Undergrond-3

INTERMESO

Berjilbab, Berjingkrak, Berteriak

Jilbab tak menghalangi sebagian ibu rumah tangga dan wanita karier untuk berkesenian di jalur musik metal yang berisik. Kadung cinta setengah mati!

Foto: dok. pribadi

Selasa, 29 Maret 2016

Hujan lebat tak menyurutkan langkah Silvina Elya Mayasari menuju studio musik milik Dani "Papap" Kadarusman di Ujungberung, Jumat, 3 Maret 2016, malam. Kerudung di kepala selaras dengan gerik-geriknya yang lembut. Apalagi, setiap kali tertawa, ia menutupi mulutnya dengan jari-jari lentiknya, yang kukunya diberi pewarna. Tapi semuanya berubah ketika ibu dua anak itu sudah memegang gitar. Jemarinya yang lentik begitu liar mencabik-cabik senar gitar, yang meraung-raung, khas musik metal.

"Saya sudah cinta setengah mati pada musik metal," ujar Maya tersenyum tipis. Ia masih mengenakan seragam perusahaan farmasi tempatnya bekerja saat berbincang dengan detikX di Pieces Studio, Ujungberung, Bandung, Jumat, 3 Maret 2016, malam. Waktu itu dia sedang menunggu giliran untuk berlatih dengan grup band-nya, Mortality.

Maya saat beraksi di atas panggung
Foto: dok. pribadi

Musik metal mengisi hidup Maya sejak ia masih berusia 11 tahun. Kala itu dia mendengar lagu band metal asal Brasil, Sepultura, melalui kaset yang diputar kakak sepupunya. "Entah mengapa telinga saya langsung cocok dengan distorsi gitar," kata Maya. Setahun kemudian, pada 1993, ia memutuskan belajar musik memakai gitar ayahnya. "Awalnya hanya kunci-kunci dasar."

Sudahlah, kalau pakai kerudung, mainnya ke masjid aja, ngaji, enggak usah main gitar."

Saat itu berbarengan dengan mulai menggeliatnya komunitas musik metal di Ujungberung. Anak-anak muda di daerah ini berlomba unjuk gigi kemampuan musik mereka. Begitupun pemuda-pemuda di lingkungan tempat tinggal Maya. Ia lantas mendalami gitar dengan genre metal dibimbing sejumlah tetangganya. "Kalau pada latihan di studio, saya minta ikut," katanya. Dua tahun belajar gitar, perempuan kelahiran 1982 itu diajak bergabung dengan band death metal Divisi Murka. Kala itu usianya baru 14 tahun.

Orang tuanya sempat meradang begitu mengetahui putrinya yang sudah khatam Al-Quran pada usia 10 tahun itu masuk band metal. Tapi nyali Maya tak ciut. Tekadnya justru kian bulat. Ia sengaja mengajak ibundanya menonton setiap kali ia mengikuti konser. "Saya tunjukin bermain musik itu enggak negatif. Ini kami lagi berkreasi yang positif," katanya.

Personel Mortality:  Andriz (drum), Biye (bas), Balung (vokal), Maya (gitar)
Foto: dok. Mortality

Maya pun menemukan jodohnya tak jauh-jauh dari komunitas band metal. Suaminya, Ayi Suyitno alias Biye, adalah basis grup metal Mortality. Keduanya menikah pada 6 November 2006 dan telah dikaruniai dua anak, Danella Pear Zee Vincent, 7 tahun, dan Rizky B.C. Rich Vincent, 2 tahun. Biye pulalah yang meminta Maya menjadi gitaris Mortality pada 2013 setelah band tersebut sempat vakum beberapa tahun.

Selama 20 tahun lebih berkiprah, nada sumbang sesekali masih dilontarkan sejumlah pihak pada musik metal. "Ada yang bilang, ‘Sudahlah, kalau pakai kerudung, mainnya ke masjid aja, ngaji, enggak usah main gitar,’" kata Maya. Tapi alumnus Stikom Bandung itu justru bertekad terus bermusik sampai tua. "Sampai nenek-nenek pun saya akan bermain, asalkan masih bisa ngangkat gitar," ujarnya.

