Rabu, 25/09/2013 12:32 WIB

Nelayan Indonesia Masih Tangkap Hiu di Perairan Australia

ABC Australia - detikNews
Jakarta - Tim peneliti kelautan Australia dan Kanada menyatakan meskipun aktivitas nelayan Indonesia menangkap ikan hiu secara tradisional di perairan Australia masih diperbolehkan, namun perlu dicermati dampaknya terhadap kerusakan terumbu karang.

Menurut Dr Mark Meekan yang memimpin penelitian mengatakan, studi yang mereka lakukan merupakan bukti pertama mengenai peranan ikan hiu dalam lingkungan terumbu karang.

Penelitian itu dilakukan di terumbu karang sekitar 300 kilometer di lepas pantai baratlaut Australia. Dr Mark Meekan dari Institut Ilmu Kelautan Australia, mengatakan nelayan Indonesia memang sudah ratusan tahun menangkap ikan hiu di terumbu karang itu.

"Mereka masih dibolehkan melakukannya dengan menggunakan metoda tradisional yang sama. Menggunakan perahu kano kecil, mereka berlayar dari Rote di Timor Barat setiap musim dingin dan berusaha menangkap ikan hiu," Dr Meekan menjelaskan.

Menurut Dr Meekan, penangkapan ikan hiu itu menimbulkan dampak yang dramatis pada populasi jenis ikan hiu di sana.

"Herannya, walaupun mereka itu hanya menggunakan kano dan tali pancing, mereka sangat berhasil dalam menangkap ikan hiu," katanya. "Dan di terumbu karang dimana mereka dibolehkan menangkap ikan, didapati bahwa sebagian besar ikan hiu yang dulu hidup disana kini sudah habis. Dan itu berdampak pada jenis ikan-ikan lainnya."

Studi itu mendapati bahwa ikan-ikan pemangsa yang lebih kecil sekarang ini jauh lebih banyak jumlahnya di terumbu karang yang tidak ada ikan hiu, dibandingkan dengan di terumbu karang di dekatnya dimana tidak dilakukan penangkapan ikan.

Walaupun jenis ikan-ikan pemangsa lebih kecil itu disukai orang untuk dimakan, tapi sayang dampaknya bukan cuma itu saja. Itu berdampak pada rantai makanan, dan sekarang mempengaruhi juga populasi ikan lebih kecil pemakan ganggang yang berada pada urutan lebih rendah dalam rantai makanan di terumbu karang tersebut. Sementara ikan pemangsa menjadi lebih banyak, ikan pemakan ganggang menjadi menyusut.

Ini mengkuatirkan, katanya, karena terumbu karang ini bukan cuma ditangkapi ikannya, tapi juga mengalami berbagai gangguan lainnya seperti angin puyuh, bleaching dan sebagainya.

Dr Meekan menjelaskan, gangguan alamiah seperti itu mematikan terumbu karang hidup.

Ganggang tumbuh di karang-karang itu sementara terumbu karangnya mati. Dan ikan-ikan pemakan ganggang itu sangat penting, karena mereka biasanya membersihkan sebagian ganggang dan memungkinkan tumbuhnya lagi terumbu karang di sana. Kalau tidak ada cukup ikan pemakan ganggang, ini menjadi masalah besar bagi pemulihan terumbu karang tersebut.

Kata Dr Meekan, penelitian itu menunjukkan betapa perlunya melindungi ikan hiu.

Katanya, terumbuk karang menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti. Tapi kita bisa melakukan sesuatu untuk melindungi jenis ikan hiu yang hidup di terumbu karang.

"Kebanyakan ikan ini tinggal di terumbuk karang dan tidak pergi jauh-jauh dari sana. Jadi dengan membuat taman laut kecil bagi ikan-ikan itu untuk melindungi mereka, kita pada kenyataannya meningkatkan daya tahan terumbu karang dan memberi harapan bagi masadepan," demikian Dr Mark Meekan dalam wawancara dengan wartawati ABC, Samantha Donovan.
;


(nwk/nwk)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Camat dan Lurah Tak Perlu Ada, Ganti Jadi Manajer Pelayanan Satu Atap

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera merealisasikan kantor kelurahan dan kecamatan menjadi kantor pelayanan terpadu satu pintu. Lurah dan camat bakal berfungsi sebagai manajer pelayanan. Ahok berpendapat lurah dan camat tak perlu lagi ada di Indonesia. Bila Anda setuju dengan gagasan Ahok, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%