Rabu, 02/10/2013 13:44 WIB

Tragedi Berdarah di Kalibata City

Tak Ada Gatot Supiartono di Pemakaman Holly Angela

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Semarang - Korban pembunuhan di Apartemen Kalibata City, Holly Angela, dimakamkan. Pemakaman diiringi keluarga dan anak-anaknya. Sang suami, Gatot Supiartono, tak muncul hingga perempuan itu berada di peristirahatan terakhir.

Jenazah dilepas dari rumah duka di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, menuju TPU Kadipiro Karangtengah, Rabu (2/10/2013) sekitar pukul 12.20 WIB. Ibunda Holly, Agnes Sri Nastiti, melambaikan tangan. Dari kedua kelopak matanya, air mata bercucuran.

Puluhan warga, terutama ibu-ibu, melepas kepergian jenazah di rumah duka. Jenazah dimasukkan peti, lalu diangkut dengan menggunakan ambulans. Puluhan pelayat mengiringi. Tidak terlihat suaminya, Gatot Supriartono, pejabat eselon I BPK.

TPU Kadipiro berjarak sekitar 1 km dari rumah duka. Tidak ada ekspresi berlebihan dari keluarga saat peti jenazah dimasukkan ke liang lahat. Hanya terpancar raut muka sedih.

Sebagian sisi hidup Holly hingga saat ini masih menjadi misteri. Siapa yang membunuh perempuan yang disebut-sebut bersuami tiga ini? Siapa orang yang ditemukan bersamaan dengan kematiannya di Apartemen Kalibata City?


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(try/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
67%
Kontra
33%