Berita Lain
-
Sabtu, 25/05/2013 17:07 WIB
PT Sampoerna: Karyawan Kesurupan di Pabrik Jember Tak Banyak
-
Sabtu, 25/05/2013 16:56 WIB
Lamongan Ultah ke 444, Bupati Ziarah ke Makam Ibunda Gajah Mada
-
Sabtu, 25/05/2013 16:10 WIB
Korban Lumpur Lapindo di Luar Peta Terdampak akan Temui Presiden
-
Sabtu, 25/05/2013 15:42 WIB
Teknisi Ungkap Kebocoran Amoniak Pabrik Pengolahan Udang
-
Sabtu, 25/05/2013 15:11 WIB
Sesosok Bayi Laki-laki Ditemukan Menangis Histeris di Pos Kamling
Indeks Berita
Suroboyoan
Thread Pilihan

Senin, 20/05/2013 12:30 WIB
Bocah 7 Tahun Asal Surabaya Juara Dunia Piano di AS
Posted : f_yazzGaya Hidup
Kamis, 18/04/2013 10:01
Di dunia ini tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, misalnya saja kebahagiaan. Tidak harus memiliki harta berlimpah untuk bahagia. Sebab sebuah studi memastikan kebahagiaan pasangan suami istri bisa didapat dari seringnya bercinta.
Resep Bahagia Pasutri: Sering-seringlah Bercinta
Kuliner
Sabtu, 13/04/2013 11:35
Pizza alpukat, mungkin banyak yang belum tahu. Memang pizza rasa baru itu belum populer. Namun sebentar lagi penganan dengan rasa baru dan tentu saja menyehatkan itu akan segera dikenal masyarakat.
Pizza dari Biji Alpukat yang Menyehatkan
Pelajar
Kamis, 21/03/2013 15:37
Masyarakat Sidoarjo diingatkan agar waspada akan terjadinya krisis air bersih. Imbauan itu disampaikan puluhan siswa SD Al Muslim Sidoarjo dalam aksi simpatik peduli air.
Pelajar SD Sidoarjo Ingatkan Krisis Air Bersih
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 15,424.000
-
Rp 5,192.000
Kamis, 05/04/2012 13:30 WIB
(detikSurabaya/Ghazali Dasuqi)
Situbondo -
Jerat kemiskinan membuat kakak beradik di Situbondo hidup dalam pasungan. Keduanya yang menderita stres harus dipasung, karena keluarga tidak mempunyai biaya untuk berobat.
Sang adik Samsudin (37) sudah enam tahun dipasung di sebuah rumah kosong dengan kaki kanannya dijepit menggunakan menggunakan balok kayu. Sejak dipasung, bapak dua anak itu menghabiskan hari-harinya dengan tidur beralaskan lantai tanah.
Sedangkan kakaknya Munir (40) tangan dan kakinya dirantai di sebuah pohon di sebelah barat rumahnya di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo. Sudah 2 tahunan ini Munir tinggal di bawah pohon dengan hanya beratapkan terpal plastik. Lokasi keduanya dipasung tidak jauh, hanya sekitar 50 meter.
Samsudin dan Munir terpaksa dipasung karena keluarganya sudah tidak mampu lagi membawanya ke dokter. Penyakit saraf yang diderita keduanya membuat dua saudara sepupu itu sering mengamuk hingga mengancam keselamatan tetangganya.
"Samsudin dan Munir itu masih saudara sepupu. Suami saya Samsudin dipasung duluan, karena kalau kumat sering mengamuk. Saya sendiri sering mau dibunuh," ujar Saodah (35) di rumahnya, di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Kamis (5/4/2012).
Istri Samsudin itu menuturkan sejak menikah dengan Samsudin tahun 1999 silam dirinya sudah dikaruniai 2 orang anak. Awal gejala suaminya didera penyakit saraf terjadi tahun 2000 lalu. Meski penghasilan suaminya pas-pasan sebagai kuli bangunan, Saodah setia menemani Samsudin periksa ke dokter spesialis saraf di Situbondo.
