detikcom

Minggu, 19/05/2013 12:24 WIB

Korban Diperkosa Geng Motor Klewang Karena Tak Bayar 'Pajak Preman'

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Markas Geng Klewang di Stadion/Chaidir-detikcom
Pekanbaru - Pemerkosaan oleh geng motor sadis pimpinan Klewang (58) ternyata dipicu persoalan sepele. Penyebabnya, korban bersama pacarnya tak mau bayar 'pajak preman' di kawasan Stadion Utama Riau.

"Selama ini kelompok geng Klewang selalu memalaki siapa saja yang berpacaran. Karena mereka tak mau membayar, makanya cowoknya menjadi sasaran pengeroyokan dan kekasihnya diperkosa," kata Kasat Reskrim Poltabes Pekanbaru Kompol Arief Fajar, Minggu (19/5/2013) di Pekanbaru.

Peristiwa pemerkosaan itu terjadi pada Senin (6/5/2013) sekitar pukul 22.00 WIB. Korban saat itu tengah berpacaran dengan Hendra di kawasan stadion. Saat geng motor Klewang datang meminta 'uang retribusi' masuk kawasan stadion, mereka menolak.

Tersangka kejahatan ini telah dibekuk yaitu Fitra Zakaria, Ari Zulkarnain, dan Roby. Sedangkan Yogi dan Jefry buron.

Kawanan bandit ini juga merampas sepeda motor Yamaha Mio milik korban Hendra. Mereka juga melucuti cincin emas, dompet, dan HP. "Hasil rampasan ini diserahkan ke Klewang," kata Kompol Arief Fajar.

Kapolresta Pekanbaru Kombes Adang Ginanjar menyatakan, korban pemerkosaan masih mengalami trauma.

"Korban masih trauma yang kadang masih mau menjerit sendiri. Korban masih banyak murung dan menangis. Jadi kita memang belum bisa banyak mengorek keterangannya," kata Adang.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(cha/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Kebijakan Ahok Larang Pemotor Masuk HI Digugat

Kebijakan Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok yang melarang kawasan HI hingga Medan Merdeka Barat akan digugat. Kebijakan itu dinilai diskriminatif. Bagaimana menurut Anda? Bila Anda setuju kebijakan itu digugat pilih Pro. Bila tidak setuju kebijakan itu digugat pilih Kontra.
Pro
61%
Kontra
39%