detikcom

Rabu, 27/03/2013 17:37 WIB

Cerita Wiranto Saat Jadi Ajudan Soeharto, Santap Telur Ikan Rp 5 Juta

Ari Saputra - detikNews
Foto: Ari Saputra (detikcom)
Jakarta - Seberapa mahal makanan yang pernah Anda makan dalam satu piring? Kalo hanya hitungan satusan ribu rupiah per porsi, itu biasa. Namun kalau sampai Rp 5 juta/porsi mungkin bisa membuat geleng-geleng siapa saja.

Apalagi kalau satu porsi itu hanya dalam ukuran mangkok kecil, lebih kecil dari semangkok bakso.

Nah, Mantan Pangab Jenderal (Purn) Wiranto mengaku sempat merasakan makanan itu saat menjadi ajudan Presiden Soeharto pada era 90an. Namun, Wiranto kurang sreg meski makanan itu sangat mahal. Ia justru teringat Nasi Rawon Mbah Lemu di Malang yang ia bilang lebih enak.

"Saat saya ke Jepang, menunya menu makanan Jepang. Saya tanya, yang paling mahal yang mana. Setelah disajikan kecil sekali barang itu, Caviar namanya. Ternyata mahal. Sekali dimakan, hilang. Nasi Rawon Mbah Lemu di Malang lebih enak. Namanya juga orang desa seperti saya," kata Wiranto, dalam Kuliah Umum Soegeng Surjadi Syndicate (SSS) di di Jakarta, Rabu (27/3/2013).

Caviar memang terkenal menu yang supermahal untuk ukuran orang biasa. Saat ini, satu porsi Caviar dapat mencapai Rp 5 juta / mangkok kecil. Caviar merupakan telur ikan terubuk (sturgon fish) yang diasinkan.

Caviar menjadi mahal karena sang ikan butuh waktu 10 tahun untuk menghasilkan telur tersebut. Terlebih, ikan terubuk merupakan spesies yang dilindungi sehingga berhati-hati saat menangkap.

Kenikmatan lain yang Wiranto peroleh saat dekat dengan Istana yakni berbagai fasilitas mewah seperti sedan mewah anti peluru, dengan kaca setebal 5cm. Karena begitu nyaman dan kedap suara, dia sampai tidak tahu bahwa mobil sudah dinyalakan tanpa terdengar bunyi mesin.

"Saya tanya ke sopir, ini sudah di-starter belum, kok nggak bunyi, mobil tidak kedengaran. Artinya memang enak. Apalagi ajudan berada di depan, presiden di belakang saya," tuturnya.

Wiranto lantas mengambil kesimpulan bahwa kenikmatan yang dia dapatkan bersifat sementara. Bahkan, begitu memakan makanan Jepang itu, dia merasa lebih nikmat makanan kampung.

"Jangan terkecoh dengan fasilitas, karena hanya berupa instrumen bagi seorang presiden agar fokus atas tugas yang dilakukannya," lanjut dia.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(Ari/fdn)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%