Kamis, 01/08/2013 21:00 WIB

Kolom

Potret Indonesia Jelang Lebaran

Toni Ervianto - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Jika tidak ada aral melintang, umat Islam di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya akan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H pada 8 Agustus 2013 mendatang. Ritual keagamaan tahunan tersebut ditandai dengan arus mudik yang tahun ini diperkirakan mencapai 17 juta pemudik. Oleh karena itu, memprediksikan bagaimana situasi dan kondisi Indonesia menjelang dan sesudah lebaran menjadi penting dan masukan bagi pemerintah maupun pemudik itu sendiri.

Saat ini, ekonomi Indonesia berpotensi melambat, karena investasi juga mulai melambat. Sementara itu ketimpangan masih tinggi dan meningkat, sehingga kondisi ini berpotensi menimbulkan keresahan ekonomi manakala kondisi ekonomi semakin susah. Melambatnya ekonomi nasional dalam waktu dekat, risikonya belum terlihat, namun risiko terburuk adalah melambatnya pertumbuhan pekonomi yang tidak akan mencapai 6%. Bila ekonomi melambat, maka eksesnya penerimaan pajak akan meleset sehingga defisit fiskal akan membengkak. Melambatnya perekonomian nasional disebabkan karena kondisi global di samping kondisi internal Indonesia, sehingga investasi lari menuju Amerika Serikat, karena geliat ekonomi AS mulai muncul.

Masalah ekonomi Indonesia yang lain adalah middle income trap yang terjadi jika pendapatan per kapita tidak naik sepesat tahun 2012. Jadi, tetap saja seperti sekarang hanya naik sebatas pertumbuhan penduduk, seperti yang dialami Filipina sejak tahun 1980-an hingga saat ini berhenti, sehingga ekonomi Indonesia jauh lebih baik daripada Filipina. Kunci untuk melewati jebakan ini adalah perbaikan mutu SDM. Jadi, investasi di bidang pendidikan harus diperbanyak, agar ekonomi Indonesia berbasis knowledge atau berbasis inovasi. Hal ini yang dilakukan Korsel dan Jepang, di mana Korsel hanya 8 tahun berada di level middle income trap, sementara Indonesia sudah terkena middle income trap selama 23 tahun terakhir. Menjelang lebaran 2013, yang perlu diwaspadai adalah ketersediaan bahan pokok dengan harga yang terjangkau. Operasi pasar dari Bulog untuk daging sapi sudah benar dan perlu diteruskan untuk stabilisasi saat lebaran. BerapA pun biaya untuk operasi pasar ini perlu dilakukan untuk bahan pangan strategis, karena menyangkut image pemerintah dalam mengelola ekonomi. Apalagi menjelang tahun politik 2014, maka 'kerikil-kerikil tajam' akan semakin besar.

Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti cabai rawit, cabai merah keriting, bawang merah, daging sapi, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, kentang, tepung terigu, di berbagai pasar tradisional di beberapa daerah terus terjadi. Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok di beberapa daerah berpotensi terus berlanjut hingga Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Kecenderungan terus naiknya harga bahan kebutuhan pokok perlu diantisipasi, karena tidak terkendalinya harga bahan kebutuhan pokok dapat menimbulkan gejolak masyarakat dan rawan dimanfaatkan pihak-pihak kepentingan untuk mendiskreditkan pemerintah.

Konsumen dalam berbelanja makanan dan minuman juga harus berhati-hati, karena saat ini marak beredarnya makanan kadaluarsa dan mengandung zat-zat berbahaya berupa tahu dan mie basah mengandung formalin, serta arum manis mengandung rhodamin B di beberapa tempat di Jakarta. Dis amping itu, BPOM juga menemukan makanan berbahasa Cina yang tidak memiliki izin edar dan masih menggunakan label asing serta menggunakan zat mengandung rhodamin B. Makanan kadaluarsa lainnya seperti keju, biskuit, wafer, teh produk olahan daging, ikan asin , dan susu di sejumlah supermarket di wilayah Jakarta Timur. Sementara itu, di Tangerang Selatan, Banten, di Pasar Ciputat garam kuning mengandung boraks, tahu putih besar dan mie kuning basah mengandung formalin, kerupuk pasir merah dan pacar cina merah muda mengandung rhodamin B serta metanil yellow, kecap kadaluwarsa, dan makanan olahan sosis tanpa merk. Peredaran makanan tidak layak konsumsi di Bantul (DIY), Pontianak (Kalbar), dan Tebing Tinggi (Sumut). Peredaran makanan dan minuman ilegal menjelang Idul Fitri diperkirakan akan meningkat karena tingginya permintaan dan masih lemahnya pengawasan. Peredaran makanan dan minuman ilegal yang tidak terkendali dapat mengancam kesehatan masyarakat.

Masalah lain yang perlu diwaspadai pemudik adalah kemungkinan terjadinya bencana alam mulai dari tanah longsor, gempa bumi sampai kebakaran, karena titik panas yang semakin banyak ditemukan, khususnya di daerah Riau sebanyak 36 titik panas (hot spot) dengan rincian, Kabupaten Rokan Hilir 8 titik, Kabupaten Kampar 2 titik, Kabupaten Pelalawan 2 titik, Kabupaten Rokan Hulu 13 titik, Kabupaten Siak 10 titik, dan Kabupaten Kuantan Singingi 1 titik.

Sedangkan, kondisi politik dan keamanan juga ditandai dengan berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu lebaran 1434 H. Antara lain, pertama, persoalan rekonsiliasi Syiah-Sunni di Sampang, Madura, Jawa Timur, hal ini karena menurut Ketua MUI Jatim, KH. Abdushomad Bukhori, masih ada resistensi maasyarakat setempat sangat kuat terhadap pengikut paham Syi’ah dan Tajul Muluk sebagai pemimpin mereka telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena menyebarkan paham menyimpang. Next

Halaman 1 2

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(asy/asy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
39%
Kontra
61%