Detik.com News
Detik.com
Minggu, 16/03/2014 11:58 WIB

Foto Terakhir Malaysia MH370 Saat Mengudara

Rachmadin Ismail - detikNews
 Foto Terakhir Malaysia MH370 Saat Mengudara reuters
Jakarta - Beredar foto terakhir pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang. Gambar itu dijepret oleh fotografer Reuters dan mulai muncul belakangan ini.

Diberitakan Daily Mail, Minggu (16/3/2014), foto itu diambil pada bulan Februari 2014 lalu. Pesawat Boeing 777-200ER tersebut mengudara di atas langit Polandia.

Hingga kini, keberadaan pesawat berpenumpang 227 dan kru 12 orang itu masih belum diketahui. Kabar terakhir, menurut Perdana Menteri Malaysi Najib Raza, kemungkinan pesawat berada di Samudera Hindia.

Najib juga memastikan bahwa pesawat MH370 telah dengan sengaja dialihkan ke rute lain. Hilangnya pesawat tersebut dari layar radar sipil merupakan aksi kesengajaan yang dilakukan seseorang di dalam pesawat. Dugaan paling kuat, ini adalah pembajakan.





Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(mad/try)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
99%
Kontra
1%