detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Jumat, 18/04/2014 12:34 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Senin, 29/04/2013 13:23 WIB

Babak Baru Islam Amerika

Rusdianto - detikNews
Halaman 1 dari 4
dok detikcom
Jakarta - Katakan sesungguhnya, apapun yang kalian perbuat adalah keadilan bagi semua orang. Begitulah pandangan dunia sebagai subjek kebijakan Amerika Serikat semasa Presiden George Walker Bush dan Barack Obama. Namun tidak bagi para predator yang menyebut dirinya teroris.

Opini dan pendapat mereka, justru AS yang selama ini menjadi pemicu penyebaran terorisme di seluruh seantaro dunia. Berawal dari spekulasi kebijakan Bush pasca tragedi 11 September 2001 yang menuduh Irak sebagai pusat terorisme dan memiliki senjata pemusnah massal. Isu itu pun ilusi, terbukti dalam perjalanan waktu bahwa AS tidak bisa buktikan sama sekali tuduhan mereka. Hingga akhirnya rezim Saddah Husein hancur dan di hukum mati. Legenda 9/11 berkontemplasi di tengah harapan perdamaian penuh kecemasan karena hubungan antara Islam dan Kristen sebagai new symbol dalam tahapan berfikir para penganut agama dan kekuasaan saat itu kian renggang.

Menurut Sumiati Anastasia (Jawa Pos, 17/4), pasalnya AS di bawah komando Bush menganggap Osama Bin Laden pertama kali berbasis di Irak sebagai komponen gerakan radikal yang mewakili Islam. Osama juga berbalik menuduh Bush dan bangsa Amerika sebagai crusader yang mewakili kekristenan. Padahal, jujur, melihat akan persoalan terorisme dan fenomena radikalisasi di belahan dunia, itu jelas tidak lepas dari kebijakan invasi Afganistan dan Irak pasca tragedi 9/11 itu.

Bagi tokoh agama kita seperti KH H Hasyim Muzadi dan delegasi lintas agama notabene menolak perang, melawat ke Vatikan Roma, berdialog agar dapat menghentikan rencana agresi militer AS ke Afganistan dan Iran. Mendiang Paulus Yohannes II mengatakan kepada para tokoh agama di dunia “perang merupakan kekalahan terbesar bagi kemanusiaan dan sekaligus bagi agama-agama” (The Jakarta Post 21 Februari 20013).

Paus sebagai juru damai juga mengingatkan kepada Bush bahwa perang itu akan jadi preseden buruk bagi masa depan dunia terutama Islam dan Kristen. Bush, menurut istilah George Soros dalam 'Buble of American Supremacy', telah membajak tragedi 9/11 untuk mengagresi Irak. Padahal tak ada bukti dan kaitan Al Qaeda dan rezim Saddam Husein.

Toh, Bush tetap menyetir mesin perang AS, melakukan agresi, war to terrorism sembari mengajak Inggris sebagai sekutu setia dalam memburu kelompok Islam radikal di mana pun berada. Sampai berlanjut pada masa presiden Obama awal tahun 2012 lalu yang berhasil menembak mati Osama bin Laden dalam penyerangan di Islamabad, Pakistan. Namun bagi dunia muslim bersama agama lain, rasa was-was kembali menyesakkan dada, kendati program deradikalisasi AS ke berbagai negara dan kerjasama membentuk satuan pemburu teroris di setiap negara (Indonesia disebut Densus 88) merangsang kembali tumbuh kelompok radikal yang suatu saat mengancam dunia dan Amerika Serikat sendiri.

Buktinya, di sepanjang negara Timur Tengah tiada hari tanpa bom bunuh diri berkekuatan besar seperti Iraq, Afganistan, Arab Saudi, dan Libya. Peran Amerika Serikat dalam perang Irak dan Afganistan disebut sebagai motif pelaku peledakan di Maraton Boston pekan lalu. Fakta ini merupakan hasil pemeriksaan awal terhadap tersangka Dzhokhar Tsarnaev. (kompas.com, 24/04/2013)Next

Halaman 1 2 3 4

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(nwk/nwk)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%
MustRead close