Maling-Bunuh-Anak-SMP-
image for mobile / touch device
image 2
image 3
image 4

CRIME STORY

MEMBUNUH
DEMI PERSALINAN ISTRI

Untuk membiayai persalinan istri,
Andre nekat mencuri dan membunuh anak tetangganya.

Ilustrator: Edi Wahyono

Kamis, 4 Februari 2016

Entah setan mana yang merasuki Andre, 32 tahun. Alih-alih meredakan emosi setelah Muhammad Farel Azalia mengiba minta ampun, dia justru kian gelap mata. Pisau dapur yang dia genggam dengan serta-merta ditusukkan beberapa kali ke tubuh Farel. Padahal, sebelumnya, remaja kelas satu sekolah menengah pertama itu sudah menyerahkan uang, telepon seluler, dan aneka perhiasan milik orang tuanya

“Saya menyesal. Saya terus kebayang-bayang wajah dia,” kata Andre saat dipertemukan dengan para wartawan di Markas Kepolisian Resor Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Lelaki penganggur itu mengaku nekat mencuri untuk membiayai persalinan anak pertamanya. Istrinya, Yanti, diperkirakan melahirkan pada 29 Januari. Saat bertandang ke rumah ayahnya, Slamet, Andre mendapati rumah sebelah dalam keadaan sunyi. Pemilik rumah, Agus Jatmiko dan Narulita, sedang bekerja. Melihat situasi itu, pikirannya langsung bergerak liar. 

Saat Slamet tengah di dalam kamar, Andre membobol plafon belakang rumah dan masuk ke kediaman Agus. Rumah Slamet dan Agus menempel jadi satu. Ia merayap di atap rumah melalui plafon itu. Tak dinyana, di salah satu kamar rumah Agus, ternyata ada Farel, yang langsung terjaga saat melihat Andre masuk. Ia spontan membekap mulut bocah berusia 13 tahun itu agar tak berteriak. Tapi Farel melawan. “Tangan kanan saya digigit sampai berdarah.”

Dia sempat mengancam akan membunuh bapaknya.”

Andre pun semakin kuat mencengkeram leher Farel, dan membuatnya menyerah tak berdaya. Di bawah ancaman, Farel menuruti semua kemauan Andre. Selain menyerahkan telepon seluler, Farel mencarikan uang dan perhiasan ibunya di kamar tidur. “Dia kasih saya uang recehan dan gelang emas.” 

Setelah menyeret tubuh Farel yang berlumur darah ke kamar mandi, Andre kembali ke tempat ayahnya. Saat turun dari plafon, Andre dipergoki Slamet dan ditegur. Adu mulut mengarah ke kontak fisik pun tak terhindarkan. “Dia sempat mengancam akan membunuh bapaknya,” kata Kepala Kepolisian Sektor Limo Komisaris Hendrick Situmorang kepada detikX di kantornya, Selasa, 19 Januari. 


Berkat penjelasan Slamet, tim Reserse Mobil serta Kejahatan dan Kekerasan Polres Depok bergegas mengejar Andre ke kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Mereka mendapati lelaki itu tengah berdiri di depan ruko di Jalan Dewi Sartika. Saat hendak kabur, pemuda berambut ikal itu diringkus polisi. “Sekitar tiga jam setelah kejadian, kami berhasil menangkap pelaku. Ini berkat informasi orang tuanya yang kooperatif,” kata Hendrick. 

Farel, ia melanjutkan, mengalami empat luka tusuk di bagian perut, satu luka di bagian tangan kanan, dan satu luka di bagian bawah kuping. “Ini tergolong sadis. Farel yang kecil itu ditusuk enam kali dan diseret ke kamar mandi.” 

Selain alasan ekonomi butuh uang untuk membiayai persalinan, polisi mencatat Andre sebagai residivis. Saat tinggal di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Andre pernah ditahan akibat kasus pencurian. 


Dadang, 30 tahun, kakak sepupu Andre, menyebut adiknya itu memang liar. Setelah dipecat dari pabrik tempatnya bekerja di Bekasi, dia menjadi lebih temperamental. “Kalau pinjam uang ke orang tuanya tapi enggak dikasih, pasti ngamuk dia,” tutur Dadang. 

Setelah pembunuhan oleh Andre, Slamet tak lagi tinggal di Jalan Rotan, Kelurahan Limo. Oleh Ketua RT 02 RW 01 Sugimin, pelukis itu disarankan tinggal di kediaman anak perempuannya di Ciputat. Langkah itu dianggap perlu guna mencegah hal-hal yang tak diinginkan. “Kasihan Pak Slamet, dia harus menanggung malu atas kelakuan si Andre,” ujar Sugimin. 

Sedangkan Andre kini melalui hari-harinya di balik jeruji besi. Ia tak bisa mendampingi sang istri melahirkan anaknya. Juga untuk beberapa tahun ke depan, ia tak akan bisa mendampingi anaknya tumbuh. “Kami bakal menjeratnya dengan ancaman hukuman sekurangnya 15 tahun karena telah melakukan pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan,” ujar Hendrick. 


image for mobile / touch device


PERGOKI MENCURI,
ANAK TETANGGA
DIBUNUH

“Farel sudah minta ampun,
tapi tetap ditusuk juga. Itu keji sekali.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 4 Februari 2016

Menjelang berkumandangnya azan asar, dentuman suara musik dari rumah kontrakan Slamet, 57 tahun, justru terdengar nyaring memekakkan telinga pada Sabtu, 16 Januari 2016. Karmin Santoso, 60 tahun, yang tinggal persis di depan rumah di Jalan Rotan Nomor 102, RT 02 RW 01, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok, itu, heran. Bertahun-tahun ia mengenal Slamet, tak pernah tetangganya tersebut menyetel radio seingar-bingar sore itu.

Saat melongok keluar, ia sekilas mendengar Slamet bersitegang dengan putranya, Andre, 23 tahun. Entah apa yang dipersoalkan. Tapi, tak berapa lama, anak sulung Slamet itu bergegas meninggalkan rumah. Suara musik pun mengecil.

Karmin sengaja duduk santai di teras sambil menyeruput kopi ditingkahi kepulan sebatang rokok filter. Ia hafal betul, modus ini ampuh untuk mengundang Slamet keluar dari rumah. Benar saja. Dengan wajah tegang, lelaki yang berprofesi sebagai pelukis itu menghampirinya. Tak cuma mengangguk saat ditawari kopi, Slamet juga meminta sebatang rokok. Dia langsung menyundut dan mengisapnya dengan tergesa. 


“Ada apa kok tadi sepertinya ribut-ribut sama si Andre?” tanya Karmin membuka percakapan. Slamet hanya menggeleng. Ia sibuk mengisap rokok di bibirnya. Begitu bara rokok mendekati filter, ia mematikannya di asbak lantas beranjak kembali ke rumahnya. Tak sampai semenit, Slamet keluar kembali sambil menenteng lukisan yang belum dibingkai. Ia menitipkannya kepada Hartono, tetangga di belakang rumahnya, lalu kembali menghampiri Karmin dan meminta rokok.

Tak banyak kalimat yang dilontarkan Slamet. Toh, Karmin bisa memakluminya. Begitupun ketika lelaki itu meminta diantar ke kantor Kecamatan Limo dengan sepeda motor, ia manut saja. Maksudnya apa, ia tak peduli. Tapi, ketika memasuki pintu gerbang kecamatan, tiba-tiba Slamet mengeluh sakit di bagian perut. “Pas sehabis memarkir motornya, dia jatuh. Jadi saya ajak balik lagi ke rumah,” tutur Karmin kepada detikX, Senin, 18 Januari. 

Begitu sampai di rumah, ia melanjutkan, Slamet, yang masih di atas sepeda motor, kembali terjatuh. Wajahnya tampak pucat pasi. Sambil terduduk di teras depan kontrakannya, ia dengan terbata-bata mengungkapkan bahwa Andre telah membunuh Muhammad Farel Azalia, 13 tahun, yang tinggal persis di sebelah rumahnya. “Istri saya shock mendengarnya. Teh manis di gelas buat Pak Slamet sampai tumpah dan gelasnya pecah terjatuh,” ujar Karmin. 

Menurut keterangan Slamet kepada Karmin, Andre masuk rumah Agus melalui plafon rumah bagian belakang. Saat kepergok, anaknya itu justru berang dan mengancam sang ayah. Karena itu, musik sengaja disetel keras-keras agar pertengkaran tak terdengar para tetangga.

Anaknya kecil, putih, ganteng, lugu dan penurut. Kalau main ya di sini aja."

Tak sampai setengah jam, aparat dari Polsek Limo berdatangan. Mereka membuka paksa pintu depan. Benar saja, Farel sudah terbujur kaku bersimbah darah di kamar mandi, sedangkan kamar tidur terlihat berantakan. Agus Jatmiko, ayah Farel, yang datang kemudian, langsung menangis histeris melihat kondisi putra sulungnya itu. 

Sugimin, Ketua RT 02 RW 01, Kelurahan Limo, mengenang Farel sebagai anak baik yang gemar bermain PlayStation. Meski kerap ditinggal kedua orang tuanya, Agus Jatmiko dan Narulita, bekerja, Farel tak suka bertingkah atau nakal. Setiap kali pulang sekolah, apalagi di hari libur, murid kelas satu SMP 17 Limo itu kerap berkumpul di tempat penyewaan PS di sekitar kampung itu bersama teman-teman sebayanya.  "Anaknya kecil, putih, ganteng, lugu, dan penurut. Kalau main ya di sini saja," kata Sugimin, yang dibenarkan ibu-ibu warga setempat. 


Di sekolah, menurut Kepala SMP Negeri 17 Limo, Sahir, Farel cenderung pendiam dan santun. Karena itu, banyak guru dan teman pelajar yang tak percaya ada orang begitu tega membunuhnya. Apalagi pelaku adalah tetangga rumah sebelahnya. “Saya dengar Farel sudah minta ampun, tapi tetap ditusuk juga. Itu keji sekali,” ujarnya.  

Seusai upacara bendera Senin, 18 Januari, segenap pelajar dan para guru menggelar salat gaib. Mereka juga mengumpulkan uang duka untuk orang tua Farel. “Beberapa guru saya minta ikut mengantarkan jenazah Farel untuk dikuburkan di Tasikmalaya,” kata Sahir. 


Reporter/Penulis: Rizal Maslan 
Editor: Sudrajat 
Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.



SHARE