Paedofil-Minder-Dari-Girimulya

CRIME STORY

Predator Minder
dari Girimulya

Seorang pemuda di Bogor tega memperkosa anak balita hingga tewas. Guna mengecoh warga dan polisi, pelaku ikut sibuk mencari korban yang menghilang.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 24 Mei 2016

Mungkin karena merasa kurang tampan serta punya pendidikan dan penghasilan yang pas-pasan, Budiansyah, 26 tahun, tumbuh menjadi pemuda rendah diri. Warga Kampung Pabuaran Tonggoh, Desa Girimulya, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, itu jarang bergaul dengan teman-teman lelaki sebaya di kampungnya. Juga tak punya teman dekat perempuan. Padahal, sebagai lelaki normal, tentu dia punya hasrat seksual yang terkadang meletup-letup terhadap lawan jenis.

Dalam kondisi seperti itulah, bagi Budiansyah berlaku pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi” alias “tak ada gadis, anak balita pun jadi”. Entah iblis mana yang merasuki jiwanya, ia bertindak layaknya seorang paedofil. Ia tega menyetubuhi seorang anak balita yang belum genap 30 bulan, Laela Nurhidayah, pada Minggu, 8 Mei 2016. “Saya lagi pingin begitu saja, iya lagi pingin saja. Terus dia (Laela) saya begituin saja,” kata Budiansyah singkat saat ditemui di Markas Kepolisian Sektor Cibungbulang, Rabu, 11 Mei 2016.

Sulung dari tiga bersaudara keluarga Anda itu ditangkap polisi pada Selasa dini hari, 10 Mei. Polisi mencokoknya setelah anjing pelacak yang dikerahkan dari Markas Komando Brimob Kelapa Dua tak mau beranjak dari kediaman Budiansyah. Beberapa jam sebelumnya, putri pertama pasangan Ahmad Samiran dan Nuryanah, yang dikabarkan menghilang sejak Minggu pagi, 8 Mei, ditemukan di halaman belakang rumah Budiansyah dalam kondisi tak bernyawa. Tubuhnya terbungkus kain dengan wajah membiru dan menimbulkan bau tak sedap.

Kepada polisi yang memeriksanya, bujangan itu sempat mengelak melakukan tindak asusila sampai si anak balita meninggal. Namun, berkat pendekatan dari hati ke hati yang dilakukan para penyidik, Budiansyah akhirnya mau buka suara dengan gamblang. “Pelaku mengaku suka sama korban karena memiliki kulit putih,” kata Kepala Polsek Cibungbulang Komisaris Ronny Mardiatun kepada detikX.

Minggu pagi itu, korban tengah bermain bersama beberapa anak balita sebayanya. Saat sang nenek, Rukiyah, lengah, Budiansyah segera menyambar Laela dan menggendong ke rumahnya yang cuma terpaut sekitar 100 meter. Dia langsung melakukan tindak asusila kepada si balita di kamar mandi. Saat bocah itu menangis dan meronta, Budiansyah membekap dengan telapak tangannya.

Dia mengaku berbuat dengan sadar karena suka pada korban yang berkulit putih.”

Tak cukup sekali. Dia kembali mengulangi perbuatan kejinya di kamar tidur. Kali ini si balita ia bekap dengan kain. Begitu tahu kondisi korban lemas dan kemudian tak bernyawa, Budiansyah panik. Ia lantas menyembunyikan jasadnya ke dalam lemari pakaian.

Meski selama pemeriksaan Budiansyah masih bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan mengaku melakukan perbuatan nista itu secara sadar, polisi berencana menghadirkan ahli kejiwaan untuk memeriksa kondisi psikologinya. Sebab, kata Ronny, pelaku juga seperti orang yang mengalami depresi dalam masalah percintaan. Dia pernah menjalin tali kasih dengan perempuan, tapi putus beberapa tahun lalu. “Jadi dia itu minder. Dia merasa tidak ada perempuan seusianya yang suka kepadanya,” ujar Ronny.

Ketika orang tua korban beserta warga sekitar sibuk mencari keberadaan si anak balita, menurut Ronny, Budiansyah ikut melakukan pencarian. Juga turut serta dalam pengajian yang digelar keluarga korban dalam upaya mencari keberadaan korban. Bujang itu pun melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Dia ikut berbincang dengan warga lain, menunjukkan keprihatinan atas raibnya si balita.

Budiansyah membiarkan jasad Laela di dalam lemari tersebut sekitar 30 jam. Ia keluar dari rumah seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan, pada Minggu siang, ia ikut bersama tetangga dan keluarga Ahmad Samiran dan Nuryanah mencari korban.

Pada Senin pagi, Budiansyah tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Ia ke pabrik batako milik ayahnya untuk bekerja.

Ia juga sempat mengantarkan batako menggunakan mobil kepada seorang pembeli bersama ayahnya. “Iya, hari Senin pagi itu dia ke sini beli gorengan. Dia sempat bilang, ‘Kok kampung kita jadi ramai begini ya, Bu,’” ujar seorang tetangga Budiansyah kepada detikX.

Kepada predator biadab seperti ini memang bisa dikenakan hukuman mati. Cuma, kalau mau proses hukum ini berjalan dengan baik dan tuntas, asumsinya pelaku itu waras.”

Ahli psikologi forensik dari Universitas Bina Nusantara, Reza Indragiri Amriel, menilai tindak asusila yang dilakukan Budiansyah tergolong terencana. Namun soal si korban kemudian meninggal, ada kemungkinan di luar rencananya.

Ia setuju dilakukan uji kejiwaan terhadap pelaku. Bila kondisi mental yang bersangkutan normal, hukuman pidana maksimal bisa dialamatkan kepadanya.

“Kepada predator biadab seperti ini memang bisa dikenakan hukuman mati. Cuma, kalau mau proses hukum ini berjalan dengan baik dan tuntas, asumsinya pelaku itu waras, bukan orang yang didiagnosis memiliki kelainan jiwa,” kata Reza.

Sejak kasus ini menjadi sorotan luas dari publik, keluarga Budiansyah tak terlihat lagi di rumahnya. Pabrik batako milik ayah pelaku pun tak beroperasi. Tetangga kanan-kiri yang ditemui detikX mengaku tak tahu-menahu ke mana gerangan mereka pergi.


Reporter: Farhan (Bogor)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE