Hari-Kasih-Sayang-Berujung-Maut-
image 1 for background / image background
image 2

image 2

image 3
image 4

image 4

CRIME STORY

Valentine Maut
Sang Pelayan Tuhan

Dikenal pintar dan saleh, dokter muda di Manado tewas dengan luka tusuk. Bermotif kisah asmara sejenis.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 25 Februari 2016

Di samping peti jenazah, air mata lelaki tua itu terus bercucuran. Ia tak menyangka putra kesayangannya, Franco Luhulima, pergi dalam kondisi mengenaskan. Padahal, akhir tahun ini, pemuda berusia 24 tahun itu akan diwisuda sebagai dokter.

“Kenapa jadi begini, Dede, kenapa,” ujarnya meratap berulang-ulang. Alfredo Luhulima, kakak Franco, membiarkan sang ayah, yang baru pulang dari luar Kota Manado, melepaskan emosinya.

Franco ditemukan tewas dengan tubuh penuh luka tusuk pada Hari Kasih Sayang atau Valentine, Minggu, 14 Februari lalu. Tubuhnya ditemukan berada di dalam jurang Desa Talawaan, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Menurut Alfredo, adiknya yang biasa dipanggil Dede itu sekitar pukul 19.00 Wita keluar dari rumah. Mengendarai Toyota Etios Valco berwarna putih, sang adik berpamitan pergi ke Rumah Sakit Bethesda di Tomohon untuk melakukan praktek operasi. Sambil meletakkan laptop dan printer di jok belakang, Franco mengatakan akan menemui seorang temannya yang sudah menunggu di taksi di suatu tempat sebelum ke Bethesda.

“Katanya, seusai praktek, harus langsung membuat laporan. Saya sempat kasih dia uang Rp 100 ribu untuk beli bensin,” tutur Alfredo. Selang hampir tiga jam kemudian, telepon di rumahnya berdering. Seseorang mengabarkan bahwa Franco meninggal di Talawaan. Tentu Alfredo tak mengacuhkan kabar tersebut. Ia menganggap si pemberi kabar membuat lelucon yang sangat tidak lucu. “Kita tahu, Dede ada operasi di Bethesda, bukan Talawaan,” ujarnya.

Tapi, tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Kali ini yang datang ketua RT dan ketua RW. Keduanya menyampaikan informasi serupa. Agar lebih yakin, Alfredo diminta menemui polisi di kediaman sang ketua RT. Dari situ, hatinya mulai galau. Air mata pun pecah tanpa kuasa ditahannya. “Begitu lihat benar ada polisi, baru kita percaya. Ah... kasihan Dede,” kata Alfredo sambil mengusap air matanya dengan saputangan. Bersama polisi dan pengurus RT dan RW, saat itu juga mereka menuju Rumah Sakit Kandou, Kota Manado.

Setiap hari dia menghabiskan waktu untuk melayani Tuhan dan masyarakat, jadi tidak mungkin seperti itu (homo).”

Berita kematian Franco menyebar luas keesokan paginya. Kabar duka itu diimbuhi dengan desas-desus tak sedap. Bisik-bisik di antara para pelayat menyebut Franco tewas dianiaya oleh teman kencannya sesama pria.

Pendeta Sarlan, yang tergolong masih kerabat keluarga besar Luhulima, tegas menepis isu bahwa Franco adalah seorang gay atau homo. Di matanya, dokter muda itu adalah seorang anggota jemaat yang punya budi pekerti dan pergaulan baik.

“Setiap hari dia menghabiskan waktu untuk melayani Tuhan dan masyarakat, jadi tidak mungkin seperti itu,” katanya.

Sandi Chandra, teman seangkatan Franco di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, tak bersedia mengkonfirmasi ihwal kemungkinan adanya cinta sesama jenis di balik kematian temannya itu. “Saya cuma tahu dia tergolong pintar, prestasi akademiknya bagus,” ujarnya saat menghadiri upacara penghormatan terakhir di aula kampusnya, Selasa, 16 Februari lalu.

Selain pintar, ia melanjutkan, Franco tergolong humoris. Tak aneh bila Franco berkumpul bersama teman-temannya di kampus, suasana menjadi lebih seru. “Tanpa dia tak akan ramai.”

Vera Thanos, yang pernah sama-sama piket malam sewaktu menjalani praktek koas (pembantu dokter) di bagian mata, menyebut Franco sebagai pribadi yang tak pernah menyakiti atau menghina teman.

“Dia selalu berupaya menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Mimpinya membanggakan kedua orang tua belum tercapai, Tuhan punya rencana lain,” Karolus Refan Dake menimpali.

Wakil dekan bidang kemahasiswaan di kampus Franco, James Siwu, menambahkan, secara akademik Franco pantas menjadi teladan bagi teman-teman seangkatan dan para juniornya. “Tentu kami sangat kehilangan dan terpukul oleh kematian yang tragis ini,” ujarnya.


Karena Takut Ketahuan
Pacari Pria

Olan ketar-ketir dengan ancaman Franco yang akan menyebarkan foto-foto hubungan spesial mereka.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 25 Februari 2016

Suara orang merintih kesakitan menghentikan aktivitas makan malam Roy Bawole, 40 tahun, bersama istrinya, Joice, pada Minggu, 14 Februari lalu. Peladang di Desa Talawaan, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, itu keluar dari gubuknya mencari-cari sumber suara.

Sampai di tepi bahu Jalan Simpang 3 Patokaan, sekitar 100 meter dari gubuknya, ia mendapati sebuah mobil Toyota Etios Valco warna putih terparkir di sana. Pintu depan mobil bernomor polisi DB-1730-AZ itu dalam keadaan terbuka.

