detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Rabu, 16/04/2014 23:08 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Sabtu, 14/12/2013 09:21 WIB

Kolom Djoko Suud

Gadis Cabe & Ciblek

Djoko Suud Sukahar - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Muncul istilah ‘gadis cabe’. Cewek ABG penghangat malam. Mereka menjual diri tidak sekadar untuk uang, tetapi sebagai ekspresi mencari eksistensi diri. Benarkah itu akibat hilangnya ketauladanan dari orangtua dan pemimpin? Bagaimana pula dengan ciblek, gadis-gadis cilik betah melek?

‘Cabe-cabean’ tiba-tiba menghentak. Ini istilah baru yang mulai populer. Wujutnya gadis-gadis yang biasa keluyuran di waktu malam. Membiarkan tubuhnya dinikmati lelaki. Demi uang tidak seberapa. Demi menyemarakkan pertarungan di balapan liar. Dan demi nafsu bawah sadar agar tampil sebagai ‘dewi’ yang diperebutkan.

Gadis-gadis itu, usia anak SMP dan SMU, melakukan sesuatu yang harusnya belum layak dilakukan. Dia merelakan tubuhnya dinikmati laki-laki untuk kesenangan. Menjadi hadiah bagi yang menang balapan pacu motor. Dan disebut ‘cabe-cabean’ karena konotasinya sebagai penghangat malam, menggairahkan para petarung untuk berlaga, mirip kapok lombok, pedas tetapi membuat ketagihan.

‘Cabe-cabean’ di Semarang, Jawa Tengah disebut ciblek. Singkatan dari cilik-cilik betah melek. Gadis kecil kuat begadang. Mereka dulu kumpul di Simpang Lima, bergaul layaknya wanita dewasa, dan sekarang kian berkembang dengan maraknya warung dan pedagang dengan heterogenitas jualan. Kebiasaan ini terjadi di banyak kota besar lain, dengan istilah dan gaya berbeda, tetapi esensinya sama, kenakalan remaja.

Nakal itu lumrah. Selagi tidak terlalu menabrak tatanan hukum dan susila. Namun ‘cabe-cabean’ ini sudah terlalu menyimpang. Melakukan pelanggaran banyak sendi. Merusak diri sendiri, lingkungan, dan tidak terbayangkan jika dikaitkan dengan generasi bangsa ini ke depan. Benarkah itu karena hilangnya nilai keteladanan dari orangtua di dalam keluarga dan pemimpin dari bagan besar yang disebut negara?

Jika kita menoleh ke kasus impor daging yang melibatkan Fathanah dan Lutfi Hasan Ishaq (LHI) yang mantan presiden PKS, memang tudingan itu tidak salah. Kaca buram itu terpampang dan terekspos begitu gencar. Bukan main banyaknya ‘bidadari’ di kasus ini. Berbagai peran disandang. Berbagai wajah terpampang. Dan terbayang, seperti apa praktik simbiose mutualisme antara para ‘bidadari’ yang puluhan itu. Ini bak Negeri Trembini. Negeri syahwat bagi yang syur.

Kasus korupsi impor daging itu tampil seperti sinetron. Bukan soal duit miliran rupiah dan ironi mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai ‘partai dakwah’, tapi munculnya nama-nama baru perempuan di baliknya. Perempuan-perempuan itu datang dari berbagai profesi. Ada yang artis dan penyanyi. Ada yang pelajar dan tetangga. Ada pengusaha , sehingga perempuan-perempuan itu menyemut ke Fathanah karena diberi mobil, uang dan perhiasan yang wah.Next

Halaman 1 2

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(fjr/fjr)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
87%
Kontra
13%