detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Kamis, 17/04/2014 07:54 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Kamis, 07/10/2010 16:21 WIB

Barang Bukti Kasus Uang Asing Palsu Senilai Rp 1 Triliun Menyusut

Samsul Hadi - detikNews
Kediri - Fakta menarik muncul di sidang perdana kasus pemalsuan mata uang asing palsu dari sejumlah negara. Barang bukti senilai Rp 1 triliun yang diekpos kepolisian, saat ini hanya tersisa sekitar Rp 25 juta.

Dalam persidangan di ruang sidang utama PN Kota Kediri, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Eko Purnomo, hanya mengajukan 28 lembar dollar Amerika Serikat. Masing-masing senilai US$ 100. Barang bukti tersebut apabila dirupiahkan, nilainya adalah Rp 25.200.000, dan jauh lebih kecil dibandingkan ekspos kepolisian sebesar Rp 1 triliun.

"Ini sesuai yang kami terima dari penyidik di kepolisian," kata Agus, kepada
detiksurabaya.com di PN Kota Kediri, Kamis (7/10/2010).

Agus menambahkan, pihaknya tidak menahu mengenai terjadinya penyusutan nilai barang bukti dalam kasus yang ditanganinya. Dalam persidangan, jaksa hanya bertugas menyusun dan menyampaikan tuntutan, sesuai dengan sangkaan yang telah dikenakan kepolisian.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Kediri Kota, AKP Didit Prihantoro, mengatakan
barang bukti kasus pemalsuan mata uang asing palsu tidak terjadi penyusutan. Meski
seluruh barang bukti diakuinya dilimpahkan ke kejaksaan, nilai yang bisa ditindak
sesuai dengan yang terungkap di persidangan.

"Semua barang bukti kami sudah limpahkan ke kejaksaan, tapi yang bisa ditindak secara pidana ya memang itu. Kami sudah lakukan pemeriksaan di Labfor dan yang palsu ya memang senilai itu, selebihnya adalah uang kuno yang tidak ditransaksikan," jelas
Didit ssat dikonfirmasi detiksurabaya.com melalui telepon selulernya.

Kondisi ini diakui juga oleh Didit, tidak akan mengurangi ancaman hukuman untuk 4
pelaku yang saat ini tengah disidangkan. "Ancamannya tetap pemalsuan. Saya juga
jamin kondisi ini tidak akan meringankan mereka, karena memalsukan uang selembar
atau 100 lembar ancaman hukumannya sama," tandasnya.

Sebelumnya, Sabtu (14/8/2010) lalu, Satuan Reskrim Polres Kediri Kota berhasil
mengungkap peredaran mata uang asing palsu senilai Rp 1 triliun. 4 Orang diamankan
dalam pengungkapan tersebut.

Keempat pelaku itu yakni, Yudi dan Rusendi, warga Bojong Picung, Cimahi, Acep Supandi warga Cianjur serta Bambang Supriheryanto warga Magelang, Jawa Tengah. Selain mata uang dollar Amerika Serikat, dari tangan keempat orang pelaku polisi juga mengamankan mata uang Jerman, Bulgaria dan Norwegia.


Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(bdh/bdh)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
84%
Kontra
16%