detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 12:50 , Sumber : Radio Republik Indonesia

Kamis, 12/09/2013 12:44 WIB

Pamer Foto Speedometer Dilakukan Pengendara Pemula, Risiko Diabaikan

Sukma Indah Permana - detikNews
(Foto: Instagram @gustadwigusta)
Jakarta - Kemajuan teknologi informasi saat ini ternyata berpengaruh pada gaya berkendara anak muda. Salah satunya terlihat dari fenomena memposting foto speedometer yang dalam keadaan kecepatan tinggi.

"Gaya anak muda sekarang memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi, memtretnya, lalu diupload di jejaring sosial," ujar pengamat otomotif dan Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC) Jusri Pulubuhu ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (12/9/2013).

Fenomena ini hampir pasti hanya dilakukan oleh pengendara pemula yang ingin menunjukkan eksistensinya. Di usia yang belum matang inilah Jusri menilai mereka masih memiliki ketidaktahuan dan ketidakpahaman tentang arti bahaya dan risiko.

"Mereka ingin menunjukkan ke orang lain, entah dengan naik motor lepas tangan, speedometer difoto dalam keadaan kecepatan tinggi, mereka ingin show off," lanjutnya.

Jusri juga melihat, pengendara di level pemula justru mengedepankan emosi dalam melajukan kendaraannya. Mereka cenderung tidak memiliki perhitungan yang matang atas apa yang mereka lakukan di jalan raya. Sedangkan menurut Jusri, jalan raya adalah tempat yang tak pernah aman bagi penggunanya.

"Di usia remaja, pengendara ini memiliki kemampuan imajinasi yang melampaui kemampuan logika," ulas Jusri.

"Mereka tidak sepenuhnya paham bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak aman. Yang terpenting untuk mereka adalah Dengan begini, saya masuk ke dalam kelompok orang-orang hebat. Padahal kehebatan tidak bisa diaktualisasikan dengan hal-hal yang tidak aman," imbuhnya.

Tren memotret speedometer saat ngebut muncul belakangan ini. Mereka memajang foto itu di media sosial seperti instagram dengan hashtag #speedometer.

Kasus foto speedometer yang berhubungan dengan kecelakaan maut pernah terjadi di Tol Cipularang. Pengemudi Nissan Juke Muhammad Dwigusta Cahya (18) pernah memposting di akun instagram sebuah foto speedometer mobil yang dipacu dengan kecepatan di atas 140 km/jam. Kini, Cahya sudah divonis satu tahun penjara.

Insiden lebih tragis terjadi di London, Inggris. Seorang remaja meninggal dunia karena kecelakaan saat memfoto speedometer mobil yang dikendarai ketika melaju di kecepatan 105 mph (169 km/jam).

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(sip/mad)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%
MustRead close