Rabu, 02/10/2013 10:24 WIB

Dari Vladivostok ke Bali (4)

Cius, Bogor Goals Memang 'Sesuatu'

M Aji Surya - detikNews
KTT APEC 1994 di Bogor
Jakarta - Jangan main-main, kata Bogor itu sangat magis. Senantiasa disebut-sebut selama APEC eksis. Itu semua karena adanya Bogor Goals, sebuah konsep visioner yang dicanangkan saat Indonesia menjadi Tuan Rumah KTT APEC (1994).

Bogor Goals sejatinya adalah target dan komitmen APEC untuk menciptakan kawasan Asia Pasifik yang lebih bebas dan terbuka bagi perdagangan dan investasi.
Dokumen itu menggariskan langkah-langkah APEC yang bertumpu pada 3 (tiga) pilar utama yakni: penguatan liberalisasi perdagangan dan investasi, peningkatan fasilitasi usaha, serta pengintensifan kerja sama ekonomi dan teknik.

Karena perbedaan tingkat perekonomian negara-negara anggota APEC, target pencapaian tiga pilar itu dibedakan menjadi tahun 2010 bagi ekonomi industri maju dan tahun 2020 bagi ekonomi berkembang. Pembedaan tersebut untuk memberi kesempatan negara berkembang dalam mempersiapkan perekonomian dan dunia usahanya bagi sebuah pasar yang lebih terbuka.

Bukan hanya itu. Pilar fasilitasi usaha dan kerja sama teknik antarekonomi juga memberikan intensif bagi negara berkembang untuk memperkuat diri, sebelum bertanding total di 2020 nanti. Kerja keras untuk mendapatkan perlakuan khusus tersebut merupakan salah satu bukti keberpihakan diplomasi Indonesia pada dunia usaha dan UKM tanah air.

Dalam setiap pertemuan APEC, Bogor Goals adalah ‘’kitab suci’’ untuk mengukur langkah-langkah yang telah dilakukan bagi peningkatan kerja sama dan integrasi ekonomi kawasan Asia Pasifik. Konsep ini juga menjadi semacam cambuk untuk memacu negara-negara APEC agar lebih serius dalam menghadapi era liberalisasi perdagangan dan investasi yang lebih terbuka di tingkat global.

Lalu, bagaimana implementasi Bogor Goals sejauh ini? Berdasarkan kajian Biro Statistik Sekretariat APEC, negara-negara APEC telah melakukan langkah-langkah seirama dan mencatat kemajuan di berbagai bidang secara signifikan. Sejak 1989 hingga 2010, total perdagangan barang dan jasa dalam perekonomian APEC meningkat 5 kali lipat lebih, dari US$ 3,1 triliun menjadi US$ 16,8 triliun. Tarif rata-rata di kawasan juga telah turun dari 16,9 % pada tahun 1989 menjadi 5,7 % di tahun 2011. Selain itu, PDB per kapita kawasan ini juga meningkat dari US$7.934 pada 1989 menjadi US$ 13.247 pada 2010.

Dulu Bogor, kini giliran Bali. Di tengah gonjang-ganjing ekonomi global saat ini, Indonesia sebagai Ketua APEC lagi-lagi berkesempatan untuk memberikan konstribusi terbaik bagi dunia. Di pulau Dewata, para pemimpin APEC diharapkan akan menghasilkan konsep lain yang visioner.



Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(rmd/rmd)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Camat dan Lurah Tak Perlu Ada, Ganti Jadi Manajer Pelayanan Satu Atap

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera merealisasikan kantor kelurahan dan kecamatan menjadi kantor pelayanan terpadu satu pintu. Lurah dan camat bakal berfungsi sebagai manajer pelayanan. Ahok berpendapat lurah dan camat tak perlu lagi ada di Indonesia. Bila Anda setuju dengan gagasan Ahok, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%