QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Minggu, 20/04/2014 01:08 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Rabu, 01/05/2013 20:31 WIB

Suara anak muda bisa tentukan hasil pemilu Malaysia

BBCIndonesia.com - detikNews
Semuanya berawal dari apa yang disebut sebagai tsunami politik ketika oposisi berhasil mengurangi kursi mayoritas Barisan Nasional di pemilu 2008.

Kesuksesan oposisi membuat ketertarikan anak-anak muda terhadap politik makin besar.

Dan anak-anak muda ini bisa menentukan hasil pemungutan suara yang digelar pada 5 Mei.

Jumlah pemilih muda, yang untuk pertama kalinya mencoblos di pemilu, tidak kurang dari 2,6 juta.

Ibrahim Suffian, direktur lembaga jajak pendapat Merdeka Center, mengatakan jumlah pemilih yang berusia di bawah 30 dan 40 tahun telah menembus angka 50%.

"Jumlah mereka yang sangat besar ditambah dengan akses mereka ke internet bisa mengurangi kekuatan Barisan Nasional dalam mempengaruhi pilihan dalam pemilu," kata Suffian kepada BBC Indonesia.

Oposisi mengatakan pemilih baru bisa menjadi Faktor X dan membantu mengantarkan oposisi menyingkirkan Barisan Nasional untuk pertama kalinya sejak Malaysia merdeka pada 1957.

Twitter dan konser gratis

Pemilu Malaysia 2013

Barisan Nasional juga berupaya merangkul suara anak-anak muda.

"Saya tahu apa yang diinginkan anak-anak muda. Mereka ingin perubahan," kata Bukhairy, mahasiswa di Universitas Malaya, kepada kantor berita Reuters.

Khairani Razak, mahasiswa di kampus yang sama, juga menegaskan keinginan anak-anak muda melihat perubahan mendasar di Malaysia.

Menurut jajak pendapat, anak-anak muda berusia 20-30 tahun adalah kelompok yang paling tidak puas dengan kinerja pemerintah. Sementara survei yang dilakukan Universitas Malaya pada Januari lalu menunjukkan 52% anak-anak muda mendukung aliansi oposisi, Pakatan Rakyat.

"Hal-hal yang dianggap penting bagi mereka adalah transparansi, tata kelola pemerintahan yang baik, dan korupsi," kata James Chin, pemerhati politik dari Universitas Monash Malaysia.

Di sektor-sektor ini kinerja pemerintah dianggap tidak memuaskan.

PM Najib Razak mencoba menaikkan citra di kalangan anak-anak muda dengan aktif di sosial media Twitter.

Barisan Nasional juga beberapa kali menggelar konser gratis, antara lain dengan mendatangkan bintang internasional seperti Psy dari Korea Selatan.

Oposisi sementara itu berupaya menggaet suara dengan menjanjikan kuliah gratis.

Genderang perang memperebutkan suara pemilih muda sudah ditabuh dan di tangan mereka arah sejarah mereka bisa ditentukan.

(bbc/bbc)

Berita Terbaru Indeks Berita ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%