Santoso-Dasamuka-dari-Banyuwangi

CRIME STORY

Santoso, Dasamuka
dari Banyuwangi

Berpostur tinggi-besar dan memiliki kumis baplang membuat Santoso mudah bersalin rupa. Mengaku sebagai wartawan, polisi, hingga tentara.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 19 Juli 2016

Meski tak lulus sekolah dasar, Santoso, 47 tahun, punya kemampuan bersalin rupa yang mengagumkan. Tentu bukan penampilan wajahnya yang bergonta-ganti layaknya tokoh Dasamuka dalam dunia pewayangan. Tapi dia pandai mengarang tentang beragam profesi yang dilakoni. Guna meyakinkan orang-orang terdekat ataupun calon korban penipuannya, Santoso melengkapi diri dengan berderet kartu identitas.

Tim penyidik Kepolisian Resor Banyuwangi yang menahannya antara lain menemukan kartu identitas anggota Polri, TNI, dan BIN, kartu pers Semeru Pos, serta kartu klub olahraga menembak. Selain itu, Santoso punya kartu anggota sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang penyuluhan hukum yang dikelola mantan pengacara Iman Nur Rofiq.

Saat menyewa Suzuki Jimny dari Totok Supriyanto pada 1 November 2013, misalnya, ia mengaku dan berpenampilan sebagai anggota Badan Intelijen Negara. Mobil disewanya untuk mengawal seorang pejabat menuju Bali. Tapi kemudian mobil itu digadaikannya. Santoso jadi buron dan baru ditangkap polisi pada 9 Juni 2016.

“Semua kartu identitas itu palsu, sengaja dibuat untuk tujuan kriminal,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Stevie Arnold Rampengan kepada detikX, akhir Juni lalu.  

Sebaliknya, Santoso dengan santai berkilah bahwa penampilannya yang kerap berseragam polisi dan tentara sama sekali tidak dimaksudkan untuk menipu dan melakukan tindak kriminal lainnya. Foto dirinya pada kartu identitas yang tengah mengenakan seragam Polri maupun TNI, kata dia, dibuat saat mengikuti karnaval agustusan pada 2012 di Kecamatan Glenmore. “Pangkat di seragam foto-foto itu pakai gerenjeng rokok, ditempel, karena itu cuma buat karnaval saja," ujarnya enteng.

Pangkat di seragam foto-foto itu pakai gerenjeng rokok, ditempel, karena itu cuma buat karnaval saja."

Menurut penuturan sang kakak, Agus Suyitno, 52 tahun, semasa kecil, Santoso tinggal bersama orang tuanya di wilayah perkebunan karet di Desa Glenmore, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Keluarga mereka hidup pas-pasan karena orang tuanya hanya bekerja sebagai penyadap karet. “Dia dulu waktu kecil bisa hidup saja sudah alhamdulillah. Sekolah saja sampai kelas berapa gitu di SD,” ujar Agus saat detikX bertandang ke rumahnya di Dusun Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, awal Juli.

Agus juga mengatakan adiknya itu sangat jarang datang. Kalau ditanya soal pekerjaan, Santoso mengaku kerja di mana-mana, kadang di Bali, kadang di Jember.

Santoso merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, sementara Agus adalah kakaknya yang keenam. Ia menyebut adiknya itu hanya sesekali datang menemuinya. Itu pun biasanya bersama kawan-kawannya yang bertubuh tegap. Santoso, yang biasa mengenakan jaket hitam, tak pernah menjelaskan secara spesifik pekerjaannya. Kepada Agus, dia cuma mengaku pekerjaannya ada di mana-mana.

“Saya sih percaya saja kalau mereka aparat karena memang tubuhnya besar-besar dan tegap,” tuturnya.

Agus juga mengungkapkan Santoso pernah menikah dan memiliki satu anak perempuan bernama Nita. Nita sudah menikah dan memberi Santoso seorang cucu. Tapi dia menolak menjelaskan keberadaan mereka.

Sementara itu, menurut Totok, yang menjadi korban penipuan, Santoso diketahui memiliki istri kedua di daerah Ambulu, Jember. Dari istri keduanya ini, Santoso memiliki anak berumur 2 tahun. Totok pernah menemui istri Santoso itu untuk mencari tahu keberadaan Santoso. “Tapi dia bilang suaminya tak pernah pulang sehabis pemilu Bupati Banyuwangi pertengahan Desember 2015,” ujarnya.

Ketok (kelihatan) sangar. Saya pikir dari angkatan betul."

Totok percaya sang penipu itu sebagai anggota Polda Jawa Timur karena pernah mengakuinya demikian saat pertama kali berkenalan dengan istrinya sekitar tujuh tahun lalu. Kala itu Santoso, yang baru berburu, singgah ke rumahnya untuk ngopi. “Dulu, waktu Santoso berburu, kepada istri saya dia ngaku sebagai anggota Polda,” ujarnya.

Totok tak meragukan klaim Santoso itu bila menilik postur tubuh serta pembawaan Santoso yang jarang bercanda dan jarang senyum. “Ketok (kelihatan) sangar. Saya pikir dari angkatan betul.”

Santoso mengaku sejak lima bulan lalu memiliki senapan angin kaliber 4,5 milimeter. Untuk mendapatkan surat izin, ia membayar Rp 1,5 juta. Sementara itu, kartu identitas wartawan Semeru Pos, Lumajang, dan kartu intelijen diakuinya dibuat lewat kios percetakan di Banyuwangi. “Saya mengaku wartawan karena sering memberikan informasi berita tentang kecelakaan,” ujarnya enteng.


Reporter: Aditya Mardiastuti (Banyuwangi)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar  ilustrasi yang menarik.

SHARE