detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Jumat, 18/04/2014 10:08 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 18/06/2013 11:14 WIB

Arab Saudi Kirim Rudal-rudal Untuk Pemberontak Suriah

Rita Uli Hutapea - detikNews
militan Suriah (Press TV)
Riyadh, - Pemerintah Arab Saudi telah membeli rudal-rudal dari para pemasok di Prancis dan Belgia sejak dua bulan lalu. Rudal-rudal tersebut kemudian dikirimkan ke para pemberontak di Suriah.

Rudal-rudal antipesawat itu dimaksudkan untuk pemimpin oposisi Suriah, Free Syrian Army (FSA), Salim Idriss. Demikian diberitakan kantor berita Reuters, Selasa (18/6/2013).

Sebelumnya, Idriss meminta negara-negara Barat untuk menyediakan rudal-rudal antitank dan antipesawat bagi para militan Suriah. Menurut Idriss, pemberontak bisa mengalahkan militer Suriah dalam waktu enam bulan jika mereka menerima persenjataan yang cukup dan tepat.

Koordinator politik FSA, Louay Meqdad mengatakan, mereka juga akan meminta pesawat tempur, tank-tank dan senjata berat lainnya dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat Barat dan Amerika Serikat yang akan segera digelar di Turki.

Uni Eropa belum lama ini menghentikan embargo senjatanya atas Suriah. Hal ini guna membuka jalan bagi pengiriman senjata untuk para pemberontak yang tengah memerangi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pada 14 Juni lalu, Presiden AS Barack Obama memerintahkan pemerintahannya untuk menyediakan senjata-senjata bagi para militan di Suriah. Persenjataan itu termasuk senapan serbu, granat berpeluncur roket dan rudal-rudal antitank.

Negara-negara Barat dan sekutu Timur Tengah mereka juga berniat menerapkan zona larangan terbang atas wilayah Suriah. Rencana ini sontak memicu kritikan keras dari Rusia.

"Saya pikir pada dasarnya kami tak akan mengizinkan skenario tersebut," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexander Lukashevich.

"Kita melihat contoh soal Libya tentang bagaimana zona tersebut diberlakukan dan bagaimana keputusan tersebut diimplementasi. Kami tak ingin berulangnya hal ini terkait konflik Suriah," tandasnya.


Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(ita/nrl)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%