Senin, 27/05/2013 15:22 WIB

Teroris Poso Badri Hartono Dituntut 14 Tahun Penjara

Septiana Ledysia - detikNews
Jakarta - Terdakwa teroris Poso yang juga pimpinan Al Qaeda Indonesia, Badri Hartono, dituntut 14 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum. Badri terbukti sebagai otak sejumlah kasus terorisme di Indonesia.

Menurut Jaksa Penuntut Umum, Rini Hartatie, tuntutan diberikan sesuai dengan pasal 15 Junto 7 dan pasal 15 junto 9 peraturan pegganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak terorisme, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

"Thorik (terdakwa teroris Tambora) hanya anak buah. Badri ini adalah otak terorisnya. Jadi tuntutan yang kami berikan ini sudah sesuai dengan rasa keadilan," ungkap Rini, saat ditemui usai persidangan di Ruang Sidang Mudjono, Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (27/5/2013).

Hartati mengatakan, tindak terorisme yang dilakukan oleh Badri juga diberatkan karena telah mengganggu ketertiban umum, serta menimbulkan ancaman bagi masyarakat. Selain itu, Badri juga menjadi penggagas dalam bom di Solo, Jakarta, dan Poso.

"Terdakwa ingin menjadikan Poso sebagai ladang jihad. Karena itu, Badri melakukan keonaran di Solo dan Jakarta untuk mengalihkan konsentrasi pihak kepolisian agar anggota di Poso bisa memperkuat wilayahnya," ujarnya.

Kuasa hukum terdakwa, Willy Mustam setelah mendengar tuntutan tersebut akan melakukan pledoi atau pembelaan. "Kita akan berikan pembelaan pada sidang selanjutnya," ujarnya.

Badri Hartono alias Tono alias Toni adalah pimpinan kelompok Al-Qaeda Indonesia yang dibentuk bulan September 2011. Bersama anggotanya, Badri pernah mengikuti pelatihan untuk merakit bom di Poso, Sulawesi Tenggara. Keberadaan jaringan ini terungkap saat terjadi ledakan di sebuah rumah di Jalan Nuisantara, Beji, Depok, Jawa Barat, awal September 2012. Pada bulan yang sama, Badri berhasil ditangkap Densus 88 di Desa Gritsn, Kelurahan Pajang, Laweyen, Surakarta.

Badri juga terlibat dalam bom JW Marriott tahun 2009, dengan memberikan bantuan berupa dana, merekrut orang untuk dijadikan binaan, hingga mencarikan kontrakan untuk pelaku pemboman Mariott yakni kelompok Nurdin M Top dan Urwah, yang meninggal dalam baku tembak dengan Densus 88.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(spt/rmd)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
67%
Kontra
33%