detikcom

Kamis, 02/05/2013 11:47 WIB

Dana Bos Belum Cair, Guru Madrasah di Sidoarjo Belum Terima Gaji

Brury Susanto - detikNews
Foto : Suparno
Sidoarjo - Hari Pendidikan Nasional juga diperingati ratusan guru bersertifikasi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah di bawah naungan Ma'arif. Namun, para guru ini memperingatinya dengan melakukan aksi unjukrasa menuntut gaji yang belum cair.

Aksi para guru ini digelar di depan gedung Rohmatul Ummah, Jalan Mongonsidi, Bluru Sidoarjo Kamis (2/5/2013).

Selain itu, para guru juga melakukan aksi tanda tangan di atas kain sepanjang 20 meter yang dibentangkan di pinggir jalan, dan menggelar doa bersama. Serta menuliskan tuntutan dan kecaman terhadap Kemenag.

"Kami minta agar dana BOS itu segera dicairkan. Karena, sampai sekarang ini guru Madrasah khususnya di Sidoarjo hingga kini belum menerima gaji," kata Wahyudin Zuhri, Ketua Kelompok MTS se-Kabupaten Sidoarjo wartawan.

Wahyudin Zuhri menjelaskan, cairan dana BOS yang sebagaian merupakan untuk membayar gaji guru tidak tetap, sudah mengalami keterlambatan hampir 3 bulan. Karena, pencairan yang harus dilakukan dua kali itu hingga memasuki bulan Mei sekarang belum diberikan kepada guru tidak tetap.

"Pencairan itu seharusnya awal bulan Februari. Yang kemudian pada bulan April anggaran dana BOS untuk membayar gaji guru tidak tetap itu juga harus cair. Tapi, hingga bulan Mei sekarang ini guru masih belum menerima gajinya," tegas Wahyudin Zuhri yang juga menjabat Kepala Sekolah MTs Al-Fudlola Porong.

Selain itu, masih banyak yang dituntut dari para guru tidak tetap dari Madrasah, yakni tunjangan profesi pendidik (TPP) serta inpassing. Yang merupakan penyetaraan kepangkatan, golongan dan jabatan fungsional guru bukan PNS. Tujuannya untuk tertib admintrasi, pemetaan guru dan kepastian tunjangan guru.

Hal itu berdasarkan Permendiknas Nomor 22/2010 tentang perubahan atas Permendiknas Nomor 47/ 2007 tentang penetapan Inpasing jabatan fungsional guru bukan PNS.

"Padahal guru Madrasah yang sudah ber-inpassing itu berdasarkan Permendiknas Nomor 22/2010. Untuk itu tuntutan kita agar segera direalisasikan oleh Kemenag secapatnya," pungkas dia.



Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(bdh/bdh)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
80%
Kontra
20%