DetikNews
Jumat 06 Maret 2015, 11:22 WIB

Hakim Sarpin Rizaldi: Saya Sudah Marah Ini

- detikNews
Hakim Sarpin Rizaldi: Saya Sudah Marah Ini (Foto: Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta - Sarpin Rizaldi, hakim yang menyidangkan gugatan praperadilan Komisaris Jenderal Budi Gunawan, muak terhadap Komisi Yudisial (KY). Ia tidak mau memenuhi panggilan KY.

"Saya tak takut sama KY. Dilaporkannya saya ke MA, (kalau) diberhentikan, saya berhenti. Tapi saya buat perhitungan nanti," kata Sarpin.

Sempat dikabarkan menghilang setelah membuat putusan kontroversial dengan memenangkan praperadilan BG, begitu Budi biasa disebut, akhirnya
Sarpin mau berbicara blak-blakan kepada majalah detik. Sarpin mengaku mau berbicara karena sudah sangat emosional menghadapi komentar-komentar tentang dirinya, terlebih pernyataan yang menyebut Sarpin dibuang secara adat.

Untuk kasus BG, Sarpin menolak berkomentar. Namun ia berbicara menggebu-gebu tentang kasus yang membelitnya setelah mengeluarkan putusan praperadilan BG. Sarpin menjawab pertanyaan majalah detik dengan intonasi yang sering kali tinggi.

Selama satu jam, Monique Shintami dan Ibad Durohman dari majalah detik mewawancarai hakim Sarpin Rizaldi di kantornya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Rabu, 25 Februari. Berikut ini wawancaranya.

Dulu sekali Anda sempat jadi berita saat menjadi hakim di Aceh. Bagaimana ceritanya?

Saya dari Januari 1998 di Pengadilan Negeri Painan, Padang, dipindah ke Lhokseumawe. Anda tahu kapan Soeharto jatuh? Mei 1998. Jadi Anda boleh cek itu data-data terdahulu, itu beredar di detik, yang menyidangkan perkara Syekh (Ishak) Daud (tokoh Gerakan Aceh Merdeka) itu saya.
Jadi janganlah saya digertak-gertak.

Ke KY bilanglah sama dia, saya tak mempan digertak. Sebentar lagi, kalau ada perkara pidana Imam Anshori (Wakil Ketua KY) sama Taufiqurrohman Syahuri (komisioner KY), itu saya laporkan ke polisi, karena telah mencemarkan nama saya. Dia bilang saya bermasalah, ada 8 laporan (ke KY) segala macam.

Belum saya menangani perkara ini, dia sudah bikin statement di media. Hakimnya bermasalah, ada 8 laporan, betul tidak? Dia akan saya laporkan ke polisi karena saya tidak mau terpengaruh oleh dua orang itu.

Apakah 8 kasus yang dilaporkan ke KY itu sudah clear?

Seumur hidup saya, 23 tahun jadi hakim, saya pernah dua kali dipanggil KY berdasarkan laporan. Anda tahu hakim itu pekerjaannya apa? Menghadapi dua pihak yang beperkara, satu kalah, yang satu menang. Yang satu dihukum, yang satu maunya bebas, kan begitu. Kalau perkara pidana kan gitu. Berdasarkan laporan itu, saya sudah dinyatakan clear. KY sendiri yang mengumumkan.

Kapan Anda dulu dipanggil KY?

Saya dipanggil itu perkara Jakarta Timur 1, kasus Asabri. Anda sudah jadi wartawan belum ketika kasus korupsi Asabri? Dipanggil saya itu tahun 2012, coba bayangkan? Perkaranya 2007 atau 2008 saya lupa, dan saya datang, saya jelaskan ke KY. Sudah jelas?

Lalu yang kedua perkara yang disebut Boiler (hak paten boiler) itu yang di Medan, saya ketika jadi Ketua PN Medan, 2012-2013. Saya tidak tahu detail laporannya, tapi, berdasarkan laporan masyarakat, saya diperiksa. Saya datang. Saya jelaskan. Keluar surat clear dari KY.

