Detik.com News
Detik.com

Sabtu, 14/12/2013 09:21 WIB

Kolom Djoko Suud

Gadis Cabe & Ciblek

Djoko Suud Sukahar - detikNews
Halaman 1 dari 2
Gadis Cabe & Ciblek
Jakarta - Muncul istilah gadis cabe. Cewek ABG penghangat malam. Mereka menjual diri tidak sekadar untuk uang, tetapi sebagai ekspresi mencari eksistensi diri. Benarkah itu akibat hilangnya ketauladanan dari orangtua dan pemimpin? Bagaimana pula dengan ciblek, gadis-gadis cilik betah melek?

Cabe-cabean tiba-tiba menghentak. Ini istilah baru yang mulai populer. Wujutnya gadis-gadis yang biasa keluyuran di waktu malam. Membiarkan tubuhnya dinikmati lelaki. Demi uang tidak seberapa. Demi menyemarakkan pertarungan di balapan liar. Dan demi nafsu bawah sadar agar tampil sebagai dewi yang diperebutkan.

Gadis-gadis itu, usia anak SMP dan SMU, melakukan sesuatu yang harusnya belum layak dilakukan. Dia merelakan tubuhnya dinikmati laki-laki untuk kesenangan. Menjadi hadiah bagi yang menang balapan pacu motor. Dan disebut cabe-cabean karena konotasinya sebagai penghangat malam, menggairahkan para petarung untuk berlaga, mirip kapok lombok, pedas tetapi membuat ketagihan.

Cabe-cabean di Semarang, Jawa Tengah disebut ciblek. Singkatan dari cilik-cilik betah melek. Gadis kecil kuat begadang. Mereka dulu kumpul di Simpang Lima, bergaul layaknya wanita dewasa, dan sekarang kian berkembang dengan maraknya warung dan pedagang dengan heterogenitas jualan. Kebiasaan ini terjadi di banyak kota besar lain, dengan istilah dan gaya berbeda, tetapi esensinya sama, kenakalan remaja.

Nakal itu lumrah. Selagi tidak terlalu menabrak tatanan hukum dan susila. Namun cabe-cabean ini sudah terlalu menyimpang. Melakukan pelanggaran banyak sendi. Merusak diri sendiri, lingkungan, dan tidak terbayangkan jika dikaitkan dengan generasi bangsa ini ke depan. Benarkah itu karena hilangnya nilai keteladanan dari orangtua di dalam keluarga dan pemimpin dari bagan besar yang disebut negara?

Jika kita menoleh ke kasus impor daging yang melibatkan Fathanah dan Lutfi Hasan Ishaq (LHI) yang mantan presiden PKS, memang tudingan itu tidak salah. Kaca buram itu terpampang dan terekspos begitu gencar. Bukan main banyaknya bidadari di kasus ini. Berbagai peran disandang. Berbagai wajah terpampang. Dan terbayang, seperti apa praktik simbiose mutualisme antara para bidadari yang puluhan itu. Ini bak Negeri Trembini. Negeri syahwat bagi yang syur.

Kasus korupsi impor daging itu tampil seperti sinetron. Bukan soal duit miliran rupiah dan ironi mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai dakwah, tapi munculnya nama-nama baru perempuan di baliknya. Perempuan-perempuan itu datang dari berbagai profesi. Ada yang artis dan penyanyi. Ada yang pelajar dan tetangga. Ada pengusaha , sehingga perempuan-perempuan itu menyemut ke Fathanah karena diberi mobil, uang dan perhiasan yang wah.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(fjr/fjr)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom »
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%