Si-Begajulan-yang-Terbuang

CRIME STORY

Si Begajulan
dari Koja

Pembunuhan Imas Kartika, pekerja seks yang dikencani Syahril, seperti menjadi puncak kebejatannya. Orang tua dan keluarganya sudah tak peduli.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 28 Juli 2016

Atika, Imas Kartika biasa disapa, ditemukan tewas bersimbah darah di salah satu kamar di Hotel Elysta, Cilincing, Jakarta Utara, dua pekan lalu. Sang pelaku, Syahril Sidik, 29 tahun, berhasil ditangkap tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya di Purwakarta, Jawa Barat, beberapa hari kemudian. Polisi menduga, Syahril merencanakan pembunuhan itu lantaran terbelit utang. Setelah membunuh Alika, Syahril membawa kabur sepeda motor dan dua ponsel milik Alika.

Di lingkungan Blok F Gang 1, Nomor 54, Koja, Jakarta Utara, nama Syahril Sidik identik dengan segala tindak kriminal. Gemar mabuk, suka mencuri, menggadaikan aset orang lain, mengemplang utang, hingga gonta-ganti pekerja seks untuk menyalurkan libidonya.

Meski demikian, dia tak pernah sekali pun berurusan dengan polisi, apalagi sampai dipenjara. Mungkin karena itulah dia tak pernah kapok untuk mengulangi berbagai perbuatan tercelanya.

“Dia memang bengal banget, begajulan abis. Suka minum, judi, nyuri, doyan banget sama perempuan. Enggak boleh lihat barang orang nganggur, pasti disabet, tuh,” tutur Warkim, 46 tahun, paman Syahril, saat ditemui detikX, Kamis, 14 Juli 2016.

Kedua orang tua Syahril, Ismail dan Marhani, kata Warkim, sudah angkat tangan karena kerap dibuat malu oleh tingkah anaknya itu. Berbagai nasihat tak pernah digubris Syahril, seolah masuk telinga kanan, keluar kuping kiri. Menurut lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pengayuh becak itu, keponakannya tersebut pernah dipukuli banyak warga karena ketahuan mencuri barang. Tapi, begitu pulih dari babak belur, Syahril seperti tak kapok untuk mencuri lagi.

“Mungkin dia punya penyakit doyan nyolong. Kagak kapok-kapok karena enggak pernah dilaporkan ke polisi. Sama bapak dan adiknya enggak akur. Dia sudah kayak terbuang dari keluarganya,” ujar Warkim.

Setiap kali punya uang, baik hasil gajian sebagai office boy maupun entah sumber dari mana, Syahril biasa mentraktir teman-teman yang biasa menemaninya kongko."

Sehari sebelum membunuh Imas Kartika, seorang pekerja seks, ia melanjutkan, Syahril menginap di rumahnya. Sebelum tertidur di ruang tamu, menurut Warkim, Syahril terlihat sibuk berbalas pesan melalui telepon seluler. “Mungkin dia SMS-an sama ceweknya. Enggak tahu siapa. Cuma, saya dengar HP-nya bunyi ting-tong, ting-tong terus,” ujar Warkim.

Ditemui terpisah, Ismail tak menepis berbagai informasi miring yang diungkapkan adik iparnya itu. Ia malah mengungkapkan kesaksian lain ihwal perilaku putra sulungnya itu. Pada suatu hari, kata Ismail, ia kaget bukan kepalang karena ada orang Madura yang tiba-tiba menagih utang Rp 2 juta. Entah kapan dan digunakan untuk apa uang sebanyak itu oleh Syahril. “La, saya kagak tahu apa-apa ujug-ujug ditagih Rp 2 juta. Gimana coba?” kata Ismail.

Hendra, adik Syahril, yang mendampingi Ismail, menambahkan bahwa kakaknya itu pernah mencuri dan menjual laptop miliknya pada 2014. Padahal laptop itu dibeli dengan hasil jerih payahnya memberikan les di sela-sela kuliah. “Makanya saya sebal banget sama dia,” ujar mahasiswa semester VII di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Utara itu.

Hendra tak kaget ketika hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tim medis kepolisian menyebut bahwa kakaknya itu mengidap HIV stadium III. Sebab, sebelumnya, Syahril diketahui telah lama mengidap sifilis. “Dia sudah lama kena (sifilis), tapi mungkin karena lama enggak minum obat, dia malah kena HIV,” kata Hendra.

Meski punya banyak catatan hitam, Syahril tergolong supel dalam pergaulan dengan sesamanya. Hal itu mungkin karena pembawaannya yang tergolong royal. Setiap kali punya uang, baik hasil gajian sebagai office boy maupun entah sumber dari mana, dia biasa mentraktir teman-teman yang menemaninya kongko. “Anehnya, kalau ke ibunya, dia justru jarang ngasih duit,” ujar Warkim diiringi tawa berderai.

Terlepas dari semua itu, Ismail berharap apa yang menimpa Syahril sekarang ini dapat menyadarkannya, sehingga tidak lagi bertindak kriminal. Sebab, dia dan istrinya boleh dibilang sudah kehabisan akal dalam mendidik putranya yang lahir pada 3 Juli 1987 itu. Berbagai nasihat, dari yang halus hingga yang bernada ancaman, tak membuatnya kapok.

Sejak Syahril ditangkap dan ditahan polisi pada 13 Juli karena pembunuhan tersebut, Ismail belum berniat menjenguk putranya itu. Begitupun dengan Hendra dan Warkim. “Biarin aja polisi yang ngurus semua,” kata lelaki yang mengenakan sarung kotak-kotak hijau, baju koko krem, dan kopiah putih itu.

“Kalau nyolong, mabuk, main perempuan mah masih kita anu, deh. Tapi ini ngebunuh orang…,” ujar Ismail tanpa menuntaskan kalimatnya. Kedua bola matanya seketika berkaca-kaca. Mulutnya terkatup rapat. Sejurus kemudian, dia memberi isyarat agar detikX mengakhiri percakapan dan meninggalkan kediamannya.


Reporter: Rizky Ramandhika (magang)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar  ilustrasi yang menarik.

SHARE