detikcom
Senin, 20/05/2013 07:21 WIB

Kisah Luthfi Hasan di Tukang Cukur

Salmah Muslimah - detikNews
Jakarta - Luthfi Hasan Ishaaq didera kasus korupsi. KPK menetapkannya menjadi tersangka dalam kasus suap impor daging sapi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Terlepas dari kasus hukum, Luthfi punya kehidupan keseharian.

Salah satu pegawai tempat cukur rambut khusus laki-laki (Barbershop) yang menjadi langganan Luthfi di dekat rumahnya di Jl Samali, Pasar Minggu, Jaksel, punya kesan tersendiri terhadap mantan presiden PKS itu. Ujang, pria yang biasa mencukur rambut ini awalnya tidak tahu jika Luthfi adalah presiden PKS. Rumah Luthfi hanya berjarak 300 meter dari tempat tukang cukur itu.

"Awalnya saya enggak tahu kalau Pak Luthfi presiden PKS," kata Ujang kepada detikcom sambil menggunting rambut pelangganya di barbershop, Sabtu (18/5).

Ujang mengatakan, biasanya Luthfi ke sini tidak hanya untuk memotong rambut, terkadang juga untuk sekedar bersilaturahmi.

"Ya sering cukur disini, rambut kadang jenggot juga. Atau cuma sekedar duduk-duduk," ucap Ujang.

Menurut Ujang, percakapan yang biasa menjadi obrolan keduanya lebih kepada seputar kegiatan sehari-hari. "Basanya ngobrol mau kemana atau dari mana," ujar Ujang.

Terakhir Ujang melihat Luthfi Januari lalu, beberapa waktu sebelum ditangkap KPK. Menurutnya Luthfi orang yang ramah. "Waktu itu yang nyukurin Pak Luthfi, teman saya," kata Ujang.

Rumah Luthfi hanya berjarak sekitar 300 meter dari Barbershop Ujang, biasanya Luthfi selalu dibonceng dengan motor oleh satpam rumahnya. Berbershop ini berukuran sekitar 5 x 7 meter dan full AC. Harga satu kali potong rambut relatif murah yakni Rp 20 ribu.


Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(slm/ndr)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
62%
Kontra
38%