detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Rabu, 16/04/2014 20:08 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Senin, 30/06/2008 18:40 WIB

Esensi Musik Klasik Karya Ananda Sukarlan

Pengirim: Rosari Indah Efriningtias - detikNews
Surabaya - Seorang pianis dengan reputasi internasional, Ananda Sukarlan memiliki sisi unik sebagai seorang seniman. Dalam bermain piano, dia tidak sekedar bermain alat musik. Melainkan benar-benar bermain musik, dengan memberi penghayatan mendalam & memberi nyawa pada permainan musiknya.

Keberanian Ananda mengangkat nuansa nasionalisme dan ke-Indonesiaan yang kental dalam berbagai komposisi musik klasiknya, merupakan sebuah gebrakan besar yang berbeda dengan pola bermusik masyarakat kebanyakan.

Saat semua orang sedang gandrung dengan aneka sentuhan nuansa import dan tidak mengindahkan musik klasik, Ananda malah menciptakan sebuah genre komposisi tersendiri yang malah mendapatkan tepukan meriah dari dunia internasional.

Apa yang diciptakan Ananda berupa memasukkan gagasan nasionalisme yang kental ke dalam aransemen musik klasik merupakan sebuah masterpiece untuk tanah air. Gairah rasa kebangsaan yang kental dalam musik Ananda dapat membuat Indonesia mendongakkan kepala di dunia Internasional.

Gagasan semacam ini sudah lama menjadi trend di era 1900an di Eropa, seperti yang dilakukan oleh Edvard Grieg dari Norwegia, Modest Mussorgsky dari Rusia, dan Isaac Albeniz dari Spanyol.

Komposisi ciptaannya merupakan sebuah penciptaan karya-karya besar dari maestro musik klasik kelas dunia yang banyak diadaptasi dari seni literatur. Misalnya saja dari syair-syair dan puisi Sapardi Joko Darmono dan sastrawan Indonesia lainnya. Dengan begitu Ananda memperkaya khasanah dunia seni tanah air dengan karya-karyanya yang indah dan penuh makna.

Semuanya itu bukanlah sekedar karya artifisial dan sensasional, melainkan benar-benar mengedepankan esensi berupa apresiasi gairah seni yang muncul dari kedalaman akal, rasa dan getaran jiwa.

Seperti misalnya saja Alfred de Musset, seorang seniman Perancis di era 1890-an yang banyak melakukan musikalisasi sajak dan puisi. Salah satu karya Ananda mengenai kebun binatang juga dapat dikategorikan sebagai sebuah masterpiece musik klasik bernafaskan impresionisme dan romantisme yang kental. Bila dunia mengenal Debussy dan Igor Stravinksy yang brilian, Indonesia punya Ananda Sukarlan. (rosari.i.e@gmail.com)

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(fat/fat)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
90%
Kontra
10%