Detik.com News
Detik.com
Rabu, 30/05/2012 22:19 WIB

Beda Pemahaman Agama, Dua Kelompok Massa Bentrok

Syaiful Kusmandani - detikNews
Jember - Diduga perselisihan pemahaman agama, dua kelompok massa di Desa Puger Kulon Kecamatan Puger, Jember saling serang. Dalam bentrok tersebut, seorang pengikut salah satu ustadz mengalami luka parah.

Eko (36) warga setempat langsung dilarikan ke Puskesmas Puger menjalani pengobatan akibat luka bekas sayatan benda tajam. Sayangnya, korban tidak mau menceritakan kronologis kejadian pada media karena kondisinya yang masih dalam proses pemulihan.

Aksi penyerangan ini berawal dari perselisihan antar dua ustad di desa tersebut. Entah apa yang memicu kemarahan, beberapa warga di lokasi hanya bisa melihat aksi penyerangan saja tanpa mengetahui apa motif di balik bentrok tersebut.

"Tadi saya hanya melihat ada sekitar 8 orang masuk rumah dan tak lama kemudian keduanya saling pukul," ujar Shohib, salah seorang warga kepada detiksurabaya.com, Rabu (30/5/2012).

Sementara ratusan aparat kepolisian bersiaga di lokasi bentrok dua kelompok massa. Polisi dari polres jember juga melakukan proses mediasi. Mediasi dua kelompok bertikai dilakukan di Polres Jember untuk mencegah pengerahan massa.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(fat/fat)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
93%
Kontra
7%