detikcom
Selasa, 26/03/2013 13:31 WIB

Konflik Sektarian Terbaru di Myanmar Renggut 40 Nyawa

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
AFP
Yangon - Korban tewas dalam konflik sektarian terbaru yang terjadi Myanmar terus bertambah. Sejauh ini korban tewas sudah mencapai 40 orang, seiring adanya temuan 8 jasad dari reruntuhan kerusuhan di pusat kota Yangon.

Konflik sektarian yang terbaru ini semakin memperburuk ketegangan antara umat Buddha dan Muslim di Myanmar. Dalam pernyataannya di televisi setempat, pemerintah Myanmar mengimbau warganya untuk mengakhiri ekstremisme beragama yang justru semakin memicu konflik.

Seperti dilansir AFP, Selasa (26/3/2013), konflik terbaru ini dipicu oleh pertengkaran di salah satu toko emas setempat yang dimiliki seorang warga muslim pada Rabu (20/3) lalu. Adu mulut tersebut beralih menjadi aksi saling serang dan bentrokan hingga melibatkan 200 orang di wilayah Meiktila.

Massa yang terlibat bentrokan dilaporkan membawa senjata, termasuk sejumlah biksu setempat. Mereka turun ke jalanan dan melakukan aksi pembakaran dan perusakan. Sejumlah masjid menjadi target pembakaran. Sedangkan seberapa rumah warga di wilayah Meiktila pun menjadi sasaran perusakan massa.

Bentrokan ini memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Bahkan sejumlah saksi mata mengakui dirinya melihat sejumlah jasad tergeletak begitu saja di jalanan kota Meiktila pascabentrokan.

Media setempat, New Light Of Myanmar, melaporkan aparat setempat berhasil mengevakuasi 8 jasad korban dalam operasi pembersihan yang dilakukan akhir pekan kemarin. Puluhan orang ditahan aparat setempat terkait bentrokan ini.

Bentrokan ini disebut-sebut sebagai yang terparah pascakekerasan sektarian di Rakhine, tahun lalu, yang menewaskan sedikitnya 180 orang dan memaksa lebih dari 110 ribu orang mengungsi.

Media setempat melaporkan, konflik serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lainnya, salah satunya di Yamethin dekat Naypyidaw yang berimbas pada kerusakan 40 rumah warga dan sebuah masjid setempat.

Laporan surat kabar New Light Of Myanmar menyebutkan keberadaan kelompok tertentu di balik kekerasan sektarian di Myanmar ini. Menurut mereka, kelompok ini tidak ingin melihat stabilitas dan perdamaian di Myanmar sehingga berusaha keras untuk menciptakan kekacauan di Yangon.


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(nvc/mad)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
68%
Kontra
32%