Dosen-Bunuh-Mantan
image for mobile / touch device
image 1 for background / image background
image 2
image 4

CRIME STORY

Ditolak Rujuk, Dosen Bunuh Pegawai BRI

Seorang doktor ilmu hukum di Universitas Andalas dihukum penjara seumur hidup karena membunuh mantan istrinya. Kalap setelah ajakan rujuk tak dipenuhi.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin,  4 April 2016

Secara akademis, prestasi Ilmul Khaer bin Abdul Latif, 42 tahun, cukup mencorong. Titel doktor ilmu hukum internasional diraihnya dari Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 19 Juni 2014. Tak lama berselang, kariernya di kampus pun ikut melejit. Jabatan sekretaris jurusan di Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, hanya tinggal menunggu waktu pelantikan. Semua itu mendorong Ilmul kian bulat untuk kembali merajut rumah tangga yang sempat koyak dengan Dewi Yulia Sartika, 37 tahun. Ia juga yakin sepasang anaknya, Elif, 8 tahun, dan Isyraf, 7 tahun, bakal tumbuh dan berkembang dengan lebih baik bila mendapatkan asuhan dari ibu dan ayahnya secara utuh.

Jalan terang kembali rujuk ia rasakan ketika Dewi merespons ajakannya bertemu pada awal April 2015. Keduanya sempat berbincang mesra, mengenang masa-masa indah selama lebih dari lima tahun menjalin rumah tangga. Apalagi, setiap kali waktu salat tiba, Dewi dengan khusyuk menjadi makmum di belakangnya. Semua itu membuat Ilmul berbunga-bunga.

Tapi entah kenapa, selang beberapa hari kemudian, sikap Dewi berubah drastis. Dia tak lagi merespons ajakan bertemu. Begitupun sikap kedua anaknya. Setiap kali hendak dijemput sepulang sekolah di SD Adzkia, Padang, Elif dan Isyraf malah bersembunyi. Kenyataan ini benar-benar membuat Ilmul masygul. Hidupnya serasa hampa. Padahal ia sudah merancang aktivitas bersama saat memasuki masa liburan sekolah.

Kalau Dewi tidak mau melihat atau memandang Uda, lihat kedua anak kita."

Baru pada Sabtu, 4 April 2015, pegawai BRI Kota Padang itu akhirnya bersedia memenuhi ajakan Ilmul untuk kembali bertemu. Hanya, waktu dan lokasi pertemuan terus berubah-ubah dengan dalih yang bagi Ilmul terasa dibuat-buat. Tapi, ketika menjelang senja pertemuan akhirnya terjadi, ia senang bukan kepalang. Apalagi Dewi tak merasa keberatan saat diajak berbelanja di sebuah mal. Juga tak berkeberatan saat diajak singgah ke rumah Ilmul. Selepas magrib, keduanya tiba di rumah orang tua Ilmul yang kosong di Jalan Koto Marapak, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Saat materi pembicaraan mengarah ke upaya rujuk, Dewi tak menunjukkan antusiasme yang sama. Perempuan lulusan Institut Teknologi Bandung itu langsung terdiam setiap kali Ilmul mengungkapkan niat kembali merajut rumah tangga bersama. “Kalau indak bana Dewi maliek Uda, tapi caliaklah kaduo anak awak (kalau Dewi tidak mau melihat atau memandang saya, lihat kedua anak kita),” Ilmul membujuk, seperti tertuang dalam salinan putusan Pengadilan Negeri Padang yang didapat detikX melalui situs Mahkamah Agung.

Tapi, tulis putusan yang ditandatangani hakim Badrun Zaini, Yose Ana Roslinda, dan Sri Hartati tersebut, Dewi terus menggeleng, lalu diam. Membisu. “Kalau Dewi bakareh juo, bia awak salat Isya berjamaah dulu (kalau Dewi berkeras juga, kita salat isya berjemaah dulu),” Ilmul kembali membujuk dengan sabar. Tapi Dewi malah bangkit dari duduknya, menuju pintu keluar. Ilmul sontak mendekatinya, lalu mengelus bahu mantan istrinya itu sambil berkata, “Tunggulah dulu, Wi. Sabarlah dulu, Dewi. Salat isya awak dulu.”

Bukannya melunakkan hati Dewi, bujukan itu justru malah membuatnya meronta. Mantan suaminya itu ia dorong sambil berkata dengan ketus, “Indak adoh di den lai doh, kamanga (sudah tidak ada lagi pada saya, mau apa).”

Lelaki kelahiran 15 Juli 1972 itu terkesiap, tak menyangka akan mendapat penolakan yang dia rasa amat kasar. Tubuhnya terjengkang di lantai. Emosinya seketika tersulut. Begitu bangkit, Ilmul langsung mendekati laci tempat tidur dan mengeluarkan sebilah sangkur. Dengan kalap, ia menusukkan sangkur tersebut ke arah dada kanan perempuan yang amat dicintainya itu. “Aduh....” Cuma itu kata yang terucap dari mulut Dewi, lalu ambruk bersimbah darah.

Melihat ibu dua anaknya itu terkapar, Ilmul panik. Ia memeluknya dan berusaha menghentikan aliran darah yang deras mengucur. Sia-sia. Hanya dalam hitungan menit, denyut nadi dan jantung Dewi berhenti untuk selamanya.

Antara sadar dan tidak, Ilmul mencopot baju dan menyambar handuk sekenanya. Ia berupaya membersihkan ceceran darah di depan kamar tidurnya itu. Lalu membopong tubuh Dewi yang sudah tak bernyawa ke dalam mobil Suzuki Katana. Ilmul benar-benar galau. Tak tahu apa yang hendak diperbuat dengan jasad perempuan yang didudukkan di kursi di samping kemudinya itu. Setelah berjam-jam berkeliling Kota Padang, ia lantas memacu mobil itu menuju Jambi.

* * *

Suasana di sekitar SPBU Pelawan Singkut, Sarolangun, Jambi, masih sepi saat Riani tiba di tempat kerjanya itu pada Senin, 6 April, pagi. Anehnya, sepagi itu sebuah Suzuki Katana warna hitam sudah terparkir di sana. Bau tak sedap muncul dari arah mobil tersebut. Saat didekati, ternyata sosok perempuan berjilbab yang terduduk di kursi samping kemudi sudah kaku. Pakaiannya penuh bercak darah.

“Iya, dia istri saya. Sudah meninggal,” kata Ilmul saat Riani menghampirinya di musala SPBU. Penampilan Ilmul kala itu tampak seperti orang linglung. Dari mulutnya tercium bau cairan antiserangga. Tak sampai 10 menit, polisi berdatangan ke SPBU. Dengan tangan diborgol, Ilmul dibawa ke rumah sakit.

“Rencananya, pelaku akan membuang jenazah di kawasan Jambi. Tapi, saat dalam perjalanan, dia merasa bersalah dan bimbang, lalu akhirnya sampailah ke SPBU Singkut itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Padang Komisaris Franky M. Monathen kepada pers kala itu.


Majelis hakim Pengadilan Negeri Padang pada 8 Maret lalu menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup terhadap Ilmul. Hukuman itu jauh lebih berat ketimbang tuntutan jaksa Sudarmanto, yakni 20 tahun penjara. Ada tiga poin pertimbangan yang membuat majelis hakim menghukum seberat itu, yakni sebagai dosen ilmu hukum dengan titel doktor, seharusnya Ilmul lebih mengetahui dan memahami bahwa perbuatannya tersebut bertentangan dengan hukum. “Kedua anak terdakwa dan korban yang masih di bawah umur dalam menjalani hidupnya akan mengalami trauma dan beban mental yang berkepanjangan selama hidupnya,” tulis Badrun dan kawan-kawan.

Mendapat vonis seberat itu, Ilmul tak kuasa membendung air matanya. Tangisnya tak kunjung mereda ketika polisi menggiringnya masuk ke mobil tahanan menuju Lembaga Pemasyarakatan Muaro, Kota Padang.

Seakan melengkapi vonis hakim, Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Andalas Busyra Azheri menyatakan akan segera mengeluarkan surat keputusan untuk memecat Ilmul sebagai dosen. “Sejauh ini kampus baru mengeluarkan SK pemberhentian sementara,” kata Busyra.


Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE