DetikNews
Selasa 23 Oktober 2018, 12:53 WIB

Harga Rumah di Sydney dan Melbourne Anjlok Rp 10 Juta Tiap Minggu

ABC Australia - detikNews
Harga Rumah di Sydney dan Melbourne Anjlok Rp 10 Juta Tiap Minggu
Sydney -

Booming industri perumahan di Australia telah berakhir, dan kini tengah memasuki periode anjloknya harga perumahan, yang diperkirakan lebih dari 1000 dolar tiap minggu (lebih dari Rp 10 juta).

Hal itu terungkap dalam laporan outlook bisnis yang dirilis lembaga Deloitte Access Economics.

Laporan ini sejalan dengan prediksi banyak orang: harga menurun ketika suku bunga meningkat. Dampaknya paling terasa di kota-kota besar Australia.

"Harga perumahan di Australia melonjak melewati batas yang wajar menurut valuasinya," jelas Chris Richardson dari Deloitte.

"Pada akhirnya saat ini gravitasi berhasil mengatasi kebodohan seperti itu dan harga pun anjlok," katanya kepada ABC.

"Di Sydney dan Melbourne, harga rumah anjlok lebih dari 1000 dolar tiap minggu," tambahnya.

Dalam 5 tahun terakhir, harga perumahan melonjak gila-gilaan di seluruh Australia dipicu suku bunga rendah yang mendorong warga mengambil kredit.

Menurut Richardson biasanya penurunan harga perumahan dapat merusak ekonomi. Namun dalam kasus ini, katanya, indikatornya penurunan harga cukup ringan serta ekonomi Australia terus bertumbuh.

"Harganya jatuh tapi mereka tidak pada tingkat berbahaya," jelasnya.

"Kejatuhan harga ini masih akan berlanjut terutama di Sydney dan Melbourne karena di situ terjadi kenaikan harga paling konyol sebelumnya," katanya.

Richardson menyebutkan tiga faktor khusus yang memberikan tekanan pada harga. Yaitu, tindakan perbankan menaikkan suku bunga, kehati-hatian bank yang meningkat serta menurunnya modal asing.

Laporan Deloitte mencerminkan data terbaru dari Thomson Reuters, yang menunjukkan perubahan dalam tingkat pertumbuhan harga perumahan, dari tahun ke tahun.

Meskipun penurunan harga menjadikan pemilik rumah rugi di atas kertas, namun ada kabar gembira yang sudah menanti: pertumbuhan gaji yang lebih baik.

Laporan Deloitte menyebutkan pertumbuhan gaji mencapai titik terendah pada 2016 dan sejak itu mengalami pertumbuhan glasial.

Richardson mengatakan meski telah melewati periode suku bunga rendah yang panjang serta pertumbuhan gaji rendah, namun kedua hal ini mulai merangkak naik.

"Kita beranjak dari fase dimana pertumbuhan gaji merupakan kabar buruk dan suku bunga merupakan kabar baik," katanya.

Keadaan seperti itu, katanya, akan berbalik.

"Pertumbuhan gaji atau suku bunga tak akan melonjak tajam, tapi keduanya akan meningkat seiring waktu," ujarnya.

Menurut Richardson, bank sentral Australia (RBA) tak akan menaikkan suku bunga resmi sampai akhir 2019.

Selain itu RBA, katanya, bahkan akan menambah langkah perlindungan terhadap rumah tangga yang mengambil banyak kredit ke bank.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed