Cucu-Gorok-Nenek-
image for mobile / touch device
image 1 for background / image background
image 2
image 4

CRIME STORY

Dendam,
Atlet Bulu Tangkis Bunuh Nenek

Pelajar kelas I SMAK yang menjadi atlet bulu tangkis di sekolahnya tega membunuh sang nenek dengan sadis. Apa dosa sang nenek?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 10 Maret 2016

Azan subuh sayup-sayup baru saja berkumandang pada Minggu, 21 Februari 2016. Pada saat yang sama, di kamar mandi lantai bawah terdengar suara gemercik air, yang menandakan Nenek Betsy Soesilowati, 91 tahun, terbangun. Alan alias ASR, 16 tahun, yang tidur di lantai dua juga terjaga. Maklum, pagi itu dia berniat jalan-jalan bersama teman-temannya dalam rangka Hari Bebas Kendaraan atau Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur.

Rumah bercat putih di Jalan Bandulan Nomor 4, RT 08 RW 03, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, itu sepi. Setiap subuh Hendi Sugeng, 55 tahun, ayah Alan, yang bekerja sebagai sopir angkutan kota, sudah keluar dari rumah. Sedangkan kakak Alan, Andika Gagah, 23 tahun, sejak sehari sebelumnya menginap di rumah temannya.

Dalam situasi sepi itulah, segerombolan iblis seperti merasuki jiwa Alan. Segenap rongga di kepalanya tiba-tiba berkelebatan bayangan ekspresi wajah bengis dan caci maki sang nenek. Ia pun menyelinap ke kamar tidur Betsy dan bersembunyi di balik pintu untuk melampiaskan dendam. Begitu suara langkah tertatih kian mendekat dan pintu terbuka perlahan, secepat kilat Alan melancarkan serangan. “Buk, buk, buk." Nenek yang sudah renta itu seketika terjengkang.

Melihat korban tak berdaya, Alan membopongnya ke tempat tidur. Dengan sebilah pisau dapur, ia kemudian menggorok leher Betsy. Darah segar menyembur, membasahi seprai, karpet, dan lantai kamar. Pelajar kelas I SMAK Santa Maria itu melakukan semuanya dengan cepat dan tenang, bak seorang jagal profesional.

“Jadi, setelah membunuh neneknya, pelaku bergabung dengan teman-temannya bermain di arena CFD hingga siang hari,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Malang Kota Ajun Komisaris Tatang Prajitno Panjaitan kepada detikX di Markas Polres beberapa waktu lalu.

Dari arena CFD, Alan mengajak kekasihnya, Susan, 16 tahun, jalan-jalan ke sebuah mal. Selain untuk cuci mata, rupanya dia berniat menjual beberapa perhiasan milik korban. Pihak toko menghargai perhiasan yang diakui Alan sebagai barang temuan itu Rp 850 ribu. “Uangnya digunakan untuk makan-makan, membayar utang, dan sedekah di sekolahnya. Aksi pelaku di toko emas itu terekam kamera,” ujar Tatang.

* * *

Selepas asar, Hendi terperanjat saat mendapati banyak bekas ceceran darah di dalam rumah ibunya. Meski masih letih, tanpa banyak pikir, ia segera membersihkannya dengan kain pel. Hingga beberapa waktu kemudian, ia heran karena ibundanya, Betsy, sama sekali tak keluar dari kamar. Tetangga kanan-kiri yang ditanya pun menyatakan tak melihat Betsy keluar dari rumah. Begitu juga dengan Alan, yang baru pulang pada malam hari.

Meski demikian, pertanyaan sang ayah membuat Alan galau. Ia putar otak bagaimana cara menghilangkan jejak. Pada Senin dini hari yang sunyi, Alan nekat membungkus jasad neneknya dengan kain gorden dan menceburkannya ke Sungai Metro. Pagi harinya, warga sekitar pun heboh oleh penemuan mayat Betsy yang tersangkut pada ranting pohon dekat tumpukan sampah di pinggiran sungai.

Dari keterangan beberapa warga yang mengenali jenazah itu, polisi langsung mendatangi rumah Betsy. Bercak darah masih bisa teridentifikasi di ranjang dan lantai. Di sisi lain, kondisi rumah utuh. Karena itu, polisi curiga, pelaku pembunuhan merupakan orang dekat korban. Mereka adalah Hendi, Andika, dan Alan, yang tinggal bersama di rumah itu. Sementara itu, jenazah sang nenek dikirim ke Rumah Sakit dr Saiful Anwar untuk diotopsi.

Ketika warga sekitar heboh dan polisi melakukan olah data di tempat penemuan mayat serta memeriksa kediaman korban, Alan berusaha bersikap sewajar mungkin. Pagi itu dia menuju SMA 8 karena menjadi salah seorang delegasi sekolahnya untuk bertanding bulu tangkis. “Dia salah satu atlet berbakat yang kami punyai,” kata Kepala SMAK Santa Maria, Kanisius Narumore, kepada detikX.


Kemahiran Alan bermain bulu tangkis itu sepertinya menjadi kompensasi dari kelemahannya di bidang akademis. Menurut Kanisius, dibanding Andika, kakaknya yang alumnus SMAK Santa Maria, Alan kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Tak aneh bila sejumlah guru memberi perhatian lebih terhadapnya.

Saat Alan sedang melakukan pemanasan, beberapa polisi mendatangi SMAK Santa Maria. Dari situ, diantar Kanisius, rombongan polisi berangkat menuju SMA 8 untuk menjemput Alan. “Polisi meminta kami mencari atlet pengganti karena Alan diduga keras telah membunuh neneknya,” ujar Kanisius.

Polisi menjerat Alan dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman di atas 15 tahun penjara.


Alan, Cucu yang Tak Diinginkan

Nenek Betsy mengisolasi kedua cucunya. Pakaian dan sepeda sang cucu pun dia buang.

Kamis, 10 Maret 2016

Meski tinggal satu atap, hubungan Betsy Soesilowati, 91 tahun, dengan kedua cucunya, Andika Gagah (23) dan Alan alias ASR (16), ternyata penuh dengan sekat. Si nenek mengharuskan cucu-cucunya itu menempati kamar di lantai atas dengan pintu masuk dari samping. Keduanya dilarang menginjak ruangan-ruangan di paviliun bawah, terutama kamar Betsy. Bila aturan itu dilanggar, caci maki dan sumpah serapah niscaya akan berhamburan dari mulut sang nenek.

Bahkan pernah suatu ketika Betsy membuang baju seragam sekolah Alan, sehingga pelajar kelas I SMAK Santa Maria Kota Malang itu tak bisa bersekolah. “Pernah juga sepeda si Alan dibuang, entah kenapa. Kalau melihat itu, ya sedih juga, kok begitu tega sama cucu sendiri," ujar Ratih, 74 tahun, pemilik toko kelontong di samping rumah Betsy.

Kenyataan itu tentu membuat Hendi Sugeng, 55 tahun, ayah Andika dan Alan, tak nyaman. Tapi, di sisi lain, ia tak berani bersikap konfrontatif kepada ibunya yang sudah sepuh itu. “Si Hendi pernah curhat dan tanya-tanya rumah kontrakan di sekitar sini,” ujar Ratih. Tapi, karena penghasilannya sebagai sopir angkutan kota tak seberapa, sepertinya niat pindah itu terpaksa dipendamnya. Dia pun sepertinya tak tega meninggalkan ibunya seorang diri.

Betsy tak pernah merestui perkawinan Hendi dengan Maria."

Kepada kedua putranya, Hendi cuma mengingatkan agar mereka bersikap sabar dan tetap hormat kepada neneknya. Meski begitu, Alan, yang masih tergolong remaja, tak habis mengerti kenapa sang nenek begitu membenci dirinya. Hal itu ia rasakan ketika sang ayah berpisah dengan ibunya, Maria, beberapa tahun silam. Mereka, yang semula tinggal bersama di Jalan Belimbing, Kota Malang, harus hijrah ke kediaman Betsy di Jalan Raya Bandulan Nomor 4, Kecamatan Sukun. Rumah dengan pagar bercat hijau tersebut memiliki dua lantai.

Seorang tetangga yang menolak disebutkan identitasnya mengungkapkan, Betsy tak pernah merestui perkawinan Hendi dengan Maria. Si nenek kemudian meminta agar kedua cucunya itu diserahkan kepada pihak lain. Permintaan itu tegas ditolak Hendi. Meski ekonominya morat-marit, ia tetap merawat kedua anaknya itu semampunya.


Ditemui detikX beberapa kali, Hendi menolak bicara. Alasannya, semua keterangan terkait kematian Betsy sudah disampaikan kepada tim penyidik. “Sudah, tanya polisi saja,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala SMAK Santa Maria, Kanisius Narumore, mengungkapkan Alan dan Andika tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya bercerai beberapa tahun lalu. Sebelumnya, keluarga itu tinggal di Jalan Belimbing. Hendi, yang cuma sopir angkutan kota, terpaksa membawa kedua anaknya tinggal di rumah Betsy untuk menghemat biaya.

Karena alasan ekonomi pula, kata Kanisius, pihak sekolah memberi keringanan biaya untuk Alan dan Andika. Hanya, dibandingkan dengan sang kakak, secara akademik Alan tak terlalu menonjol, sehingga harus mengikuti bimbingan konseling. Tapi, di bidang olahraga, khususnya bulu tangkis, Alan memiliki kemampuan lebih. "Dia salah satu atlet bulu tangkis kami," kata Kanisius.

Sehari-hari di sekolah, ia melanjutkan, Alan tergolong murid yang pendiam. Karena itu, banyak teman guru di sekolahnya terkaget-kaget saat polisi menangkap Alan dengan tuduhan telah membunuh neneknya dengan sadis. "Pada saat yang tepat, kami tentu akan membesuk Alan. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Kanisius.

* * *

Selama menjalani pemeriksaan, menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Malang Kota Ajun Komisaris Tatang Prajitno Panjaitan, seorang psikolog mendampingi Alan. Dari kajian psikolog, kata dia, kondisi kejiwaan Alan normal. Hanya, tim penyidik sempat dibuat jengkel karena Alan semula memberikan banyak keterangan palsu.

"Kata psikolog sih dia normal secara kejiwaan. Cuma, pelaku sempat membuat keterangan-keterangan palsu,” kata Tatang.

Setelah sekitar lima jam menjalani pemeriksaan dan polisi memperlihatkan rekaman kamera CCTV saat ia berada di toko emas, barulah Alan berkata jujur. Dia mengungkapkan seluruh kronologi kejadian dan segala unek-uneknya yang lama dipendam. “Sekitar pukul 19.00 WIB, dia akhirnya mengakui perbuatannya. Pelaku menyimpan dendam kepada korban karena tidak dianggap sebagai cucu oleh korban,” ujar Tatang.


Reporter: Muhammad Aminudin (Malang)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE