Selasa, 08/10/2013 12:20 WIB

Kolom Djoko Suud

Santet dan KPK Sakti

Djoko Suud - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - KPK ditaburi bunga. Ada ceceran garam. Juga tanah (kuburan). Benarkah KPK disantet? Mempankah kalau itu benar-benar sesaji untuk mencelakai? Selagi niat dan batin anggota KPK baik, kalaulah itu santet, justru pengirimnya yang akan celaka. Insyaallah KPK sakti.

Tangkap tangan Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), membuat shock. Garda terakhir pengawasan itu runtuh. Apalagi kasus ini sepaket. Ada Chairun Nisa, wakil rakyat. Juga Ratu Atut, adiknya, dan pengacara. Ini bak yudikatif sebelum ketok palu difasilitasi legislatif, mengakomodasi eksekutif, maka lahirlah uang yang bisa untuk membeli segala-galanya.

Kasus ini membuat rakyat semakin tidak percaya bahwa di negeri ini masih ada pejabat yang baik dan amanah. Itu bukan semata karena kasus Akil saja. Setumpuk penyimpangan datang bergantian. Timbul tenggelam. Dan kasus Akil seperti vonis akhir, justifikasi, bahwa penegak hukum di negeri ini memang gampang dibeli.

Perkara yang membuat orang ternganga-nganga saking 'gilanya' kasus ini sekarang sedang bergulir. Kita ikuti prosesi panjang yang melahirkan sekuel-sekuel dari 'pengadilan gelap' itu. Bakal banyak hadir fakta unik, lucu dan menggemaskan. Dan itu akan seperti reality show yang miris karena terjadi dalam ranah hukum.

Yang menarik, di tengah perkara ini ada penggalan cerita yang tidak logis tapi diyakini ada. Santet! KPK disantet. Isu itu santer berhembus, ketika institusi ini mencegah Gubernur Banten Ratu Atut dan menetapkan adiknya sebagai tersangka suap pilkada. Isu itu seperti mendakwa, bahwa fakta hukum itu akan dilawan melalui mistik. Fakta versus fiksi?

Banten dalam peta mistik tak jauh dengan Banyuwangi di Jawa Timur. Dua daerah ini dipercaya kaya dengan budaya itu. Sama-sama memiliki 'hutan larangan', sama-sama punya suku mempertahankan tradisi. Dan sama-sama punya keyakinan, bahwa metafisis adalah hal lain yang memberi kekuatan sekaligus kekuasaan bagi pengamalnya.

Yang membedakan mistik ujung timur dan ujung barat Pulau Jawa itu hanya pada dasar keyakinan pengamalnya. Jika di ujung timur lebih bernuansa Jawa dengan Kejawen (sinkretis), maka di ujung barat mengental dengan Islamnya. Itu pula yang membedakan dalam aplikasi mistik pun doa serta sarana (uborampe) yang digunakan.Next

Halaman 1 2

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(nrl/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
75%
Kontra
25%