detikcom
Rabu, 13/11/2013 07:52 WIB

Sandyakalaning CDMA

Hans Henricus - detikNews
Jakarta - Fredy Nullie selama lima tahun ini selalu menenteng dua ponsel. Pegawai swasta yang berkantor di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, itu menggunakan salah satu operator CDMA karena pulsanya murah untuk menelepon, tapi tidak bisa meninggalkan ponsel GSM, yang jaringan sinyalnya lebih bagus dan memiliki fitur lebih canggih.

Dalam kurun waktu lima tahun, kedua ponsel itu selalu menjadi andalan Fredy dalam menjalin komunikasi dengan rekan kerja, teman, dan keluarganya di rumah. Namun beberapa bulan lalu ia memberi tahu semua handai taulan bahwa nomor CDMA-nya ia pensiunkan. “Ponselnya masih ada di rumah tapi tidak pernah diisi pulsa,” ujar Fredy dalam majalah detik edisi 102.

Pelanggan ponsel seperti Fredy inilah yang membuat nasib operator-operator CDMA semakin muram. Selain Smartfren, tiga merek lain, yakni Esia, Flexi, dan StarOne, terus berkurang penggunanya. Bahkan Flexi, yang tahun lalu masih bisa mendongkrak jumlah pelanggan dari 14 juta menjadi 17 juta, sekarang turun lagi menjadi hanya sekitar 11 juta pengguna.

PT Telekomunikasi Indonesia, misalnya, sudah tidak bersemangat lagi mengembangkan merek CDMA mereka, Flexi. Mereka memandang masa depan ada di format pesaingnya, GSM dan turunannya. “Telkom, kebijakannya, hanya menjaga (pelanggan) CDMA yang sudah ada,” kata juru bicara Telekomunikasi Indonesia, Pujo Pramono. “Arah perkembangan untuk teknologi ke depannya lebih ke GSM.”

***

Tulisan selengkapnya bisa dibaca GRATIS di edisi terbaru Majalah Detik (edisi 102, 11 November 2013). Edisi ini mengupas tuntas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dengan tema “Jokowi Masalah buat Lo?”. Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik Nasional “Kalau Jakarta Kena Sadap”, Internasional Siapa Meracun Yasser Arafat, Bisnis “Membangunkan Saham Tidur”, Wisata “Kalianda yang Terlewatkan”, rubrik Seni Hiburan dan review Film Adriana, Wkwkwk “Gara-gara Es Tebu”, serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download di www.majalahdetik.com. Gratis, selamat menikmati!!


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(iy/iy)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
74%
Kontra
26%