlah trauma saat masih kecil.

"Ajaran agama tentang nromatif gender dan seksualitas ... sangat penting bagi semua kelompok yang kami ajak bicara," kata Dr Jones.




(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed