detikcom

Senin, 01/04/2013 16:50 WIB

Ini Pesan Polda Terkait Penipuan Polisi Gadungan Lewat Telepon di Depok

Danu Damarjati - detikNews
Jakarta - Polda Metro Jaya meminta warga tak mudah percaya dengan telepon dari petugas yang menyatakan salah seorang anggota keluarganya tertangkap petugas. Hal ini terkait dengan kasus polisi gadungan yang menipu Tuti Rustini (61) lewat telepon dengan mengatakan anaknya tertangkap kasus narkoba.

"Kalau ada urusan-urusan begitu langsung ke kantor polsek terdekat, jangan langsung percaya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (1/4/2013).

Rikwanto mengatakan, modus penipuan menggunakan telepon memang sudah sering terjadi biasanya pelaku penipuan mengatakan kalau keluarga korbannya mengalami kasus narkoba. Mereka kemudian meminta uang agar anggota keluarga korban bisa dibebaskan.

"Biasanya mereka juga menelepon kalau keluarganya kecelakaan dan juga kadang meminta pulsa," katanya.

Penipuan itu menimpa Tuti pada Minggu (31/3/2013). Saat itu Tuti mendapatkan telepon dari seorang yang mengaku anggota polisi. Anggota itu mengatakan putranya yang bernama Alfi ditangkap petugas karena kedapatan membawa narkoba.

Mendapat kabar itu Tuti panik. Tuti kemudian mengikuti perintah polisi gadungan itu untuk mentransfer uang ke sebuah rekening untuk membebaskan anaknya. Jumlah uang yang ditransfer sejumlah Rp 6 juta.

Tuti baru sadar kena tipu saat dirinya bisa menghubungi anaknya, ternyata anaknya baik-baik saja dan tidak ditangkap polisi.




Siapa sangka, ada profesi sebagai pencicip minuman keras oplosan. Saksikan "Reportase Sore" TRANS TV tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(nal/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Kebijakan Ahok Larang Pemotor Masuk HI Digugat

Kebijakan Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok yang melarang kawasan HI hingga Medan Merdeka Barat akan digugat. Kebijakan itu dinilai diskriminatif. Bagaimana menurut Anda? Bila Anda setuju kebijakan itu digugat pilih Pro. Bila tidak setuju kebijakan itu digugat pilih Kontra.
Pro
55%
Kontra
45%