"Kalau sudah minum obatnya sembuh, tapi nanti kumat lagi. Kami sampai menjual tanah rumah untuk biaya obatnya. Tapi tetap tidak sembuh-sembuh. Ini bukan faktor keturunan, karena keluarga yang lain tidak ada yang begini," sambungnya.
Puncaknya terjadi saat Saodah baru melahirkan anak keduanya tahun 2006 silam. Saat itu penyakit suaminya makin parah hingga sering mengamuk, memecahkan lemari, dan bahkan mengancam akan membunuhnya. Saat bersamaan, biaya untuk berobat sudah habis. Sehingga keluarga memutuskan memasung Samsudin, karena mengancam keselamatan warga.
"Kami ini orang tidak punya dan tidak pernah ada bantuan dari pemerintah. Sejak suami saya begitu, saya hanya mengandalkan jualan rujak untuk menutupi kebutuhan hidup dan membiayai 2 anak sekolah," lirih Saodah.
Hal tak jauh berbeda juga dialami kakak sepupu Samsudin. Sejak 2 tahun lalu, Munir juga dipasung karena sering mengamuk akibat penyakit saraf yang dideritanya. Pria 40 tahun itu diduga mengalami depresi setelah bercerai dengan istrinya.
Namun dari keduanya, kondisi Samsudin kini paling ironis. Tubuhnya kurus kering karena sudah 2 mingguan tidak mau makan dan minum. Dia tergolek lemas di atas lantai tanah dalam sebuah rumah kosong. Kedua orang tuanya, Siwan dan Nawiyah, tampak sudah pasrah dengan kondisi anaknya tersebut.
"Mau bagaimana lagi, suami saya hanya pencari rongsokan. Sekarang tidak kerja karena lumpuh akibat kerobohan rumah yang ambruk saat angin kencang. Kami semua pasrah," lirih Nawiyah.
(bdh/bdh)
Tak Mampu Berobat, Kakak Beradik di Situbondo Hidup Dalam Pasungan
Ghazali Dasuqi - detikSurabaya
(detikSurabaya/Ghazali Dasuqi)
Sang adik Samsudin (37) sudah enam tahun dipasung di sebuah rumah kosong dengan kaki kanannya dijepit menggunakan menggunakan balok kayu. Sejak dipasung, bapak dua anak itu menghabiskan hari-harinya dengan tidur beralaskan lantai tanah.
Sedangkan kakaknya Munir (40) tangan dan kakinya dirantai di sebuah pohon di sebelah barat rumahnya di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo. Sudah 2 tahunan ini Munir tinggal di bawah pohon dengan hanya beratapkan terpal plastik. Lokasi keduanya dipasung tidak jauh, hanya sekitar 50 meter.
Samsudin dan Munir terpaksa dipasung karena keluarganya sudah tidak mampu lagi membawanya ke dokter. Penyakit saraf yang diderita keduanya membuat dua saudara sepupu itu sering mengamuk hingga mengancam keselamatan tetangganya.
"Samsudin dan Munir itu masih saudara sepupu. Suami saya Samsudin dipasung duluan, karena kalau kumat sering mengamuk. Saya sendiri sering mau dibunuh," ujar Saodah (35) di rumahnya, di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Kamis (5/4/2012).
Istri Samsudin itu menuturkan sejak menikah dengan Samsudin tahun 1999 silam dirinya sudah dikaruniai 2 orang anak. Awal gejala suaminya didera penyakit saraf terjadi tahun 2000 lalu. Meski penghasilan suaminya pas-pasan sebagai kuli bangunan, Saodah setia menemani Samsudin periksa ke dokter spesialis saraf di Situbondo.
"Kalau sudah minum obatnya sembuh, tapi nanti kumat lagi. Kami sampai menjual tanah rumah untuk biaya obatnya. Tapi tetap tidak sembuh-sembuh. Ini bukan faktor keturunan, karena keluarga yang lain tidak ada yang begini," sambungnya.
Puncaknya terjadi saat Saodah baru melahirkan anak keduanya tahun 2006 silam. Saat itu penyakit suaminya makin parah hingga sering mengamuk, memecahkan lemari, dan bahkan mengancam akan membunuhnya. Saat bersamaan, biaya untuk berobat sudah habis. Sehingga keluarga memutuskan memasung Samsudin, karena mengancam keselamatan warga.
"Kami ini orang tidak punya dan tidak pernah ada bantuan dari pemerintah. Sejak suami saya begitu, saya hanya mengandalkan jualan rujak untuk menutupi kebutuhan hidup dan membiayai 2 anak sekolah," lirih Saodah.
Hal tak jauh berbeda juga dialami kakak sepupu Samsudin. Sejak 2 tahun lalu, Munir juga dipasung karena sering mengamuk akibat penyakit saraf yang dideritanya. Pria 40 tahun itu diduga mengalami depresi setelah bercerai dengan istrinya.
Namun dari keduanya, kondisi Samsudin kini paling ironis. Tubuhnya kurus kering karena sudah 2 mingguan tidak mau makan dan minum. Dia tergolek lemas di atas lantai tanah dalam sebuah rumah kosong. Kedua orang tuanya, Siwan dan Nawiyah, tampak sudah pasrah dengan kondisi anaknya tersebut.
"Mau bagaimana lagi, suami saya hanya pencari rongsokan. Sekarang tidak kerja karena lumpuh akibat kerobohan rumah yang ambruk saat angin kencang. Kami semua pasrah," lirih Nawiyah.
(bdh/bdh)
Baca Juga:
- Siswa STM di Lumajang Ngamuk Pukuli Teman dan Guru
- Ngamuk di Tengah Jalan, Pemuda Gila Nyaris Dimassa
- Pasca Dicerai Suami, Anisah Dipasung Lantaran Sering Mengamuk
- Adi Saputra, Bocah 10 Tahun Pernah Dipasung di Pinggir Jalan
- Bocah 10 Tahun Dipasung karena Dianggap Hiperaktif
- Sering Ganggu Warga, Remaja di Malang Dikurung
Komentar terkini (0 Komentar)
Berita Terpopuler
- Sabtu, 25/05/2013 09:40 WIB
Puluhan Buruh Pabrik Rokok HM Sampoerna Kesurupan - Sabtu, 25/05/2013 12:05 WIB
Buruh Pabrik Pengolahan Udang Pingsan Keracunan Gas Amoniak - Sabtu, 25/05/2013 15:57 WIB
Penggila Lensa Manual se Indonesia Kumpul di Surabaya - Jumat, 24/05/2013 08:32 WIB
Anak PRT di Tuban Raih Nilai UN Tertinggi se-Jawa Timur
Komentar Terpopuler
- Jumat, 24/05/2013 08:32 WIB
Anak PRT di Tuban Raih Nilai UN Tertinggi se-Jawa Timur - Sabtu, 25/05/2013 09:18 WIB
Anak PRT Peraih Nilai UN Tertinggi asal Tuban Berharap Dapat Beasiswa - Kamis, 23/05/2013 18:24 WIB
Diiming-imingi Martabak Super, Kegadisan Siswi SMP Direnggut Siswanto - Selasa, 21/05/2013 18:14 WIB
Siswi Asal Sidoarjo Hamil 7 Bulan Setelah Digilir 3 Remaja
Diskusi Cerdas Tanpa Batas bersama warga Surabaya di forum.detik.com regional Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Jl. Opak No. 12 Surabaya
Telp/ Fax: 031 568 0710
Promosi / Event:
Hubungi: Gilang Permana Seta
Email: gilang[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan:
Email : sales[at]detik.com
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Jl. Opak No. 12 Surabaya
Telp/ Fax: 031 568 0710
Promosi / Event:
Hubungi: Gilang Permana Seta
Email: gilang[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan:
Email : sales[at]detik.com


Sending your message