detikcom
Senin, 15/07/2013 18:02 WIB

Pertama di Indonesia, Vonis Mati Dibarengi Pidana Larangan Berkomunikasi

Andi Saputra - detikNews
Freddy (septi/detikcom)
Jakarta - Gembong narkoba pemilik 1 juta pil ekstasi Freddy Budiman akhirnya divonis mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Selain divois mati, Freddy juga dikenai hukuman pidana tambahan dilarang berkomunikasi menggunakan berbagai piranti, dari saat vonis di tingkat pertama.

Pidana tambahan ini merupakan terobosan baru dalam dunia peradilan, khususnya kasus narkoba kelas kakap. Dalam catatan detikcom, pidana tambahan ini merupakan yang pertama di Indonesia.

"Kami mengapresiasi putusan ini, tentunya majelis hakim telah mempertimbangkan dengan masak-masak," kata juru bicara Komisi Yudisial (KY), Asep Rahmat Fajar saat berbincang dengan detikcom, Senin (15/7/2013).

Pada 8 Mei 2012 lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) meringkus sebuah mobil kontainer pengangkut ekstasi di pintu keluar tol Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat. Jutaan pil ekstasi tersebut diimpor langsung dari Shenzen, China.

Ternyata 1.412.476 butir ektasi itu diimpor oleh Freddy yang tengah mendekam di LP Cipinang. Saat digerebek, ditemukan 40 unit hp yang dimililki Freddy untuk menggerakkan aksinya.

"Apalagi HP-HP tersebut sebagai instrumen menjalankan bisnisnya. Tentu majelis hakm telah masak-masak mempertimbangkan hal tersebut," ujar Asep.

Freddy selain divonis pidana mati juga dijatuhi denda Rp 10 miliar. Ketua majelis hakim Aswadi mengatakan, terdakwa dikenakan pidana tambahan karena mengontrol kiriman dari dalam penjara.

"Pidana tambahan, mencabut hak mempergunakan alat-alat komunikasi setelah putusan ini diucapkan," kata Aswandi siang ini dalam pembacaan vonis di PN Jakbar.



Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(asp/fjp)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
46%
Kontra
54%