Aneka-Bisnis-Palsu-Intel-Gadungan

CRIME STORY

Aneka Bisnis Palsu
Intel Gadungan

Berpenampilan ala intel, Santoso mengaku punya bisnis minyak wangi, jamu, hingga jual-beli tokek. Demi menutupi bisnis palsunya, mobil sewaan digadaikan.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 19 Juli 2016

Bak kerbau dicokok hidungnya, Santoso tak lagi banyak tingkah saat polisi menyergapnya di sebuah rumah di Kampung Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, 9 Juni 2016. Tubuhnya yang tinggi-besar dengan kumis baplang tak lagi memancarkan wibawa seorang aparat intelijen seperti yang kerap dipamerkannya. Lelaki berusia 46 tahun itu lebih banyak diam dan menundukkan kepala saat digelandang ke Markas Kepolisian Resor Banyuwangi setelah jadi buron selama tiga tahun.

“Orang itu ngaku anggota BIN wilayah Jawa Timur dengan sandi Semeru. Dia pinjem Suzuki Jimny off road 4x4, katanya untuk mengamankan orang ke Bali," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Stevie Arnold Rampengan kepada detikX, 28 Juni lalu.

Kata Haji Arif, dia orang biasa saja yang suka berburu. Cuma, kalau ngomong memang banyak ngarang.”

Santoso jadi buron setelah menggadaikan mobil Suzuki Jimny keluaran 1983 yang disewanya dari Totok Supriyono pada 1 November 2013. Postur tubuhnya sepintas memang amat meyakinkan ketika dia mengaku sebagai anggota intel Polda Jawa Timur di wilayah Semeru. Apalagi dia juga menunjukkan sejumlah identitas, seperti agenda, foto berpangkat ajun komisaris besar polisi, dan borgol yang terselip di pinggangnya. Ditambah lagi Santoso bicara seperlunya dan jarang tersenyum.

“Saya sama sekali enggak curiga karena sebelumnya dia sering main ke rumah. Apalagi istri saya pun mengenal dia sebagai orang Polda,” kata Totok saat ditemui detikX, akhir Juni lalu.

Warga Kalibaru Kulon, Banyuwangi, itu pun menyerahkan begitu saja Suzuki Jimny yang dibutuhkan sang intel gadungan tersebut. Mobil itu didapatnya dari Wawan Supriadi, yang diketahuinya memang hendak menjual mobil koleksinya tersebut. Transaksi dilakukan di rumah Joko, kakak Totok, yang memiliki usaha rental mobil di Kalibaru Kulon.


“Kalau lihat penampilannya, saya pikir dia betul dari angkatan. Dia perlu mobil untuk berburu. Kebetulan (mobil) punya teman saya, Wawan, mau dijual," ujar Totok.

Kepada Totok dan Wawan, Santoso berjanji akan membeli mobil itu setelah panen jahe. Dia mengaku punya kebun seluas 8 hektare di Gunung Sanen, Kalibaru.

Namun, setelah beberapa hari, Santoso tak pernah berkirim kabar. Nomor telepon seluler yang diberikan saat dihubungi tulalit. Totok kian panik karena Wawan berkali-kali menanyakan uang sewa mobil dan meminta pertanggungjawaban darinya. "Saya kemudian lapor ke Polsek Kalibaru pada 25 Februari 2014," ujar Totok.

Anggota intelijen itu biasanya tidak akan mudah membeberkan identitasnya. Jadi masyarakat jangan gampang terkecoh."

Sebelumnya, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai petugas pembagi air di Balai Besar Wilayah Sungai Berantas itu berusaha melacak keberadaan Santoso. Bak detektif partikelir, dia mengendus jejak sang intel gadungan itu ke istri dan sejumlah kerabatnya di Jember. Tapi semua menggeleng. Mereka berkilah sudah lama tak berjumpa dengan Santoso karena tugas dan pekerjaannya memang kerap berpindah.

Di tengah rasa frustrasi, Totok teringat Haji Arif Subagyo, yang namanya kerap disebut-sebut Santoso sebagai temannya berburu. Arif kebetulan tinggal di kawasan Jember. Dari Arif-lah akhirnya Totok menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah tertipu. Sebab, Santoso ternyata bukan anggota intel Polda, apalagi Badan Intelijen Negara. “Kata Haji Arif, dia orang biasa saja yang suka berburu. Cuma, kalau ngomong memang banyak ngarang,” ujar Totok.

Saat ditemui detikX dalam kesempatan terpisah, Santoso mengaku sengaja menyewa Suzuki Jimny karena murah, Rp 1.5 juta per bulan. Mobil itu digunakan untuk berdagang minyak wangi dan jamu di Bali. Tapi, di tengah menjalankan bisnisnya, warga Dusun Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi, itu menggadaikan mobil karena tergiur oleh keuntungan berbisnis tokek.


Santoso mengaku seorang temannya menyebut harga tokek di Surabaya bisa mencapai Rp 100 juta per ons. “Kebetulan ada orang yang menawarkan tokek sepanjang 67 cm, harganya Rp 18 juta,” ujar lelaki tambun berkulit sawo matang itu. Karena tergiur oleh keuntungan yang bakal didapat, ia pun menggadaikan Suzuki Jimny itu di Bali. “Harganya pas dengan nilai tokek, Rp 18 juta,” ujarnya. Sial, dua hari menjelang dikirim ke Surabaya, Santoso mengklaim, tokek yang dibelinya itu mati.

Kini, untuk melunasi uang sewa dan mengganti mobil yang telah digadaikannya, Santoso menyebut sejumlah kakak dan kerabat dekatnya akan mengumpulkan iuran untuk membantunya. “Mbak saya sudah janji akan bantu mbayari di bulan tujuh (Juli), Joko sudah saya beri tahu,” ujar lelaki kelahiran Desa Glenmore, Kecamatan Sempu, 1 Desember 1970, itu. 

Menurut Stevie Arnold, atas perbuatannya itu, Santoso dijerat dengan delik penipuan dan penggelapan. “Ancaman hukumannya empat tahun penjara,” ujarnya.

Belajar dari Kisah ini, Stevie mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dengan modus seperti ini. Apalagi penipuan seperti ini marak dilakukan untuk mengelabui korban. Ia menyarankan agar masyarakat tak mudah silau oleh perilaku orang-orang yang petantang-petenteng mengaku sebagai aparatur negara, apalagi anggota BIN.

"Anggota intelijen itu biasanya tidak akan mudah membeberkan identitasnya. Jadi masyarakat jangan gampang terkecoh," ujar Stevie.


Reporter: Aditya Mardiastuti (Banyuwangi)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar  ilustrasi yang menarik.

SHARE