Roy terkesiap ketika melihat darah berceceran di kursi depan. Ia lantas mengikuti ceceran bercak itu hingga ke bibir jurang di pinggir jalan. Sumber suara rintihan itu ternyata sesosok pemuda yang sepertinya baru saja meregang nyawa akibat luka tusuk di bagian dada, perut, dan kepala, serta luka sayatan di tangan.

Setengah berlari, ia kembali ke gubuk dan menceritakan kepada Joice apa yang baru dilihatnya. Atas saran sang istri, Roy melapor kepada aparat desa. Aparat desa lantas melaporkannya ke pos polisi terdekat. Satu jam kemudian, sejumlah polisi mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Setelah polisi melakukan olah data di TKP, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Kandou, Manado.

Dari hasil olah data di TKP, polisi menemukan identitas korban, yakni bernama Franco Luhulima alias Dede, 24 tahun. Korban tinggal di Lingkungan VIII Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea, Kota Manado. Korban adalah dokter di Rumah Sakit Bethesda, Tomohon. Tak sampai matahari terbit, tim gabungan dari Polsek Dimembe, Polres Tomohon, dan Polda Manado berhasil mencokok tersangka pelaku berinisial LK alias Olan, 24 tahun.

“Saya sering diajak ke tempat kos Dede, dan beberapa kali berhubungan (intim).”

“Kami berhasil menangkap tersangka pelaku lima jam setelah menerima laporan. Semua barang bukti sudah kami sita,” kata Kepala Polsek Dimembe Ajun Komisaris Thomas Afrian kepada detikX, Senin, 22 Februari 2016. Tersangka sehari-hari bekerja di pabrik batako. Warga Desa Kolongan, Kecamatan Kombi, Manado, itu ditangkap polisi di rumahnya pada Senin, 15 Februari, sekitar pukul 01.00 Wita.

Dari rekonstruksi yang dipimpin langsung Kepala Polres Minahasa Utara Ajun Komisaris Besar Eko Irianto pada Jumat, 19 Februari, tergambar adanya hubungan spesial antara korban dan tersangka. Keduanya pertama kali berkenalan di sebuah rumah makan pada Oktober 2015. Kontak komunikasi kemudian berlanjut melalui Facebook. Beberapa hari kemudian, Olan menerima pesan di Inbox Facebook dengan kata-kata “sayang”. Sejak itu, keduanya kerap bertemu.

“Saya sering diajak ke tempat kos Dede, dan beberapa kali berhubungan (intim),” kata Olan kepada para wartawan seusai rekonstruksi. Ia mengaku sebetulnya tak terlalu mencintai Franco karena sudah menjalin tali kasih dengan seorang perempuan. Kalaupun kemudian dia meladeninya, hal itu dilakukan karena tak kuasa menolak kebaikan sang dokter. Ia mencontohkan, Franco sering memberikan uang dan pulsa untuk telepon selulernya.

Tapi, selang beberapa waktu kemudian, lelaki yang di kedua lengannya penuh dihiasi dengan tato itu merasa terkekang. Sebab, Franco termasuk tipe posesif dan selalu menuntut perhatian lebih dari Olan. Bila ajakan untuk menyalurkan hasrat biologisnya tak dipenuhi, Franco biasanya merajuk.

Hal yang membuat Olan ketar-ketir adalah ancaman Franco melalui telepon, SMS, dan pesan di Facebook yang akan menyebarkan foto-foto hubungan mereka. Bila itu sampai terjadi, dia khawatir pacar perempuannya akan marah. Karena merasa tertekan itulah ia akhirnya nekat berencana menghabisi nyawa sang dokter. “Saya takut kekasih tahu bahwa saya berhubungan dengan sesama jenis,” ujarnya.

Pada Hari Kasih Sayang atau Valentine, setelah memenuhi hasrat Franco di kamar kosnya, Olan mengajaknya berjalan-jalan ke Desa Talawaan. Sebilah pisau ia selipkan di balik baju. Saat tiba di Jalan Simpang 3 Patokaan, Desa Talawaan, Kecamatan Dimembe, ia meminta Franco menghentikan mobil dengan dalih hendak buang air kecil. Saat Olan kembali, pisau sepanjang 20 sentimeter langsung dihunjamkan bertubi-tubi ke tubuh Franco. Posisi Franco yang terikat sabuk pengaman dan berada di balik kemudi membuatnya kesulitan menangkis serangan Olan.

Begitu darah bercucuran dan Franco tak berdaya, Olan menyeretnya menuju jurang. Untuk menghilangkan jejak, ia memindahkan mobil hingga sejauh 300 meter dari tempat Franco dibuang ke jurang. Dari situ, Olan menyelinap di kegelapan malam lewat belakang Desa Talawaan. Ia tak sadar ada bercak darah di pakaian. Ia kemudian meminta seorang tukang ojek mengantarnya ke Desa Wusa. Semua itu membuat jejak langkahnya kian kentara. Polisi pun dengan mudah mencokoknya lima jam kemudian.

“Kami pastikan ini pembunuhan tunggal, dilakukan pelaku seorang diri,” ujar Thomas. Tersangka dijerat dengan Pasal 340 juncto 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Kepada para wartawan, Olan menyatakan penyesalan telah bertindak kelewat batas. “Saya menyesal, sudah bikin malu orang tua, sudah bikin sibuk semua orang. Mau apa lagi, ini sudah terjadi,” tuturnya dengan kepala tertunduk.


Reporter: Eka Putra (Manado)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat 

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE