detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 09:06 , Sumber : Radio Republik Indonesia

Senin, 08/04/2013 12:33 WIB

Catatan Agus Pambagio

Menunggu MRT = Menunggu Godot

Agus Pambagio - detikNews
Halaman 1 dari 3
Jakarta - Kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta, meski sudah berganti gubernur, ternyata tak kunjung ada terobosan. Paling tidak muncul konstruksi pembangunan proyek transportasi. Pembenahan transportasi hanya terlihat signifikan dilakukan PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui pembenahan infrastruktur Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek (sterilisasi stasiun, penambahan rangkaian, perbaikan sistem ticketing dan sebagainya).

Tingginya pergerakan manusia di Jakarta dan sekitarnya (sekitar 25 juta pergerakan/hari) serta tidak terintegrasinya angkutan umum dengan baik dan nyaman membuat kemacetan di Jakarta semakin parah. Bahkan nyaris berhenti total (gridlock) di hari-hari tertentu dari pagi buta hingga tengah malam. Untuk menanggulangi kemacetan di dalam kota Jakarta diperlukan sistem angkutan umum berbasis rel dengan kemampuan angkut yang besar, sebagai backbone angkutan umum.

Sistem KRL Jabodetabek belum mencukupi, sehingga dibutuhkan sistem angkutan umum berbasis rel lain, seperti Mass Rapid Transit (MRT) yang tak kunjung terbangun meski sudah lebih dari 30 tahun terus dibahas. No Action Talk Only. Sementara negara tetangga dengan sedikit bicara sudah membangun sistem angkutan masal berbasis rel yang lengkap berikut dengan angkutan pengumpan dan penangkapnya.

MRT Jakarta sebenarnya sudah nyaris mulai konstruksi akhir tahun lalu tapi kembali urung karena Gubernur baru DKI Jakarta (Jokowi) ragu. Rapat demi rapat, konsultasi demi konsultasi bahkan sampai mengganti direksi dan studi banding ke Singapura, tetap saja tak jelas juntrungannya. Menunggu MRT serasa menunggu Godot.

Persoalan Demi Persoalan

Pembangunan atau konstruksi MRT Jakarta tahap I, Lebak Bulus – Bunderan HI/Hotel Pullman seharusnya sudah dimulai akhir tahun 2012 lalu. Namun pada bulan Oktober terjadi pergantian gubernur. Jokowi sebagai gubernur baru ingin mendengarkan berbagai masukan sebelum memutuskan apakah MRT Jakarta dilanjutkan atau tidak.

Jokowi kemudian menunda pengumuman kontraktor pemenang ruas underground karena ada 4 (empat) pertanyaan kunci yang harus dijelaskan padanya, yaitu terkait return on investment (ROI), biaya konstruksi/km, mengapa bentuk pinjamannya tied loan dan masalah legal kontrak.Next

Halaman 1 2 3

Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(asy/asy)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%