detikcom

Senin, 10/06/2013 07:58 WIB

Kerusuhan di KJRI Jeddah, Ini Penjelasan KBRI Arab Saudi

Rina Atriana - detikNews
Jakarta - Kerusuhan terjadi di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia KJRI Jeddah, Arab Saudi pada Minggu (9/6/2013) sore. Kerusuhan dilakukan ribuan TKI lantaran pelayanan KJRI yang dinilai tidak maksimal.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur mengatakan kerusuhan terjadi karena ketidaksabaran ribuan TKI untuk mendapatkan pelayanan keimigrasian.

"Loket seharusnya dibuka sekitar pukul 16.00 atau 17.00 sore (waktu setempat), namun hingga pukul 18.00 sore loket tak kunjung dibuka karena cuaca di luar KJRI tidak memungkinkan," ujar Gatot saat dihubungi detikcom, Senin (10/6/2013).

Gatot menjelaskan, pada saat itu ribuan TKI tengah mengantri pengurusan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Kemudian ada provokator yang mengatakan bahwa Minggu (9/6) kemarin adalah waktu terakhir untuk mengurus SPLP, TKI pun panik. Padahal pelayanan masih dibuka hingga 3 Juli 2013 mendatang.

Gatot mengatakan KJRI Jeddah melayani pengurusan SPLP sekitar 4.000-5.000 TKI setiap harinya. Loket baru dibuka pukul 16.00 waktu setempat. Namun, biasanya warga sudah mulai mengantri dari pukul 13.00 waktu setempat, yang menyebabkan warga yang tidak kuat akan jatuh pingsan.

Namun Gatot membantah jika kerusuhan mengakibatkan terbakarnya gedung KJRI. Menurut dia, kerusuhan yang dilakukan para TKI hanya membakar plastik dan melempar batu-batu ke dalam area gedung KJRI.

"Tidak ada (pembakaran gedung Kedubes). Mereka hanya membakar plastik pemisah antrian. Saat kerusuhan terjadi, warga juga sempat melempari kantor KJRI dengan batu. Namun karena batu-batu tersebut berukuran cukup kecil, tidak mengakibatkan kerusakan pada kantor KJRI," tuturnya.

Kerusuhan mulai terjadi pada Minggu (10/6) pukul 18.00 dan massa mulai membubarkan diri sekitar pukul 22.00 waktu setempat


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(rna/rmd)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
74%
Kontra
26%