Detik.com News
Detik.com
Minggu, 08/09/2013 06:43 WIB

Aliansi Peduli KBRI Berlin Tolak Foke Jadi Dubes RI di Jerman

Eddi Santosa - detikNews
Aliansi Peduli KBRI Berlin Tolak Foke Jadi Dubes RI di Jerman
Berlin - Menyusul kemunculan daftar 22 nama calon Dubes yang mencantumkan nama Fauzi Bowo (Foke) sebagai calon Dubes RI untuk Republik Federal Jerman, kini beredar petisi online di change.org yang menyatakan menolak Foke menjadi Dubes RI di negara tempat dia pernah menimba ilmu itu.

Petisi dari masyarakat Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Peduli KBRI Berlin itu menuntut pemerintah RI agar mempertimbangkan kembali pencalonan Fauzi Bowo sebagai Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman demi peningkatan kualitas hubungan diplomatik kedua negara.

Selengkapnya petisi bertanggal 6 September 2013 itu menyebutkan dalam konsiderannya sebagai berikut:
  1. Kampanye hitam bermuatan SARA pernah dilancarkan oleh pihak Fauzi Bowo pada masa pemilihan Gubernur DKI 2012. Kami menganggap tidak pantas memilih tokoh yang tidak menjunjung nilai-nilai multikultural dan plurarisme untuk menjadi kepala perwakilan negara Indonesia yang merupakan bangsa yang majemuk.
  2. Fauzi Bowo tidak memiliki kontribusi dan track record nyata dalam hal hubungan diplomasi Jakarta-Berlin yang membuatnya layak menjadi kepala perwakilan Indonesia di negara yang merupakan pemain penting dalam percaturan politik Eropa dan internasional.
  3. Tidak ada prestasi nyata dalam pembangunan Kota Jakarta selama ia menjabat sebagai gubernur khususnya dalam perbaikan infrastruktur kota dan pengatasan masalah kemacetan sebagaimana digadang-gadang dalam slogan Serahkan pada ahlinya. Sebagai gubernur dengan predikat lulusan universitas Jerman dalam bidang perencanaan kota, Fauzi Bowo telah gagal mengaplikasikan ilmunya. Sebaliknya selama masa kepemimpinannya justru kondisi tata ruang Kota dan sistem transportasi Jakarta semakin semrawut.
  4. Sebagai tokoh yang sudah kehilangan kepercayaan di kota yang pernah dipimpinnya, adalah ironis kalau pemerintah Indonesia justru memberikan jabatan yang lebih tinggi dengan menempatkan yang bersangkutan sebagai kepala perwakilan Indonesia di sebuah negara penting Eropa.
  5. Selama kepemimpinan Fauzi Bowo fenomena intoleransi dan premanisme semakin berkembang dengan maraknya aksi kekerasan oleh ormas-ormas terhadap kelompok minoritas tanpa ada aksi pencegahan nyata dari Fauzi Bowo dan perangkatnya sebagai pengayom Jakarta.
  6. Sebagai pemimpin Fauzi Bowo seringkali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mencederai rasa keadilan orang banyak, seperti: rok mini sebagai pemicu aksi pemerkosaan, mengasosiasikan banjir hanya sebagai genangan air, menuduh pengguna sepeda motor sebagai biang kemacetan di Jakarta dan lain sebagainya.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, kami masyarakat Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Peduli KBRI Jerman (Berlin), menuntut pemerintah RI agar mempertimbangkan kembali pencalonan Fauzi Bowo sebagai Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman demi peningkatan kualitas hubungan diplomatik kedua negara.

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(es/es)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%