Detik.com News
Detik.com

Senin, 27/05/2013 11:39 WIB

Menerawang Nasib Partai Islam di Pemilu 2014

Abdul Hakim MS - detikNews
Halaman 1 dari 3
Menerawang Nasib Partai Islam di Pemilu 2014
Jakarta - Mengacu pada perjalanan biologis partai-partai yang perolehan suaranya lolos parliementary threshold pada Pemilu 2009, kita bisa membelah tipologi partai politik di Indonesia menjadi dua golongan utama. Kelompok pertama adalah kumpulan partai politik yang suaranya terus tumbuh dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Sementara kelompok kedua adalah kumpulan partai politik yang suaranya terus menipis dari waktu ke waktu.

Untuk golongan pertama, hanya ada dua partai politik, yaitu Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai Demokrat, saat pertama kali ikut pemilu pada 2004 langsung dapat merangsek dengan perolehan suara 7,45%. Bahkan pada Pemilu 2009, Partai Demokrat malah menjadi pemenang pemilu dengan perolehan suara sebesar 20,85%.

Begitu pula dengan PKS. Pada pemilu pertamanya di tahun 1999, kala itu masih bernama Partai Keadilan (PK), mendapatkan suara sebesar 1,36%. Pada pemilu 2004, PK yang sudah berganti nama menjadi PKS memperolehan suara 7,34%. Pada pemilu 2009, meski tak banyak, perolehan suara PKS tetap naik menjadi 7,88%.

Sementara golongan partai politik kedua adalah Partai Golkar, PDIP, PPP, PAN dan PKB. Keempat parpol ini suaranya terus menurun sejak masa reformasi bergulir. Partai Golkar, pada Pemilu 1999, 2004 dan 2009 perolehan suaranya adalah 22,45%; 21,58% dan 14,45%. PDI-P, 33,75%; 18,53% dan 14,03%. PPP, 10.72%, 8.15% dan 5.32%. PAN, 7,12%; 6,44% dan 6,01%. Terakhir PKB, 12,61%; 10,57%; 4,94%.

Sejatinya, masih ada dua partai politik lagi yang lolos parliemanetary threshold pada pemilu 2009, yakni Partai Gerindra dan Partai Hanura. Akan tetapi karena Pemilu 2009 merupakan yang pertama kali diikuti, perolehan suara kedua partai ini belum bisa diuji. Ketika itu, Partai Gerindra bisa memperoleh suara sebesar 4,46% sementara Partai hanura menggamit suara sebesar 3,77%.

Titik Balik?

Akan tetapi, di awal tahun 2013, Partai Demokrat dan PKS betul-betul dihatam badai prahara. Jargon anti korupsi yang diusung keduanya pada Pemilu 2009 seolah menjadi ironi. Pucuk pimpinan kedua partai ini malah berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus rasuah yang mengakibatkan rontoknya citra. Next

Halaman 1 2 3

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(nwk/nwk)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%