detikcom

Jumat, 24/01/2014 10:17 WIB

Proyek Sodetan Ciliwung

31 Januari, Banjir Rob Diperkirakan Melanda Jakarta

Ropesta Sitorus - detikNews
Banjir rob di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. (Foto-detikcom)
Jakarta - Banjir belum berakhir. Bah yang melanda Jakarta akibat air dan cuaca alias hidrometeorologi diperkirakan masih tinggi hingga beberapa minggu ke depan. Firdaus Ali, Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute mengingatkan adanya potensi bencana banjir yang lebih besar 31 Januari mendatang.

Pada saat itu menurut dia akan terjadi air pasang puncak di Teluk Jakarta. Jika pada saat bersamaan juga terjadi hujan dengan curah tinggi dalam waktu lama, maka banjir yang lebih besar bisa melanda kawasan utara Jakarta.

“Kondisi tanah telah jenuh air sehingga membuat air limpasan dari 13 DAS yang melewati Ibu Kota tidak bisa dengan cepat dialirkan ke laut,” kata dia kepada detikcom, Selasa (21/1).

Di Jakarta menurut dia banjir bisa berupa genangan yang biasanya langsung surut dalam beberapa jam, lalu banjir akibat limpasan ketika air melebihi kapasitas daya angkut saluran, dan terakhir banjir rob khususnya di daerah utara.

Persoalan banjir akibat limpasan dari 13 aliran sungai memang sudah bertahun-tahun dihadapi Ibu Kota. Salah satu sungai yang sulit diatasi ketika musim hujan adalah Ciliwung. Sungai ini membelah Jakarta dari Selatan hingga ke Penjaringan di bagian Utara.

Sungai penting di Jawa ini tak lepas dari isu perusakan seperti masalah resapan air di hulu, penyempitan trase hingga pendangkalan sungainya. Akibatnya banjir tak bisa dielakkan.Setiap kali musim hujan, airnya pasti melimpas, menggenani wilayah yang dilaluinya.

Pemerintah provinsi pun kewalahan menanggulanginya. Beragam wacana dicanangkan, mulai dari pembangunan dan revitalisasi kali, waduk, empang, situ, hingga manipulasi aliaran sungai dengan cara membangun kanal atau menyodetnya. Salah satu yang kembali digaungkan pemerintah adalah sodetan Ciliwung – Cisadane.

Sayangnya, sodetan yang sudah digagas sejak tahun 1997 ini, menurut Firdaus Ali, sulit direaliasikan. Itu sebabnya, ia lebih memilih mengajukan konsep terowongan multiguna alias Multi Purposes Deep Tunnel. Terowongan ini, kata dia, sebagai solusi karena tidak perlu pembebasan lahan, yang selama ini jadi penghambat pembangunan aneka instrastuktur di tanah air.

“Saya sudah berulang kali bilang, kalau bisa milih, bikin waduk, situ, sungai, kanal, saya pasti pilih bikin waduk dan kanal. Tapi kan persoalannya bikin waduk enggak mungkin. Berdarah-darah.Sodetan (Ciliwung – Cisadane) saja enggak mau Tangerang,” ujar Firdaus.



Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(erd/erd)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
80%
Kontra
20%