Jadi KY ini didirikan untuk apa menurut Anda? Apa mau menghancurkan hakim, atau menjaga martabat hakim? Kalau dikontrol, silakan. Kan tiap hari sidang praperadilan ini komisioner KY itu gantian menghadiri sidang. Makanya kode etik yang mana yang mau saya langgar? Makanya saya katakan, saya tidak akan datang (memenuhi panggilan KY) karena saya muak tengok kedua muka orang itu.

Mengapa Anda tidak mau datang?

Karena dia tidak menjaga martabat hakim. Kan tidak seperti itu menjaga martabat hakim. Itu mau menghancurkan hakim namanya.
Anda tahu tidak hakim di daerah itu pada takut? Jadinya hakim memutus perkara itu karena takut. Kalau saya memutus perkara tidak pakai takut, kenapa? Saya tidak bertanggung jawab sama dia. Saya bertanggung jawab kepada Tuhan.

Beberapa hari sebelum memutus perkara BG, Anda diberitakan sempat pulang kampung. Apakah benar?

Itu ngarang namanya. Makanya saya katakan ngarang namanya itu. Saya pulang ke Padang itu sebelum ada sidang praperadilan. Sebelum saya ditunjuk menjadi hakim praperadilan (BG). Ponakan saya kawin. Supaya clear, supaya Anda tahu.

Dosen Unand (Universitas Andalas) itu tadi dilaporkan oleh mamak saya (paman). Karena saya punya mamak, saya punya datuk, saya punya keponakan, hari ini akan dilaporkan ke Polda Sumatera Barat. Kalau tidak ditanggapi, saya akan melapor ke Mabes (Polri).

Tak ditanggapi juga, saya akan selesaikan menurut cara saya karena dia sudah menghina saya. Saya ini orang Minang, hidup dalam masyarakat lingkungan hukum adat, (dosen Unand) bicara (Sarpin) dibuang secara adat. Wah, yang terhina-hina itu siapa Anda tahu? Saya, datuk-datuk saya, suku saya, kaum saya. Anda tengoklah Polda Sumbar, ada tidak? Saya laporkan hari ini. Tak peduli saya.

Bilang sama KY itu, kalau dia bilang saya mau diberhentikan, hari ini saya siap diberhentikan. Saya siap juga digantikan oleh dua komisioner KY untuk menyidangkan perkara yang akan saya sidangkan kalau dia mampu. Jangan sok-sok jago dia. Sanggup tidak dia jadi hakim dan dikerjai seperti itu? Kalau dia di posisi saya sekarang, sanggup tidak dia? Ini karena saya saja yang ini, tidak ada yang lain yang sanggup itu.

Maksudnya tidak ada yang sanggup?

Ya, menangani perkara seperti BG ini. Menurut Anda, berat tidak perkaranya? Itulah…. Makanya biar saya tanya dia (Taufiqurrohman Syahuri dan Imam Anshori Saleh) sanggup tidak? Biar diulang aja sidangnya, suruh dia menyidangkan. Mampu tidak dia? Asal ngomong saja dia.

Memang berat sekali ya menangani perkara BG?

Kan saya bilang, saya tidak takut dengan pressure. Saya tidak takut dengan tekanan. Anda lihat sendiri di sidang? Saya enggak peduli. Karena saya tidak bertanggung jawab sama mereka semua. Itulah makanya dari awal saya sudah mulai dihujat. Karena saya tidak mau pedulikan. Karena saya harus menangani perkara yang dibebankan kepada saya.

Saya kan ditunjuk. Kalau boleh, saya menolak perkara, Anda bilanglah sama Pak Ketua (Ketua PN). Kalau perlu, hakim Sarpin jangan dikasih satu perkara pun. Enaklah saya terima tunjangan saja.

Anda kira enak jadi hakim? Ini toga dipasang (sambil menunjuk toga yang tergantung di lemari) habis salat dipasang, belum makan, ngerokok aja belum, Anda sudah nanya lagi sama saya. Iya, kan? Mana ada waktu saya istirahat.

Anda ditunjuk oleh Ketua PN Jaksel jadi hakim praperadilan BG kapan?

Ditunjuk (jadi hakim) itu, Anda tahu tidak prosedurnya? Ada berkas perkara yang ngantar itu orang bagian pidana, nah diantarlah ke ruangan saya, begitu adanya, bukan saya ditunjuk Ketua PN (secara lisan), tidak pernah seperti itu.

