Berita Lain

Indeks Berita

Gaya Hidup

Kamis, 18/04/2013 10:01

Resep Bahagia Pasutri: Sering-seringlah Bercinta

Gb
Di dunia ini tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, misalnya saja kebahagiaan. Tidak harus memiliki harta berlimpah untuk bahagia. Sebab sebuah studi memastikan kebahagiaan pasangan suami istri bisa didapat dari seringnya bercinta.

Kuliner

Sabtu, 13/04/2013 11:35

Pizza dari Biji Alpukat yang Menyehatkan

Gb
Pizza alpukat, mungkin banyak yang belum tahu. Memang pizza rasa baru itu belum populer. Namun sebentar lagi penganan dengan rasa baru dan tentu saja menyehatkan itu akan segera dikenal masyarakat.

Pelajar

Kamis, 21/03/2013 15:37

Pelajar SD Sidoarjo Ingatkan Krisis Air Bersih

Gb
Masyarakat Sidoarjo diingatkan agar waspada akan terjadinya krisis air bersih. Imbauan itu disampaikan puluhan siswa SD Al Muslim Sidoarjo dalam aksi simpatik peduli air.

Cari Penawaran Terbaik di Sini

Sabtu, 17/12/2011 09:49 WIB

Menengok Pabrik Misua, Makanan yang Dipercaya Perlambang Panjang Umur

Norma Anggara - detikSurabaya



Surabaya - Genap 63 tahun sudah pabrik misua berdiri. Pabrik ini terus bertahan dari gempuran pabrik mie instan demi menopang biaya hidup puluhan karyawannya.

Pabrik misua yang berlokasi di kawasan Pesapen ini masih menggunakan cara tradisional. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan makanan sejenis mie ini kian dipercaya sebagai perlambang panjang umur.

Istilah misua mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat yang lebih suka mengonsumsi mie instan. Padahal, misua memiliki tekstur yang lebih halus dan lembut saat dikonsumsi. Bahkan, mie tipis yang berasal dari Fujian ini hampir tak pernah absen di perayaan-perayaan ulang tahun atau hari spesial lainnya bagi masyarakat Tionghoa.

Misua memiliki tekstur yang lebih gepeng dari mie instan yang sering dijumpai di masyarakat. Selain itu, misua juga sengaja dipotong cukup panjang hingga lebih dari 60 cm. Maka itu, mie ini sangat dipercaya masyarakat Tionghoa sebagai perlambang panjang umur.

Sejak berdiri tahun 1948, pabrik misua memang menjadi warisan leluhur dari Soebianto Djajawikarta. Secara turun-temurun, mie yang terbuat dari tepung sagu ini sebenarnya tak kalah eksis dibanding mie instan. Pemasarannya juga melewati supermarket. Namun sayang, Soebianto menduga mie ini masih dianggap hanya disukai oleh masyarakat Tionghoa.

"Padahal proses pembuatan misua juga terjamin. Kinerja 20 karyawan juga sangat lihai sebab telah mengabdi hampir 40 tahun lebih," kata Soebianto saat ditemui di pabrik misua miliknya di Jalan Pesapen Selatan 23, Sabtu (17/12/2011).

Benar saja, kerja 20 karyawannya yang terdiri dari lelaki dan perempuan ini dimulai sejak matahari mulai memancarkan sinar hangatnya sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka masing-masing telah memiliki tugas utama. Mulai dari proses pengepresan, pemotongan mie, mengangin-anginkan, memisahkan hingga melipat mie sebelum kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari lalu di-packing.

Proses pengepresan mie dilakukan hingga 3 tahap sampai adonan mie tersebut mencapai ketebalan minimum sekitar 1,5 milimeter. Baru kemudian adonan disuwir dan dipotong. Mie juga mesti diangin-anginkan supaya kadar airnya berkurang. Kemudian dipilah-pilah untuk lanjut dilipat rapi dan siap dikeringkan di bawah sinar matahari.

Soebianto tak pernah berpikir akan mengganti tenaga manusia dengan mesin. Meskipun menurutnya mesin mungkin berpotensi untuk mengurangi biaya produksi. Namun ia yakin, puluhan karyawannya telah memiliki dedikasi tersendiri sebab telah bekerja sejak zaman kakek nenek atau keturunan sebelum Soebianto.

"Dalam sehari, kalau tidak ada kendala cuaca hujan, karyawan bisa memproduksi 1000 kilogram misua kering siap antar," terangnya.

Cuaca hujan seringkali menjadi gangguan baginya untuk memproduksi misua. Sebab, menurut Soebianto, panas matahari sangat cocok untuk proses pengeringan misua. Ia juga memiliki alat oven. Namun, hasilnya akan berbeda bila misua berhasil kering dari terik matahari.

Soebianto juga menjelaskan, butuh waktu 3 hari untuk mengeringkan misua dengan alami, dan hanya sekitar 5 jam bila ia memakai oven. "Kalau pakai matahari, protein yang ada dalam misua tetap terjaga," terangnya.

Alat oven hanya digunakan bila situasi memang dianggap telah mepet. Misalnya Soebianto harus segera memenuhi permintaan pesanan. Sementara, persediaan misua kering masih terbatas.

Usaha Soebianto ini bisa dibilang cukup membanggakan. Selain bisa melestarikan resep leluhur, ia bahkan telah mampu mendistribusikan misua produksi Marga Mulya ini ke berbagai supermarket di kota-kota besar di Indonesia. Seperti Kalimantan, Irian, Sumatra, Jawa, hingga Ambon.

(nrm/bdh)



Share

Komentar terkini (0 Komentar)
Diskusi Cerdas Tanpa Batas bersama warga Surabaya di forum.detik.com regional Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Jl. Opak No. 12 Surabaya
Telp/ Fax: 031 568 0710

Promosi / Event:
Hubungi: Gilang Permana Seta
Email: gilang[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan:
Email : sales[at]detik.com