Detik.com News
Detik.com
Kamis, 14/02/2013 19:29 WIB

Wali Kota Palembang Lapor Polisi Soal Video 'Panas' Istri Muda

Taufik Wijaya - detikNews
Wali Kota Palembang Lapor Polisi Soal Video Panas Istri Muda Bukti-bukti pelaporan Wali Kota Palembang (Foto: taufik wijaya/detikcom)
Palembang - Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra merasa namanya tercoreng. Video yang menayangkan istri keduanya saat menjadi model tersebar di Youtube. Muncul juga akun Facebook palsu yang mengatasnamakan istrinya, Eva Ajeng. Eddy pun menempuh jalur hukum.

Laporan dilakukan kuasa hukum Eddy, Nazori Do'ak Achmad ke Mapolda Sumatera Selatan, Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Kamis (14/2/2013). Laporan diterima AKP Firniyanto dengan nomor TBL./107/II/2013/SPKT.

"Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra melaporkan tindak pidana pencemaran nama baik terkait dirinya dan istrinya," kata Nazori Doak
Achmad kepada wartawan.

Eddy meminta polisi menyelidiki pelaku penyebaran video dan pembuat akun FB palsu. Tindakan itu dinilai melanggar UU ITE.

Dalam laporan, Do'ak membawa bukti berupa selebaran, CD yang berisi video, akun palsu di FB atas nama "Eva Ajeng", "Eva Ajeng Permana", "Eva Ajeng Mantap" dan video di Youtube.

Ada juga bukti 10 amplop yang berisi uang Rp 40 ribu per amplop, satu lembar selebaran, serta satu CD video. "Barang bukti ini dibagikan ke massa pada saat unjuk rasa di Polda Sumsel dan kantor Wali Kota Palembang terkait soal perceraian Eddy Santana Putra," kata Doak.

Eddy menduga penyebaran selebaran, video, dan lain-lain itu merupakan kampanye hitam dari lawan politik. Apalagi saat ini Eddy bersiap maju dalam Pilgub Sumsel.

Dalam video dan akun FB, Eva Ajeng tampak mengenakan bikini. Setting pemotretan berada di kolam dan tempat terbuka. Eva merupakan mantan model asal Bogor dan pernah bermain di beberapa sinetron.

Pernikahan Eddy dan Eva tidak mulus. Istri pertama Eddy, Srimaya Hariyanti, tidak terima diceraikan pada 2011 lalu. Di pengadilan agama, Srimaya kalah. Ia tidak berhenti dan menempuh langkah terakhir, yakni mengajukan memori kasasi ke MA. Srimaya juga pernah mengadu ke Komnas HAM.



Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(tw/try)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%