Itu kapan penunjukannya?

Saya lupa ya… hari apa berkas masuk, saya juga lupa.

Apa persiapan Anda dalam menangani praperadilan BG?

Jadi hakim itu harus siap sebenarnya. Kalau boleh memilih, kalau boleh, ya saya menolak menyidangkan perkara itu. Tapi kan tidak boleh seperti itu. Saya akan katakan, kasihkan saja sama Taufiqurrohman Syahuri dan Imam Anshori Saleh. SK saya akan saya kasihkan ke dia. Anda datang saja ke KY.

Bilang sama mereka saya bilang seperti ini, “Kalau Anda, sanggup enggak digitukan seperti Sarpin?” Coba bilang itu (ke KY), kalau saya diajaknya bertinju pun saya siap. Ini saya sudah panas ini. Harga diri saya sudah diinjak-injak. Enggak peduli saya.

Jadi, selama Anda jadi hakim, kasus yang paling berat adalah kasus praperadilan BG?

Saya tidak bilang seperti itu. Karena, berat-ringan itu tergantung risikonya sebenarnya. Namanya perkara, kan kita harus selesaikan. Anda kan baru kemarin ini (jadi wartawan). Saya sejak 2005 sudah di Jakarta, menyidangkan kasus Asabri, terdakwanya siapa Anda tahu? Dirut Asabri.

Jadi, risiko dan tanggung jawabnya berat. Anda tahu enggak? Yang paling berat itu adalah dihisab, adalah hakim setiap perkara yang dia putus dimintai pertanggungjawabannya satu-satu (di akhirat nanti).

Apakah Anda kadang-kadang letih jadi hakim?

Umur saya sudah lebih 50 tahun, hampir 53 umur saya. Saya siapkan diri saya untuk sidang dari pagi sampai malam karena saya ditunjuk. Kenapa saya ditunjuk? Anda tanya ke Ketua PN, jangan tanya ke saya. Saya tidak tahu kenapa saya ditunjuk.

Apakah Anda sering mendapat cacian selama jadi hakim?

Tidak ada. Cuma di media tak keruan ini, orang yang enggak jelas dan belum pernah jadi tersangka. Kalau saya balik bertanya sama Anda, kalau Anda jadi tersangka, saya tuduh Anda menipu saya, saya lapor ke polisi sekarang. Saya langsung ditetapkan tersangka, langsung keluar sprindiknya, Anda mau?

Begitu juga orang lain, tidak mau. Ya, kan? Kan harus dibuktikan dulu. Dipanggil dulu orangnya, betul apa tidak. Betul apa tidak ada penipuan. Apa yang ditipunya, ya kan? Kan harus seperti itu.

Anak Anda sekolah di fakultas hukum juga, apakah nanti mereka akan jadi hakim?

Saya larang. Tahu alasan saya? Kalau pekerjaan seperti ini, saya larang anak saya jadi hakim. Karena independensi hakim itu sudah tidak ada sekarang. Hakim itu sudah diobok-obok sekarang. Saya katakan itu. Saya bertanggung jawab. Kalau seperti ini, KY ini coba Anda lihat, orang akan melawan, tapi karena orang takut saja sama KY ini.

Cuma saya yang tak takut karena saya tidak takut berhenti jadi hakim. Makanya saya tak takut sama KY. Dilaporkannya saya ke MA, (kalau) diberhentikan, saya berhenti. Tapi saya buat perhitungan dengan dia nanti, kan begitu. Mudah saja. Saya tidak bertele-tele, diberhentikan saya, saya akan bilang ke MA, saya akan buat perhitungan dengan dia.

Anak Anda berapa?

Dua. Yang besar perempuan, sedang S-2 di Universitas Jayabaya. Yang kedua laki-laki, di Fakultas Hukum Yarsi.

Semester berapa yang kecil?

Saya lupa, karena beban saya terlalu berat. Makanya Anda tanya ke KY, tanya sama Taufiqurrohman Syahuri dan Imam Anshori Saleh, kalau disuruh menjadi saya sekarang ini, mau enggak dia? Saya diperlakukan seperti ini, mau enggak dia? Atau tukar posisi. Saya duduk di situ, dia di sini, saya hujat dia.

