DetikNews
Rabu 12 September 2018, 13:47 WIB

Pelecehan Seks di Tempat Kerja di Australia Meningkat

ABC Australia - detikNews
Pelecehan Seks di Tempat Kerja di Australia Meningkat
Canberra -

Seorang warga Australia, Seana Szetey, mengisahkan dirinya baru saja setahun bekerja di sektor teknologi informasi ketika pria yang merekrutnya datang padanya pada suatu hari.

"Dia bilang ke saya, dia mempekerjakanku semata-mata karena saya menarik dan dia suka pada saya," ujar Seana.

Menurut pengakuannya, kejadian itu bukan pertama kalinya dia alami di tempat kerja. Juga bukan yang terakhir.

Ada rekan kerjanya, katanya, yang mengirim pesan pribadi di kantor. Dan satpam kantornya pun membuat sejumlah akun Facebook demi mengajaknya berkencan.

Pengalaman yang disampaikan Seana kepada ABC News ini bukanlah satu-satunya.

Kasus pelecehan seks di tempat kerja di Australia kini mengalami peningkatan. Laporan terbaru menyebutkan satu dari tiga orang menjadi target pelecehan dalam lima tahun terakhir.

Laporan ini juga menunjukkan hanya sebagian kecil korban melaporkan kasusnya karena takut tidak akan dipercaya.

Laporan yang dirilis oleh Komnas HAM Australia di Canberra hari ini hasil penelitian keempat sejak dilakukan pertama kalinya tahun 2012.

Laporan menyebutkan 71 persen warga Australia pernah mengalami pelecehan seks dalam hidupnya. Perempuan (85 persen) lebih mungkin mengalaminya daripada laki-laki (56 persen).

Disebutkan, prevalensi pelecehan di tempat kerja melonjak dari 21 persen di tahun 2012 menjadi 33 persen saat ini.

"Hasil survei ini jadi lebih relevan pada 2018 daripada sebelumnya," jelas Komisioner Diskriminasi Seksual Kate Jenkins.

Laporan Komnas HAM ini menguraikan tiga bentuk pelecehan seks yang paling sering terjadi di tempat kerja. Yaitu, komentar atau lelucon yang menjurus dan bernada seksual; kontak fisik yang tak pantas; serta sentuhan, pelukan, memojokkan dan mencium.

Sektor media paling tinggi

Di kategori sektor industri, disebutkan bahwa pelecehan seks paling tinggi terjadi di sektor informasi, media dan telekomunikasi.

Menurut pengalaman Seana Szetey, pelecehan seksual di sektor TI sudah mendarah daging.

"Saya melihatnya sangat buruk dalam TI karena karena saya adalah satu-satunya wanita yang bekerja di tim itu," katanya.

"Saya kira hal itu yang membuatku jadi target," tambahnya.

Seana mengatakan saat akhirnya dia bicara, dia justru dibuat merasa bersalah atau itu masalah masalahnya sendiri, bukan masalah pelakunya.

Sementara itu Jenkins mengatakan dari 10 ribu orang yang disurvei, muncul kesadaran lebih besar mengenai apa itu pelecehan seks.

Laporan ini menemukan perempuan (39 persen) lebih mungkin mengalami pelecehan seksual di tempat kerja dibandingkan laki-laki (26 persen). Dalam semua kasus laki-laki jauh lebih mungkin menjadi pelaku.

Disebutkan, kasus pelecehan lebih tinggi bagi Penduduk Pribumi, penyandang cacat dan generasi muda.

"45 persen orang berusia antara 18 dan 29 mengalami pelecehan seksual," jelas Jenkins.

"Bahkan, bagi remaja yang baru mulai bekerja, usia 15 hingga 17 tahun, satu dari lima di antara mereka pernah mengalami pelecehan seksual," jelasnya.

Tidak dihukum

Penelitian Komnas HAM menyebutkan pelaporan dan intervensi kasus pelecehan seks masih sangat minim.

Disebutkan, hanya 17 persen orang membuat laporan resmi atau penyampaikan kepada atasannya. 19 persen dari kasus yang dilaporkan tidak membawa konsekuensi apa-apa bagi para pelaku.

Menurut dia, banyak orang takut melaporkan pengalamannya karena khawatir tidak akan dipercayai, akan dikucilkan dan akan merusak karir mereka.

"Hampir setengah dari pelapor mengatakan tidak ada yang berubah di tempat kerja mereka sebagai akibat dari laporan tersebut," jelasnya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.





Tonton juga 'Mantan Uskup Agung Ditahan Gara-gara Kasus Pelecehan Anak':

[Gambas:Video 20detik]


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed