detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Jumat, 18/04/2014 15:44 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 12/08/2008 17:08 WIB

Tokoh PETA Surabaya: Supriyadi Meninggal di Gunung Kelud foto

Budi Sugiharto - detikNews
detiksurabaya/Budi Sugiharto
Surabaya - Pengakuan Andaryoko Wisnu Prabu sebagai Supriyadi, pahlawan PETA, menimbulkan
kontroversi. Ketua Korp PETA dan Perintis Kemerdekaan Surabaya, Bodancho Soeroso,
meminta kepolisian untuk mengusutnya.

Jika Andaryoko terbukti berbohong, dia meminta Andaryoko ditangkap karena telah melakukan penipuan. Mantan anggota PETA yang dinas di Surabaya ini menyakini jika Supriyadi sudah meninggal saat pelariannya ke Gunung Kelud.

"Kalau ada yang mengaku-ngaku tangkap saja. Diperiksa dan dibuktikan. Supriyadi telah meninggal di Gunung Kelud," tegas Soeroso yang ditemui detiksurabaya.com di rumahnya di kawasan Karangmenur Surabaya, Selasa (12/8/2008).

Menurut ayah empat anak yang sudah berusia 84 tahun ini, kepastian Supriyadi telah meninggal itu berdasarkan keterangan dari kawan-kawannya seperjuangan, antara lain, Sudancho Suhadi yang merupakan karib Supriyadi saat di PETA Blitar.

"Kata Suhadi, dia pesan ke Supriyadi jika turun akan minta sarung secara utuh atau sobekannya saja. Tapi ditunggu-tunggu tak ada kabarnya setelah dia naik," ujarnya. Dengan alasan itulah, Soeroso yakin Supriyadi telah meninggal.

Soeroso yang sudah mendapat 16 penghargaan ini juga merasa tak kaget dengan adanya orang yang mengaku-ngaku sebagai Supriyadi. Apalagi mendekati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti diketahui, Andaryoko Wisnu Prabu, seorang sepuh berusia 89 tahun yang tinggal di Semarang mengklaim sebagai Supriyadi. Dia memiliki bukti-bukti, termasuk foto saat dia masih di PETA. Dia juga menceritakan bagaimana dia kabur seusai pemberontakan pejuang PETA terhadap Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(gik/bdh)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%