Apakah Anda sudah menerima surat panggilan dari KY terkait praperadilan BG?

Sudah saya bilang, sampai hari ini tidak ada panggilan. Kemudian, kalau ada panggilan, saya tidak akan datang. Kalau saya diusulkan berhenti, silakan. Kalau saya diberhentikan, saya bikin perhitungan dengan dia.

Kalau Anda ditunjuk jadi hakim praperadilan SDA, misalnya, apakah mau?

Tadi saya sudah bilang, makanya, kalau bisa, Anda minta ke Ketua PN. Jangankan perkara yang baru ditunjuk, yang ada saja saya limpahkan dua perkara saya, baik yang pidana atau perdata, ke dua orang komisioner KY itu. Kalau bisa, SK saya kasihkan ke dia. Sanggup tidak mereka menyidangkan perkara? Jangankan ditunjuk yang baru, pasti saya tolak karena saya sudah marah nih.

Bisa ya menolak?

Kalau saya diberhentikan, ya berhentikan saja. Enggak apa-apa. Tapi kan sudah dibilang tak bisa menolak. Tapi, kalau sudah keadaan begini, saya sudah enggak peduli saya bilang.

Anda dianggap salah menafsirkan pendapat tim ahli dalam kasus BG, bagaimana tanggapannya?

Saya no comment kalau itu. Kan kita sidang pakai berita acara. Anda tahu yang ahli itu umurnya berapa? Apa yang telah dia katakan saja dia sudah lupa. Coba bayangkan.

Jadi KY selama ini membuat para hakim takut?

Bukan takut sebenarnya. Tapi lebih pada, “Hah, nanti dipanggil KY, dipanggil KY.” Apalagi sekarang media bebas. Nah, seperti yang saya alami sekarang ini, orang tidak sanggup. Makanya tanya pada Imam Anshori, jika Anda mengisi posisi Haji Sarpin itu, Anda sanggup tidak? Biar dia duduk di sini, biar saya hujat-hujat dia.

Anda sudah naik haji?

Ya, sudahlah. Saya sudah menjalankan rukun Islam. Karena sudah wajib hukumnya bagi saya. Kalau dibilang hakim tidak sanggup pergi haji, kan keterlaluan namanya. Gajinya saja sudah Rp 25 juta.

Apa pendapat Anda tentang praperadilan?

Praperadilan itu adalah alat untuk koreksi. Untuk kontrol kepada penegak hukum yang melakukan tugas-tugas penegakan hukum. Makanya saya tadi sudah kasih contoh sama Anda. Kalau Anda diperlakukan seperti itu (seperti BG), Anda mau tidak? Nanti Anda tanyakan sama Taufiqurrohman Syahuri dan Imam Anshori Saleh.

Anda jadi inspirasi bagi orang yang mau mengajukan gugatan praperadilan penetapan tersangka, seperti SDA?

Saya tidak mau berkomentar tentang itu. Ini kan masalah penegakan hukum. Putusan sudah saya ambil seperti itu. Saya berpendapat seperti itu. Bahwa penetapan tersangka itu adalah obyek praperadilan, dengan pertimbangan hukum yang saya buat. Itu saja. Dan pertimbangan hukum kan bisa dilihat di Internet.

Kalau tidak setuju, silakan ajukan saya untuk diberhentikan. Bilanglah sama komisioner KY itu. Coba pikir, malah ngoceh di TV, kan bikin panas.

Makanya (saat sidang) saya bisa imparsial. Saya bisa tenang, karena saya tidak terpengaruh dengan perkara apa saja sebelum perkara itu selesai. Tapi, setelah perkara telah selesai, saya lihat keadaannya seperti ini. Ini sudah menghina saya, saya harus melawan. Siapa pun dia.

  • Hakim Sarpin Rizaldi: Saya Sudah Marah Ini
    (Foto: Dikhy Sasra/detikcom)
  • Hakim Sarpin Rizaldi: Saya Sudah Marah Ini
    (Foto: Dikhy Sasra/detikcom)

(iy/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed