Senin, 01/07/2013 23:51 WIB

Polisi Tak Temukan Bekas Sperma di Baju Wartawati Diduga Korban Perkosaan

E Mei Amelia R - detikNews
Jakarta - Uji scientific dilakukan aparat Kepolisian Daerah Metro Jaya guna mengungkap pelaku dugaan perkosaan terhadap wartawati sebuah televisi swasta. Visum sementara menunjukkan tidak ditemukan bekas sperma pada baju wartawati tersebut.

"Kita masih menunggu hasil visum selengkapnya. Sementara (visum) secara swipe, tidak ditemukan bekas sperma di pakaian korban, tetapi hanya ditemukan bekas tanah," jelas Kasubdit Umum Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (1/7/2013).

Sekadar untuk diketahui, jalanan di sekitar lokasi kejadian pada malam itu, becek. "Karena habis turun hujan," ucap Herry.

Herry mengatakan, kendati dari temuan sementara polisi masih menemukan kejanggalan, namun pihaknya tetap akan menyelidiki dugaan kasus tersebut. Ia cuma menyesalkan korban yang dinilai kurang kooperatif dalam menyampaikan fakta-fakta di lokasi kejadian.

"Yang jelas, kita masih lanjutkan pelaporan korban itu. Hanya saja kita sesalkan korban tidak terbuka, sampaikan fakta tidak benar, harusnya sampaikan dari awal bahwa korban diantar temannya, tetapi ini tidak," jelas Herry.

Fakta tersebut terungkap, setelah polisi memeriksa saksi terkahir dalam kasus tersebut. Seorang teman laki-laki korban-kamerawan di media yang sama-menyampaikan fakta tersebut kepada penyidik, setelah diinterogasi selama beberapa jam di Mapolda Metro Jaya pada akhir pekan lalu.

"Pengakuan teman korban yang antar ini, pengakuannya dia yang antar, dari kantor antar jam 18.10 WIB (Kamis 20 Juni) dan sampai disitu, mereka pisah," kata Herry.

Usut punya usut, si teman korban ini rupanya sering mengantar korban setelah korban pulang kerja. "Pengakuannya, korban kalau pulang selalu diantar oleh saksi ini. Dari pengakuan saksi, mereka ini pacaran," kata dia.

Entah teman pria korban itu pelakunya, Herry menyatakan pihaknya belum bisa menyimpulkannya. "Teman laki-laki korban ini masih saksi," kata dia.

Polisi juga tentu tidak gegabah menetukan siapa pelakunya. Pasalnya, dari hasil pemeriksaan saksi-saksi dan juga olah TKP serta penemuan bukti-bukti di lapangan, keterangan korban soal dugaan diperkosa itu, masih janggal.

Dari hasil olah TKP di lokasi kejadian, gang sempit yang hanya berukuran lebar 1 meter dan tinggi tembok yang membelah gang berukuran sekitar 2 meter. Bahkan penyidikan lebih diseriuskan lagi, dengan mengulang prarekon hingga 6 kali.

"Kalau berteriak di situ, pasti menggema dan didengar oleh warga sekitar dan menurut warga, dari mulai dibangunnya gang itu sampai sekarang, belum pernah ada kejadian perkosaan di situ," imbuh dia.

Wartawati ini diduga diperkosa di mulut gang samping LIA, Jalan Pramuka, Jakarta Timur pada Kamis (20/6) pukul 18.10 WIB lalu. Hal ini dilaporkan suami korban, setelah menemukan korban tengah menangis di lokasi kejadian. Kepada sang suami, korban mengaku telah diperkosa seseorang yang berbadan tinggi.

Korban juga mengaku dianiaya lebih dulu oleh pelaku, sebelum akhirnya diperkosa, hingga mengakibatkan luka lebam. Korban dalam keterangannya kemudian mengaku disuruh buka baju lalu digagahi di bawah ancaman pelaku.

"Kamu jangan sampaikan ke siapa-siapa, kalau teriak aku cekik sampai mati," demikian ancaman pelaku seperti diakui korban ke penyidik.

Herry memungkaskan, meski dari fakta yang terungkap ini ditemukan beberapa kejanggalan, namun pihaknya tetap menelusuri laporan korban. "Kemungkinan ada pelaku lain, bisa saja," kata dia.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(mei/trq)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%