Dosen-Bunuh-Mantan-2

CRIME STORY

Dua Kali Mencoba Bunuh Dewi

“Kalau saya tak berteriak, mungkin saya sudah jadi mayat.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin,  4 April 2016

Mereka yang mengenal Ilmul Khaer, 41 tahun, semuanya bersaksi bahwa ia adalah sosok yang santun dan religius. Karena itu, mereka tak mengira bila doktor ilmu hukum di Universitas Andalas, Padang, itu tega membunuh mantan istrinya, Dewi Yulia Sartika, 37 tahun, hanya karena menolak diajak rujuk. “Jujur saja, kami kaget mendengar kejadian itu. Kami mengenal dia sebagai pribadi yang baik di kalangan dosen Universitas Andalas,” kata Yanti, juru bicara Universitas Andalas.

Duke Ari Widagdo, yang sama-sama menempuh program doktoral bidang hukum di Universitas Padjadjaran, Bandung, bersama Ilmul, malah menilai sejawatnya itu sangat mencintai keluarga. Hampir setiap hari, kata Duke, Ilmul selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan kedua anaknya, juga dengan Dewi.

“Hubungannya dengan korban terlihat romantis. Keduanya tidak pernah bertengkar. Itu saya ketahui setiap kali dia bertelepon,” kata Duke. Pengajar ilmu hukum di Universitas Gorontalo itu bertetangga kos dengan Ilmul saat kuliah di Bandung.

Keterangan Duke tertuang dalam salinan putusan Pengadilan Negeri Padang yang ditandatangani hakim Badrun Zaini, Yose Ana Roslinda, dan Sri Hartati. Salinan itu dapat diunduh melalui situs Mahkamah Agung sejak pertengahan Maret lalu.

Jika memang suami yang baik dan romantis, kenapa Ilmul bercerai dengan Dewi, yang sehari-hari bekerja di BRI Kota Padang?

Dalam persidangan, Asril Aziz, ayah Dewi, punya cerita berbeda dengan Yanti maupun Duke. Menurut dia, Ilmul ternyata seorang lelaki yang kasar dan acap kali tak mampu mengontrol emosi. Lelaki berusia 52 tahun itu mengaku beberapa kali melihat putrinya mengalami kekerasan selama menjadi istri Ilmul,. Akibatnya, pada 12 Agustus 2012, Dewi resmi berpisah dengan Ilmul. “Tapi, sekitar tiga bulan kemudian, Ilmul mengajar rujuk. Keduanya pun kembali hidup serumah bersama kedua anaknya,” ujar Asril.

Tapi, pada pertengahan Juli 2014, Asril melanjutkan, menantunya itu kembali membuat ulah. Dia diketahui memukul Dewi dengan sebatang besi kunci setir mobil. Bukan cuma itu, Ilmul juga sempat berniat menusuk putrinya yang lulusan Institut Teknologi Bandung itu dengan pisau. Tapi hal itu urung dilakukan karena Dewi langsung berteriak. “Kalau saya tak berteriak, mungkin saya sudah jadi mayat,” ucap Asril menirukan pengakuan Dewi kala itu. Ia mengaku sempat marah dan akan melaporkan kasus itu ke polisi. Namun Dewi mencegahnya.

Ini urusan keluarga, biar saya selesaikan sendiri."

Aksi kekerasan kembali terulang pada Januari 2015. Kala itu Dewi datang ke rumah Asril dengan kondisi pelipis kiri lebam. Melihat kondisi putrinya itu, Asril mengaku sempat gusar dan menawarkan diri untuk menyelesaikan persoalannya dengan Ilmul. Tapi Dewi menyergah, “Ini urusan keluarga, biar saya selesaikan sendiri.” Tapi sejak itu Dewi dan kedua anaknya memutuskan tinggal bersama Asril di Siteba. Sedangkan Ilmul hidup sendiri di rumah kontrakan.

Ilmul menepis sebagian kesaksian Asril. Ia menegaskan, pada Juli 20014 tak pernah berniat melukai, apalagi membunuh istrinya dengan cara menusuknya dengan pisau. “Itu berlebihan, fitnah,” ujarnya kepada majelis hakim.

Pada Sabtu, 4 April 2015, sekitar pukul 14.00 WIB, Dewi berpamitan kepada ibunya dan Asril untuk menjemput kedua anaknya yang tengah bermain bersama kerabatnya di Mal Plaza Andalas. Selepas asar, dia kembali berpamitan untuk menemui rekan sekantornya, Yulianti Nishrina (Rina). Belakangan diketahui, Dewi, yang dua hari sebelumnya mendapatkan insentif dari kantor, berniat mentraktir Rina dan teman-temannya sesama pegawai BRI karaokean di Tee Box Karaoke, Padang. “Saat itu dia datang dengan ceria sekali. Kami sempat berbincang selama sekitar 30 menit,” kata Rina saat bersaksi di persidangan.

Saking cerianya, Dewi sempat memperlihatkan pesan singkat dari Ilmul di telepon selulernya. Mantan suaminya itu mengajak bertemu, tapi Dewi diminta tidak mengajak anak-anak. Rina mengaku sempat bertanya kenapa anak-anak tak boleh ikut serta. Namun, belum sempat menjawab, sejawatnya mendapat panggilan telepon dari Ilmul dan langsung berpamitan. “Sejak itu saya tak ada komunikasi lagi, dan baru tahu dari pemberitaan bahwa Dewi sudah meninggal,” tutur Rina.

Menurut Asril, pada Sabtu pukul 23.00 WIB, putrinya itu tak bisa lagi dihubungi. Karena itu, dia langsung menuju kediaman Ilmul, tapi kosong. Dari situ dia bergegas menuju kantor BRI, tapi juga nihil. Begitupun di kediaman orang tua Ilmul di Koto Marapak, sudah terlihat sunyi.

Baru pada Minggu, 5 April 2015, siang, Diah, kakak Ilmul, mengabarkan soal penemuan tas berisi surat-surat atas nama Dewi Yulia Sartika. Kondisi tas yang ditemukan di daerah Kiliran Jao, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, itu berlumuran darah. Dua hari kemudian, Selasa, 7 April 2015, Asril mendapatkan kabar dari Kepolisian Resor Sarolangun, Jambi, bahwa mayat Dewi ditemukan di SPBU Pelawan Singkut.


Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE