detikNews
Selasa 25 September 2018, 12:40 WIB

Tempat Terangker di Australia Jadi Lokasi Film Horor Indonesia

ABC Australia - detikNews
Tempat Terangker di Australia Jadi Lokasi Film Horor Indonesia
Victoria -

Sebuah film horor Indonesia 7 Bidadari melakukan pengambilan gambar di Aradale Lunatic Asylum di Ararat, Victoria, yang dianggap tempat terangker di Australia dan kini menjadi destinasi 'wisata hantu'.

Horor masih menjadi genre yang menarik minat penonton film Indonesia, hampir setiap bulan ada film horor yang tayang di bioskop sehingga pembuat film harus jeli memutar strategi dalam menghadirkan film horor.

Salah satu strategi yang dipilih sutradara Muhammad Yusuf melakukan pengambilan gambar film horor di luar negeri untuk film horor berjudul "7 Bidadari" yang sepenuhnya dilakukan di Victoria, Australia.

Ini film kedua Yusuf yang dibuat di Australia, setelah tahun 2017 merilis film horor "The Curse" yang dibintangi Prisia Nasution.

"Saya sudah lama ingin bikin film horor di Australia dengan ide bawa mistik Indonesia. Dengan setting di luar negeri bisa lebih menarik minat penonton Indonesia, dan segmen pasarnya bisa lebih luas, dari B ke B+," kata Yusuf kepada Alfred Ginting dari ABC.

Film 7 Bidadari menghadirkan kisah band beranggotakan tujuh perempuan muda dari Indonesia yang diperankan oleh Dara Warganegara, Lia Waode, Camelia Putri, Brigitta Cynthia, Salini Rengganis, Ade Ayu Sudrajat dan Gabriella Desta.

Mereka mengunjungi Australia untuk bertemu sosok misterius Mark Moore yang mengundang mereka ke Aradale, bekas rumah sakit jiwa yang sudah kosong namun masih merawat banyak kisah seram dari masa lalu.

Ketujuh karakter itu terjebak dalam kutukan maut 100 tahun lampau dari Shu Yin, penyihir dari Ararat.

Pemain film 7 Bidadari.
Pemain film 7 Bidadari yang menceritakan tujuh perempuan yang mengunjungi bekas rumah sakit jiwaAradale dan terjebak pada kutukan maut berusia 100 tahun.

Ide mengangkat lokasi Aradale Lunatic Asylum datang dari Konfir Kabo, seorang pengacara asal Indonesia di Melbourne, yang bertindak sebagai produser eksekutif.

"Konfir bilang ke saya ada lokasi bagus di Ararat. Lalu saya riset dan jadi terinspirasi untuk mengembangkan naskah yang sudah saya tulis," kata Yusuf yang sudah menyutradarai delapan film, lima diantaranya film horor.

Yusuf pernah tinggal di Melbourne tahun 1991-1996 ketika mengenyam pendidikan periklanan di Holmes College.

Ia mengatakan kelebihan melakukan pengambilan gambar di luar negeri seperti Australia adalah lingkungan yang lebih sepi.

"Kita bisa lebih mengeksplorasi lokasi. Di Indonesia juga sangat banyak lokasi bagus, tapi sudah banyak dipakai film lain," kata Yusuf.

Victoria's first hospital for the mentally ill.
Rumah sakit jiwa pertama di Victoria di Ararat ini dibuka kembali untuk turis di tahun 2017. (Supplied: Friends of J Ward)

Untuk menekan anggaran, Yusuf melakukan produksi dengan jumlah kru yang ramping.

"Dari Indonesia kita hanya 12 orang, tujuh kru dan lima pemain. Sisanya delapan orang kru dari Melbourne."

Menurut Yusuf, dengan keadaan itu kru berusaha seefisien mungkin.

"Di Indonesia kru film bisa puluhan orang, runner saja bisa empat orang yang mengurusi keperluan kru lain. Jadi kalau di luar negeri mindset-nya kita harus lebih mandiri," kata Yusuf.

Pengambilan gambar 7 Bidadari menghabiskan waktu 21 hari dan semuanya dilakukan siang hari.

"Ceritanya sendiri memang kejadian yang berlangsung dari siang. Dan dengan pengambilan gambar siang hari saya bisa menonjolkan detail dari lokasinya. Kalau malam hari tidak bisa.

"Saya ingin menonjolkan film ini 100 persen gambarnya diambil di Australia. Tidak ada kamuflase, dengan pakai lokasi dalam ruang yang sebenarnya bisa dimana saja."

Dengan penonjolan pada lokasi, menurut Yusuf, dia tidak terlalu berkutat pada masalah efek untuk

"Bagi saya yang utama adalah cerita, story telling. Saya tidak banyak bermain dengan DI (digital intermediate), ingin lebih natural," kata Yusuf.

Video Player failed to load. A black and white photo of the Aradale Mental Health Asylum.
Bekas rumah sakit jiwa di Ararat sekarang jadi lokasi turis...Play

Bekas rumah sakit jiwa diArarat sekarang jadi lokasi turis yang suka dengan tempat-tempat yang angker di Australia (ABCNews)

Produser eksekutif Konfir Kabo mengatakan dirinya tertarik menggarap film horor bersama Yusuf karena secara pribadi senang dengan tema film horor.

"Film adalah passion saya sejak lama, kalau bisa bisnis supaya tidak rugi, kenapa tidak." kata Konfir kepada ABC.

"The Curse sebagai percobaan pertama memberikan pengalaman yang sangat positif. Kita banyak belajar dari kesalahan, untuk 7 Bidadari kita banyak perbaikan."

Konfir mengatakan belum berniat untuk membawa filmnya atau memproduksi film untuk pasar Australia.

"Masalah distribusi film agak sulit di Australia dan Yusuf karena sudah banya pengalaman dan jaringan dengan film sebelumnya kita bisa dapat banyak layar di bioskop," kata Konfir.

"Produksi film bagus untuk membuka kerja sama dan pemerintah di sini sangat mendukung, tapi untuk pasar di Australia seleranya berbeda. Untuk masuk ke pasar Australia harus spesifik, western, seperti memasak makanan saja pasti berbeda untuk setiap pasar."

Produser Resika Tikoalu mengatakan The Curse meraup hampir 300 ribu penonton di Indonesia.

"Dari awal memang ini film Indonesia yang kami buat di Australia. Untuk Australia hanya kami putar jika ada permintaan," kata Resika.

'Wisata gelap' diArarat

Aradale Lunatic Asylum yang berlokasi di kota Ararat (200 kilometer dari Melbourne) adalah rumah sakit jiwa yang beroperasi sejak tahun 1867 hingga tahun 1998 dan dianggap tempat terangker di Australia.

Sebagai satu-satunya kota di Australia yang memiliki dua bekas rumah sakit jiwa, Aradale dan J Ward, kota Ararat memiliki sejarah yang unik dan kelam, dewan kota menggunakan itu untuk memasarkan apa yang disebut 'wisata gelap' atau 'dark tourism'.

Wisata gelap melibatkan perjalanan ke situs-situs yang ditandai dengan kematian, penderitaan atau trauma.

Aradale Lunatic Asylum di Ararat, Victoria pada masa lalu.
Dibangun pada awal 1860an, Aradale Lunatic Asylum pernah merawat ribuan orang dan lebih dari 13.000 orang pasien meninggal di sana selama sekitar 130 tahun beroperasi. (Supplied: Ancestry)

Berdasarkan catatan Friends of J-Ward Society, Aradale dan J Ward menarik 15.000 orang pengunjung tahun lalu.

Selama beroperasi Aradale menangani puluhan ribu pasien kejiwaan yang beberapa diantaranya dianggap yang terburuk dari seluruh koloni Inggris.

Aradale sangat dikenal karena terapi seperti lobotomi atau operasi bedah yang melibatkan sayatan ke otak dan terapi kejut.

Selama 130 tahun beroperasi, lebih dari 13.000 pasien meninggal di Aradale.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed