detikcom
Kamis, 07/02/2013 17:20 WIB

Kasus Sandal Jepit, Dosen UGM Akhirnya ke Imigrasi Pakai Sepatu

Bagus Kurniawan - detikNews
Halaman 1 dari 2
Yogyakarta - Meski sempat ditolak gara-gara memakai sandal jepit saat mengurus paspor di Kantor Imigrasi Yogyakarta, Dosen UGM Oce Madril akhirnya memilih memakai sepatu untuk menyelesaikannya.

Oce kemudian menuju Kantor Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM) di kompleks Bulaksumur, Yogyakarta untuk mengambil sepatu. Sebab setiap hari dari rumah hanya mengenakan sandal jepit saja. Sedangkan sepatunya ditaruh di kantor Pukat UGM.

"Saya memakai sepatu ketika hendak mengajar atau ke kantor Pukat. Dari rumah hanya pakai sandal. Memang tadi pagi saya dari rumah hanya pakai sandal jepit saja, seperti biasa," ungkap Oce Madril saat melaporkan kasusnya di kantor Ombudsman Perwakilan Yogyakarta di Jl Wolter Monginsidi, Kamis (7/2/2013).

Dia ke kantor Imigrasi untuk mengurus paspornya yang hilang karena dicuri. Sebab dia akan pergi ke luar negeri lagi. Pagi itu dia dari rumah langsung menuju kantor Imigrasi di jl Solo, Maguwo, Sleman untuk mengurus paspor dengan membawa semua dokumen lengkap.

"Karena paspor saya hilang, akan di BAP dulu oleh petugas," kata Oce menceritakan kronologi penolakan memakai sandal jepit.

Saat masuk, dia sempat diingatkan oleh seorang petugas yang menyatakan tidak boleh. Oce pun sempat berkilah dengan alasan hanya sebentar untuk wawancara saja.

Dia pun kemudian masuk dan akan dilakukan wawancara oleh petugas Imigrasi bernama Teja Harso Pamungkas. Namun karena paspornya hilang, oleh petugas kemudian dibuat BAP lebih dulu oleh petugas bernama Asmawi.Next

Halaman 1 2

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(bgs/ndr)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 02/10/2014 14:12 WIB
    Ridwan Hasan Saputra: Matematika Sulit, Itu Fitnah
    Gb Pekan lalu, media sosial dihebohkan menyusul kabar tentang tugas matematika seorang siswa sekolah dasar bernama Habibi, yang mendapat nilai merah dari gurunya. Habibi disalahkan sang guru karena menuliskan bahwa 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4x6, bukan 6x4.
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
59%
Kontra
41%