Maya tentu bukan yang pertama dan satu-satunya perempuan berjilbab yang bergelut di dunia metal. Di sekitar Bandung masih ada Asri Yuniar (Achie), yang menjadi vokalis Gugat. Sehari-hari lulusan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 2005 itu menjadi guru taman kanak-kanak di Jalan Karanganyar, Bandung. Juga Meilani Siti Sumartini, gadis kelahiran Garut, 24 Oktober 1997, yang masih duduk di bangku SMA, serta ada duo gadis asal Cimahi, Kherin dan Dorin, dari Fearless. Atau Devi dan Hera Yanti, vokalis Lentera Surga, yang bermarkas di Bireuen, Aceh.

Asri Yuniar
Foto: dok. pribadi 

Devi dan Hera Yanti
Foto: Koleksi Aziz Hatami

* * *

Lain lagi dengan Phopi Ratna Agustin. Vokalis band hardcore Lose It All ini memang tak berjilbab, tapi kiprahnya di dunia musik metal sempat mendapat tentangan dari orang tuanya. Bagi sang ibunda, yang berprofesi sebagai guru agama, musik metal identik dengan alkohol dan narkoba. Phopi merasa punya tanggung jawab meluruskan pandangan orang tuanya itu. Buktinya, sudah delapan tahun bermain di jalur metal ia baik-baik saja.

"Sekarang mulai berubah tanggapannya, walaupun masih berharap saya tidak di musik underground. Itu kan kalau bisa, tapi kan saya enggak bisa, ha-ha-ha…," ujarnya sambil tertawa berderai saat berbincang di restoran pizza di kawasan Sukajadi, Bandung, Jumat, 4 Maret 2016, malam.

Perempuan itu berharga buat kita. Mereka yang bisa membuat kita maju. Tidak sekadar groupies."

Selain di jenis musik metal, perempuan mungil kelahiran 6 Agustus 1989 itu pernah bermain di tiga band dengan genre berbeda sepanjang 2008. Ia tercatat sebagai penggebuk drum band folk Angsa dan Serigala serta band punk Monalisa. Lalu, menjelang akhir 2008, tanpa disengaja, ia bertemu dengan sejumlah mahasiswa Universitas Pasundan, Bandung, yang sedang mencari vokalis untuk band beraliran metal hardcore. "Suara saya didengerin. Ternyata bisa masuk," ujar lulusan Fakultas Manajemen Pemasaran Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia itu.


Phopi Ratna Agustin
Foto: dok. pribadi


Ia pun belajar vokal secara otodidaktik. Menurut Phopi, saat itu latihannya tanpa teknik. "Awalnya mah semau gue aja. Latihannya mengeluarkan emosi, dengan sendirinya bisa teriak-teriak, yang penting keluar suara," katanya. Belakangan, Phopi mendapat arahan dari beberapa vokalis yang lebih senior. Dua album telah dihasilkan band yang juga digawangi oleh Indrawan J.S. dan Azi itu.

Keseharian Phopi sebenarnya jauh dari cadasnya kehidupan yang digambarkan lirik-lirik musik metal. Anak pertama dari dua bersaudara ini adalah pegawai di Dinas Perizinan dan Perdagangan Kabupaten Bandung Barat. Sebagai pegawai negeri sipil, ia memaklumi bila kondisi birokrasi pemerintahan banyak dikritik seperti dalam lirik lagu-lagu milik Lose It All. "Saya mengalaminya dan tahu, ternyata memang kacau."

Penulis buku Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur, Iman Rahman Angga Kusumah alias Kimung, menuturkan kiprah perempuan di komunitas musik metal di Bandung bukanlah hal yang istimewa. Salah satu indikator kemajuan sebuah komunitas, selain bisa menuliskan sejarahnya sendiri, adalah partisipasi perempuan. Perempuan harus tampil dengan bakat masing-masing. "Perempuan itu teh berharga buat kita. Mereka yang bisa membuat kita maju. Tidak sekadar groupies," kata Kimung.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.


SHARE